Siang ini terlihat sangat cerah. Secerah hati Daffa yang sedang menatap tangan Mr. Michael Smith yang tengah menari-nari di atas lembar demi lembar berkas kontrak kerjasamanya. Yap! Dengan kecerdasan otak Daffa dalam dunia bisnis. Ia akhirnya bisa memenangkan tender tertutup itu. Dan mengalahkan sembilan rivalnya. Walaupun hanya ada satu rival besar yang tidak bisa ia remehkan. 'Tapi sekarang dia akan menangis sesegukan di pojokan kantornya. Hahaha,' batin Daffa sambil terus menyunggingkan senyum penuh kemenangan di bibirnya.
"Okay. This has been completed," ujar Mr. Michael Smith sambil menyodorkan kembali berkas itu. Dengan sigap Wira langsung meraihnya dan segera memeriksanya.
"Thank you Mr. Michael Smith. Glad to work with you," balas Daffa sambil mengulurkan tangannya.
"You're welcome. I'm also happy to work with you," balas Mr. Michael Smith sambil meraih tangan Daffa untuk segera dijabatnya juga. "Then excuse me first. Because I have other business," tambah Mr. Michael izin pamit. Ia pun beranjak dari duduknya.
"Oh, okay. Thanks for your time. And see you next time. We will not disappoint you," balas Daffa.
"Yes, i know. Good luck, Daffa. Bye!" kata Mr. Michael Smith kemudian berlalu.
"Good luck, Mr. Michael Smith. Bye!" balas Daffa sambil melambaikan tangan. Setelah Mr. Michael Smith pergi Daffa pun menjatuhkan badannya di atas sofa yang sudah tersedia di belakangnya. "Huft. Akhirnya goal juga," gumam Daffa dengan senyum yang tak henti-hentinya berkembang di bibirnya.
"Loe memang cerdik, Daf. Strategi loe nggak kebaca sama siapapun," ucap Wira. Entah memuji atau menyindir. Sebab, itu tak begitu berarti untuk Daffa. Lihat saja! Ia malah tertawa kecil.
"Hahaha. Namanya juga bisnis. Otak loe jangan di taroh sini doang," balas Daffa sambil mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuknya. "Tapi juga disini," tambahnya. Kini telunjuknya berpindah mengetuk bibirnya. "Disini," lanjut Daffa sambil menunjuk matanya. "Lalu disini." Daffa pun menunjuk ke arah telinganya. "Dan yang terakhir… disini," katanya sambil merangkul Wira dan menunjuk kepalanya.
"Hahahaha." Lalu keduanya pun tertawa bersama-sama. Dengan Wira yang menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Benar. Sebagian otaknya memang ada berada di dalam kepala Wira. Makanya ia bisa sukses seperti sekarang ini. Karena Daffa memiliki asisten paling kompeten seperti Wira.
Plok. Plok. Plok. Tawa keduanya pun terhenti oleh suara tepuk tangan seseorang. Seketika Daffa dan Wira pun menoleh.
"Bagus. Bagus. Bagus sekali kerja kalian, ya. Benar-benar licik," ujar Eric sambil berjalan mendekat.
Daffa dan Wira pun langsung melepas pelukan mereka dengan tampang yang merasa tak nyaman.
"Ngapain loe disini? Nguntitin gue?" ujar Daffa pada lelaki yang notabene lebih tua sepuluh tahun darinya itu.
"Heh. Bukannya elo yang nguntit klien gue?"
"Haha. Itu namanya strategi perang, Bro. Siapa yang lamban akan habis dibabat pedang. Bukan begitu, Tuan Erico Hestamma," balas Daffa dengan nada menantang. Eric pun hanya mendengus sambil membuang wajahnya yang tak begitu tampan. Walau ia memakai pakaian serba mahal, tapi tetap saja tidak menaikkan level tampan di wajahnya. Apa mungkin karena disana ada Daffa yang jauh lebih tampan? Bisa jadi.
Kembali pada Daffa yang semakin melebarkan senyumannya.
"Sudahlah. Jangan cemberut begitu. Mending duduk sini. Biar gue traktir. Gue kan baru aja menang tender," ujar Daffa dengan sombongnya.
"Dasar anak kecil. Baru menang sekali aja sombong," timpal Eric. Lalu ia pun segera balik badan dan meninggalkan tempat itu dengan diikuti oleh Asisten pribadinya.
"Eh, nggak usah marah-marah mulu. Cepet tua ntar. Hahahaha," ledek Daffa sambil terus tertawa terbahak-bahak.
**********
Beberapa hari pun berlalu. Perusahaan Daffa sudah kedua kalinya mengekspor berbagai model mebel yang berbahan dasar kayu jati dengan ukiran khas Jepara yang sangat spesial. Dari kursi ruang tamu, kursi makan sampai tempat tidur. Mr. Michael Smith memang sangat puas dengan barang yang dikirim Daffa. Karena walau harganya sedikit lebih mahal ketimbang harga diperusahaan lain, tapi kualitas dan keunikannya jauh lebih bagus. Sehingga sangat disukai pecinta mebel Perancis ataupun masyarakat biasa.
Di antara kesibukan para karyawan perusahaannya. Daffa pun mengamati aktivitas gudang dari tempat khusus yang berada cukup tinggi dari permukaan lantai gudang itu. Senyumnya pun terus terbentuk saat melihat puluhan truk datang dengan membawa mebel-mebel dari daerah Jepara dan sekitarnya. Saat ia menggeser pandangannya ke sisi kiri. Dapat dipantaunya para karyawan yang sedang memeriksa kualitas barang-barang itu satu per satu. Dan ia pun selalu bangga dengan para pengukir profesional yang bekerja sama dengan perusahaannya. Karena ia selalu puas dengan hasil kerajinan mereka. Dan di sisi gudang yang lain nampak proses pengemasan sebelum ditata di ruang Ready Export.
"Siang, Bos," sapa Wira yang langsung membuyarkan lamunan Daffa.
"Kenapa Wir?" tanya Daffa. Dia sangat tau jika Wira berani mengusik kesendiriannya di kantor. Berarti ada sesuatu yang penting.
"Anda ditunggu Tuan Gumelar di ruang tunggu, Bos," ujar Wira.
"Gumelar? Ngapain dia kesini?"
"Saya tidak tau dengan pasti, Bos. Lebih baik. Bos muda temui dia sekarang," jawab Wira dengan menundukkan kepalanya. Daffa pun berdecak kesal.
"Ck. Paling ngomongin masalah Anjani. Males banget deh gue."
"Kalau Bos Muda merasa males. Inget-inget aja uangnya yang sudah masuk ke perusahaan kita," kata Wira yang langsung membuat Daffa menoleh.
"Bener. Bener banget. Jangan sampai dia marah dan mencabut uangnya dari perusahaan kita," sahut Daffa lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Wira pun segera mengikutinya dari belakang.
Tak butuh waktu lama. Daffa pun sampai di depan ruang tunggu kantornya. Sebelum sempat ia menyentuh pintu. Dengan sigap Wirq menyentuhnya terlebih dahulu lalu membukakannya untuk Daffa.
"Selamat siang, Tuan Gumelar," ujar Daffa setelah berada di samping lelaki berbadan gempal itu.
"Selamat siang, Daffa. Apa saya mengganggu waktu anda?" tanyanya basa-basi. Sambil beranjak dari duduknya.
"Oh, tentu saja tidak. Sungguh, sangat senang rasanya mendapat kunjungan dari malaikat penolong di perusahaan ini. Apa ada yang bisa kami bantu?"
"Ah, anda sangat berlebihan. Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan dengan anda. Tapi, ini masalah pribadi."
"Masalah pribadi?" tanya Daffa. Ia pun langsung menoleh ke arah Wira yang juga menatapnya. 'Jangan dia tau?' pikir Daffa dan Wira bersamaan.
"Iya. Ini mengenai anak saya Anjani."
"Oh, iya. Ada apa dengan Anjani?" tanya Daffa cepat.
"Anda kan tau. Kalau Anjani itu baru pulang dari Australia. Dan sudah lama juga dia disana. Makanya dia tidak punya teman disini. Kalau menurut cerita yang saya dengar dari Anjani, sepertinya kalian cukup akrab sekarang."
"Oh, iya. Tentu," sela Daffa gugup.
"Maka dari itu. Bolehkah saya meminta kepada anda untuk menjadi teman anak saya. Sebab, dia tidak punya teman lagi selain anda," jelas Pak Gumelar setengah memohon. Daffa pun tak langsung menjawab. Ia malah menoleh lagi ke arah Wira. Dan dengan cepat Wira pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Tuan. Sebuah kehormatan untuk saya bisa berteman dengan putri anda. Jika putri anda ingin kemana saja. Tinggal hubungi saya secepatnya," jawab Daffa mantap.
"Terima kasih, Daffa. Saya sangat senang mendengarnya."