Bab. 4 Hari Pernikahan

1057 Kata
Sinar mentari mulai beranjak naik menuju singgasananya di atas dunia. Embun di setiap permukaan daun pun belum mengering benar. Sebab, suhu udara masih cukup rendah sehingga menunjang kelembaban udara yang cenderung naik. Namun, dinginnya hari ini tak menyurutkan semangat warga Setieng di Kabupaten Wonosobo untuk melakukan aktivitasnya. Apalagi beberapa diantaranya tengah mempersiapkan pernikahan kecil yang akan dilaksanakan oleh Mulin dan Kinan di masjid desa. Jadi, semua masyarakat bekerja sama untuk kelancaran acara yang mendadak itu. Ada yang membersihkan masjid, Mempersiapkan speaker, dan juga merias Kinan. Walau pernikahan ini hanya pernikahan siri, tapi yang menjalankan adalah anak dari keluarga orang penting di desa ini. Makanya mereka tetap merayakannya semaksimal mungkin. Di dalam kamarnya, Kinan sedang dirias oleh seorang perias pengantin yang cukup tenar di wilayah kota kecil itu. Beberapa temannya pun berkumpul untuk menyaksikan prosesi pernikahan mereka berdua. Namun, karena acara belum dimulai maka mereka pun berkumpul di dalam kamar Kinan sambil menonton proses periasan itu selesai. "Piye perasaanmu Ki. Deg-degan ndak?" (Gimana perasaanmu Ki. Deg-degan tidak?) canda teman Kinan yang memakai baju gamis biru. Dia yang sedang duduk di atas tempat tidur bersama kedua sahabatnya, memandang lurus ke arah Kinan yang sedang dipoles make-up. Kinan yang sedang dirias pun hanya tersenyum. "Kowe piye tho. Wes mesti tho Kinan deg-degan. Kan arep mbojo sama pujaan tersayang," (kamu tuh gimana. Jelas dong Kinan deg-degan. Kan akan menikah dengan pujaan tersayang.) balas teman Kinan yang berbadan gemuk. "Eh, si Sari nangis terus lho Ki. Ngerti kowe arep mbojo karo Mulin," (Eh, si Sari menangis terus lho, Ki. Tau kamu mau nikah sama, Mulin.) ujar teman Kinan yang tidak memakai kerudung. "Yo, wes ben tho. Lagian aku kan ndak merebut Mas Mulin. Dia yang suka sama aku. Aku juga suka sama dia. Jadi, apa salahnya kita menikah," (Ya biarin aja. Kan aku tidak merebut Mas Mulin. Dia yang suka sama aku. Aku juga sama dia. Jadi, apa salahnya kita menikah.) balas Kinan. Karena sang perias sedang menata rambutnya. Jadi, dia bisa menyahut ucapan sahabatnya itu. "Nah, betul iku. Biarin aja Sari nangis gero-gero. Rasakno. Bungah atiku. Kebales lara atiku pas jaman semono Sari ngrebut Mas Sutisna," (Nah, benar itu. Biarin saja Sari menangis sesegukan. Rasakan. Senang hatiku. Terbalas sakit hatiku saat dulu Sari merebut Mas Sutisna) sahut si wanita bergamis biru. "Wulan. Wulan. Dendammu, dendam kesumat tho," ujar si tak berkerudung. "Yo ben tho Ras. Kowe nek dadi aku yo ngono kok," (Biarkan saja Ras. Kami kalau jadi aku juga begitu kok) timpal Wulan pada Rasti. Cewek tak berkerudung tadi. Kinan pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Kedua temannya itu memang paling suka membicarakan cowok. Sedang Kinan dan Mina yang berbadan paling gempal diantara empat sekawan itu, lebih suka membicarakan masakan dan makanan. "Wes. Wes. Kinan wes rampung rias. Ayo! Acarane arep mulai!" (Sudah. Sudah. Kinan sudah selesai meriasnya. Ayo! Acaranya hampir mulai.) sela Mina sambil beranjak. Kedua sahabatnya pun langsung beranjak juga. "Wah. Wah. Wah. Kinan ayu tenan yo," (Kinan cantik sekali ya) ucap Wulan dengan pandangan takjub saat menatap wajah Kinan yang begitu cantik dengan riasan khas pengantin adat Jawa lengkap dengan rangkaian bunga melati kuncup di kepala. Sedang di badannya memakai kebaya payet putih panjang berpadu dengan bawahan batik berwarna gold yang dibentuk meruncing di bagian bawahnya. Serta di kakinya menggunakan selop yang berwarna hitam dengan hiasan payet berwarna keemasan. "Iyo-yo. Eh, selfie sek yuk! Biar kita punya kenang-kenangan. Sapa ngerti bar iki Kinan diboyong ming kota," ( Iya-ya. Eh, selfie dulu yuk! Biar kita punya kenang-kenangan. Siapa tau setelah ini Kinan diboyong ke kota) ujar Rasti sambil mengeluarkan ponsel pintar dari dalam saku bajunya. Untuk beberapa kali mereka pun jeprat-jepret dengan berbagai gaya. Sampai-sampai mereka lupa waktu saking asyiknya foto-foto. "Ehemz." Juragan Parno pun berdehem dan langsung membuat keempat cewek itu menoleh. "Eh, Juragan," ujar Rasti, Mina dan Wulan kompak. "Wes rampung foto-fotone?" (Udah selesai foto-fotonya?) tanyanya dengan nada menyindir. Keempat wanita itu pun hanya nyengir kuda. "Cepet ke masjid. "Ayo ke masjid. Pak Kyai wes ngenteni," (Cepat ke masjid. Pak Kyai sudah menunggu) lanjutnya. "Inggih, Pak. Kinan ugi badhe mrika," (Iya, Pak. Kinanti juga akan kesana) jawab Kinan. Lalu mereka pun berjalan beriringan menuju masjid yang berada tak jauh dari rumahnya. Saat mereka berempat baru sampai di pelataran masjid. Ibu Kinan sudah menunggu mereka di depan pintu masuk utama. Melihat anak dan teman-temannya berjalan mendekat. Ibu Kinan pun langsung menghadang jalan mereka. "Saka ndi wae tho, Nduk. Kok suwe men?" (Darimana saja, Nak [ perempuan ]. Kok lama banget?) tanya Ibu Sri. "Ngapunten, Bu…." (Maaf, Bu….) Ucapan Kinan pun langsung dipotong sang ibunda. "Yo wes. Yo wes. Ayo cepet mlebu! Mlebu!" (Ya sudah. Sudah. Ayo cepet masuk! Masuk!) ujarnya cepat-cepat. Sambil menggiring Kinan masuk ke dalam masjid yang sudah dipenuhi dengan puluhan warga. Kinan pun masuk ke dalam masjid melewati puluhan warga yang menatapnya dengan kagum. Kinan memang terkenal tidak pernah bergaya neko-neko. Dalam kesehariannya Kinan selalu berdandan apa adanya. Tak pernah menutupi wajah cantik alaminya dengan make-up. Makanya saat ia didandani seperti ini membuat orang-orang pangling. Kinan terus berjalan masuk sampai di tengah-tengah ruangan itu. Matanya pun fokus menatap empat lelaki yang sedang mengelilingi meja pendek berukuran 50 x 100 centimeter itu. Dengan sebuah parsel seperangkat alat sholat terpajang di atas meja. Saat melihat Kinan mendekat, mereka pun langsung menoleh. Begitu pula dengan Mulin yang terlihat terpesona dengan kecantikan Kinan yang tak pernah ia duga. 'Gila. Kinan cantik banget. Nggak nyangka kalau dia secantik ini,' ujarnya dalam hati. Mata elangnya pun masih terpaku menatap Kinan yang kini duduk di sampingnya. "Bisa dimulai acaranya?" tanya Pak Kyai yang langsung membuat Mulin terjaga dari lamunannya. "Oh. Iya, Pak. Silahkan," ucapnya gugup. "Baiklah. Kalau begitu, Nak Mulin silahkan jabat tangan saya," ujar Pak Kyai sambil mengulurkan tangannya. "Ba… baik, Pak," ujar Mulin sambil mengangkat tangannya untuk meraih tangan Pak Kyai. Beberapa menit kemudian akad nikah pun sudah diucapkan. Prosesi pengikatan cinta kedua insan itu pun berjalan lancar. Kini Mulin dan Kinan sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Walau hanya sebatas pernikahan siri. "Tapi, seenggaknya mereka sudah sah secara agama," ucap para hadirin yang datang sebagai saksi pernikahan. "Iya. Akhir zaman seperti sekarang. Anak sering lupa aturan. Jadi, kalau bukan orang tua yang mengarahkan. Menyesal kemudian pun tak ada gunanya," ujar Pak Kyai memberi wejangan. Setelah menikahkan Kinan dan Mulin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN