Aku menarik nafas dalam, merasa puas dengan aroma rerumputan hijau sejauh mata memandang. Ini adalah kehidupan yang sempurna. Aku memiliki segalnya disini. Tempat berlindung, juga persediaan makanan. Aku bahkan memiliki pembangkit listrik cadangan dengan tenaga matahari agar aku bisa terus mendapatkan pasokan listrik dan juga air. Satu tahun, dua tahun, bahkan seratus tahun sekalipun aku akan bertahan. Para zombie s****n itu tidak akan mampu menyentuhku.
Rencana yang aku susun, bukankah begitu sempurna? Memikirkan bahwa aku memiliki ide cemerlang untuk membangun sebuah rumah di puncak bukit dengan pagar beton tinggi, membuatku menyadari bahwa aku jenius sejak lahir. Mereka harus melewati pengamanan berlapis hingga mencapai tempat ini. Sisi terluar adalah pagar di sekeliling perkebunan setinggi tiga meter. Lalu kurasa mereka cukup lamban dan bodoh untuk mampu berenang melintasi parit dalam selebar empat meter yang mengelilingi rumahku. Belum lagi pagar berduri yang melindungi rumah. Dan jika ada yang cukup beruntung melewati semua itu, tidak akan ada yang mampu menembus beton keras dinding rumahku. Bentuknya memang tidak artistik sama sekali. Namun, ini sangat aman.
Aku juga tidak akan kehabisan makanan karena aku dikelilingi perkebunan dan peternakan yang terlindungi. Semuanya organik. Ini adalah bisnis menjanjikan yang menghasilkan banyak uang sembari menyusun rencana untuk melindungi diri.
Itu belum terjadi. Maksudku serangan para zombie. Namun, aku yakin itu akan terjadi suatu hari nanti. Meski zombie belum muncul untuk saat ini, mereka pasti berada di suatu tempat di belahan bumi. Mungkin tersembunyi di sebuah laboratorium khusus militer, atau terkurung di perut bumi menunggu waktu kebangkitan mereka. Walaupun itu belum terjadi, aku tetap harus bersiap-siap bukan?
"Bagaimana jika ada serangan udara?" Suara Lingga membuatku terkesiap dari lamunanku. Aku menoleh dan menemukan pria itu telah berdiri di belakangku. Entah sudah berapa lama ia berdiri di sana. Tetapi, sepertinya ia bisa menebak apa yang sedang aku pikirkan.
Aku sedang berdiri di balkon belakang rumahku yang berhadapan langsung dengan areal peternakan. Ini adalah tempat favoritku karena selain bisa menikmati cahaya matahari, aku tidak perlu keluar rumah. Aku benci keluar rumah. Menurutku itu adalah sesuatu yang berbahaya dan akan mengancam keselamatanku. Terkadang, jika bosan aku akan berkeliling areal perkebunan. Namun, aku memastikan untuk tidak melewati pagar terluar. Dunia di luar sana sangat berbahaya. Jika terpaksa harus pergi, aku akan membawa tank kesayanganku agar bisa berlindung di dalamnya. Itu adalah sebuah SUV yang dimodifikasi dengan lapisan baja agar zombie tidak bisa menyerangku ketika aku berada di dalam mobil. Meski harus mengeluarkan biaya lebih, kurasa hasilnya sepadan.
Lagipula uang tidak pernah menjadi masalah bagiku. Keluargaku adalah bangsawan sejak era kolonial. Aku hanya perlu duduk bersantai dan uang akan mengalir ke dalam rekeningku. Lingga yang mengurus semuanya. Kebun, peternakan, juga beberapa usaha kecil di luar sana. Bisa dikatakan bahwa ia adalah asisten pribadiku. Dan ia adalah salah satu orang yang menganggap aku gila.
Semuanya adalah milikku. Bukan warisan, atau usaha keluarga. Aku merintisnya dari uang sakuku sendiri. Apa yang kuharapkan ketika ayah sebagai putra tunggal bahkan belum mendapat warisannya karena kakek masih hidup? Kakek nenek dari pihak ibu juga masih sehat walafiat untuk mewariskan rumah sakit besar dengan puluhan cabang. Bukannya aku adalah cucu kurang ajar yang mengharapkan kematian mereka. Kuharap mereka hidup hingga seratus tahun lagi Aku hanya mencoba menyampaikan realita dengan cara yang agak kasar.
Sama sepertiku, kedua orang tuaku masih merintis usaha 'kecil-kecilan' mereka. Ayah dengan perkebunan sawit dan tambang batu baranya, dan ibu dengan perusahaan kosmetik lokalnya. Padahal wanita itu dulu adalah seorang dokter. Kini bukannya mengurusi pasien, ia malah sibuk menghitung uang. Aku setuju dengannya. Bagiku, aroma uang lebih wangi dibanding bau rumah sakit yang memuakkan.
Itu benar bahwa ibu adalah seorang dokter. Sementara ayah adalah lulusan sebuah kampus ternama di luar negeri. Kurasa itu yang membuat Nadi, adikku mengikuti jejak mereka. Pria cerdas itu adalah kebanggaan keluarga setelah menjadi lulusan terbaik di almamater ayah, kemudian membangun sebuah perusahaan start up yang sukses besar. Bagaimana denganku? Meski hanya lulusan paket SMA, aku bukanlah seorang kakak pendengki. Bukankah menyusun rencana untuk menyelamatkan diri dari serangan zombie adalah prioritas utama saat ini?
Aku memang tidak kuliah. Bukan karena bodoh, melainkan karena tidak mau. Bagiku itu buang-buang waktu. Pendidikan tidak hanya bisa didapat dari bangku kuliah. Ini mungkin terdengar tidak adil bagi sebagian orang. Namun, bagiku terlahir kaya adalah keberuntungan terbesar yang bisa kudapatkan. Aku bisa mendapatkan nyaris segala hal yang kuinginkan tanpa usaha yang berarti. Tak seorangpun di dunia ini yang mampu membuatku iri. Merekalah yang iri padaku.
Kurasa, itu karena aku terlalu dimanja. Aku terbiasa tidak menerima penolakan. Dan ketika aku mengatakan tidak ingin kuliah, bahkan tidak ada yang berani berdebat denganku. Mereka hanya bisa mendukung.
"Atau mereka masuk dari bawah tanah," Cara bicaranya jelas seolah sedang mencemoohku. Aku tidak tersinggung karena Lingga memang selalu begitu. Ia memang bekerja sebagai asisten pribadiku. Namun, sesungguhnya ia sudah seperti keluarga. Sayangnya ia menyadari itu dan sering bersikap seenaknya. "Tengku Nada Adiputeri! Bisakah kau berhenti memikirkan zombie satu hari saja? Jika begini terus, Aku khawatir kau akan menikah dengan zombie nantinya."
"Kau kemari untuk meledekku?" Aku menarik sebuah map yang sedang ia pegang di tangan kirinya. "Apa ini?"
"Proposal penjualan makanan beku," jawab Lingga sekaligus menjelaskan tujuannya mendatangiku. Ia tidak akan jauh-jauh datang hanya untuk meledekku. "Sebuah perusahaan makanan beku menawarkan untuk menjual produknya di swalayan kita."
"Bukankah kita sudah menjual makanan beku?" Tanyaku. Aku memang tidak begitu peduli dengan bisnis. Aku mengetahuinya karena aku memiliki produk yang dijual di swalayan milikku dalam gudang darurat di rumahku. Jika terjadi serangan zombie, aku akan membutuhkan beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Memiliki swalayan merupakan ide bagus lainnya. Aku bisa mengganti barang-barang dalam gudang daruratku secara berkala untuk menghindari kadaluarsa.
Itu bahkan bukan swalayan besar. Namun, terlengkap yang ada di desa ini. Merupakan bisnis yang bagus karena menjadi satu-satunya di desa. Sebelumnya penduduk harus menempuh perjalanan lima puluh kilometer untuk mencapai swalayan terdekat. Berkatku, mereka dapat membeli barang-barang yang mereka butuhkan lebih cepat dan murah.
"Ini merk berbeda," jawab Lingga lagi.
"Apa bagus?" Aku membolak-balik proposal itu tanpa tertarik akan isinya. Aku tidak mengerti, dan toh aku juga tidak ingin tahu.
Lingga mengangguk. "Cukup menguntungkan. Ini adalah produk baru yang lumayan laris di kota."
"Kalau begitu, kita harus menjual produk mereka!" Aku mengembalikan map itu pada Lingga. Jika ada serangan zombie nanti, aku mungkin akan merasa bosan dengan satu merk sosis. Lebih banyak varian, bukankah lebih baik?
"Dan, tentang kuda yang sakit," Lingga menerima kembali map itu sambil membahas hal lainnya. "Dokter mengatakan bahwa ia sudah terlalu lemah untuk menjalani operasi. Apa yang akan kau lakukan dengannya?"
"Kuda itu mungkin terinfeksi." Aku berbalik untuk kembali melihat padang rumput. Biasanya ada beberapa ekor sapi yang dibiarkan lepas dan merumput disana. Padang itu kosong. Mungkin karena sebentar lagi senja, jadi para pekerja sudah mengembalikan ternak ke dalam kandang. "Bawa dia keluar! Terserah mau kau apakan. Aku tidak ingin ada hewan yang sakit di tempatku."
Lingga terkekeh mendengarnya. Aku yakin ia tahu persis apa yang kumaksud. "Kuda itu terkena kanker usus, bukan terinfeksi virus zombie!"
"Kau bisa kembali jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan!" Aku melambaikan tanganku untuk mengusirnya. Ini sudah nyaris senja. Sudah waktunya untuk beristirahat. Aku tidak ingin lagi mendengar masalah apapun tentang pekerjaan.
"Baiklah! Aku akan kembali besok pagi untuk memeriksa apa ada zombie yang menggigitmu!" Lingga pamit undur diri. Aku tidak perlu mengantarnya keluar. Cukup dengan mendengar kekehannya yang perlahan menjauh.
Ia masih menganggap aku gila. Dan ia cukup terang-terangan menunjukkannya. Lingga Gardana. Pria itu tahu persis bahwa aku tidak akan marah padanya, atau memecatnya. Ia menyadari tempatnya dengan baik.
Padahal ia bisa lebih baik dari sekadar menjadi asisten pribadiku. Ia cerdas dan memiliki kompetensi untuk memimpin. Hanya karena merasa berhutang budi pada ayahku, ia harus terjebak dengan orang gila sepertiku. Setidaknya aku tidak menggigit seperti para zombie itu.
Sayangnya ia tinggal di desa. Di sebuah rumah sederhana di dekat permukiman penduduk. Ia mengatakan lebih suka hidup bertetangga dibandingkan menyendiri di atas bukit bersamaku. Jika terjadi serangan zombie nanti, ia akan menyesal karena tidak tinggal denganku. Sama seperti keluargaku yang menolak tinggal bersamaku di tempat aman ini. Ketika penyesalan itu tiba, tentu saja semua telah terlambat. Para zombie akan menyapu bersih mereka semua.
Setidaknya, aku harus menyelamatkan diriku sendiri. Aku sudah memperingatkan mereka dan malah dianggap gila. Tidak masalah. Lebih baik dianggap gila daripada harus terjebak di tengah-tengah para zombie. Bayangkan betapa buruknya rupa mereka. Bergerak dengan tubuh membusuk dan mengeluarkan aroma seperti bangkai. Mereka akan mendekat untuk mencari makanan. Daging manusia yang masih segar. Dengan menggunakan gigi omnivora mereka yang tumpul, mereka akan menarik paksa daging hingga terlepas dari tubuh. Rasa sakit dimakan hidup-hidup dengan makhluk berwujud mengerikan seperti itu. Rasa sakitnya akan bertahan lama dengan kematian perlahan. Dan tentu itu tidak akan berhenti disana. Setelah mati, mangsa mereka juga akan berubah menjadi monster mengerikan yang kelaparan. Aku tidak ingin berkhir seperti itu.
Mungkin terdengar seolah aku pernah bertemu dengan salah satu monster tersebut. Tidak. Aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Itu hanyalah gambaran yang kudapatkan dari berbagai referensi. Setelah membaca begitu banyak novel zombie, juga menonton film tema serupa, aku mengenal sosok zombie itu seolah benar-benar pernah bertemu dengan mereka.
Tetap saja, mengenal mereka dengan baik bukan berarti aku akan menikah dengan zombie kelak. s**l! Perkataan Lingga tadi berhasil mengusik pikiranku. Aku mungkin akan hidup bersama zombie hingga sisa hidupku. Bukan Karena aku menikahi zombie, melainkan karena makhluk itu telah menguasai dunia dan aku adalah satu-satunya manusia yang tersisa. Aku pasti akan sangat kesepian. Aku akan menjadi benar-benar gila dan mulai berbicara dengan benda mati.
Aku ingat sebuah film tentang seorang pria yang hidup berdua saja dengan anjingnya di dunia yang penuh dengan zombie. Setidaknya pria itu memiliki teman mengobrol meski itu hanya seekor anjing. Aku tidak mau memelilhara anjing. Atau kucing. Atau memelihara hewan apapun di dalam rumahku. Mereka bukan teman. Mereka tidak bisa disamakan dengan manusia.
Meskipun memiliki peternakan, aku bukanlah pecinta hewan. Sapi adalah makanan, kuda adalah tunggangan. Dulu saat masih berada di sekolah dasar, aku pernah memelihara tarantula. Lagi-lagi bukan karena aku menyukai hewan. Aku menyukai bentuknya yang menyeramkan, dan tidak ada yang berani macam-macam denganku ketika aku membawanya ke sekolah.
Lalu, apa itu artinya aku akan hidup sendirian setelah terjadi serangan zombie? Bagaimana jika aku membutuhkan seseorang untuk memperbaiki bagian rumah yang rusak? Aku tidak akan bisa melakukan segala hal sendirian. Aku membutuhkan seseorang. Seorang pria kuat yang sanggup untuk naik ke atas sana untuk memperbaiki atap.
Haruskah aku menikah hanya agar ada yang mengganti atap rumahku?
Tentu saja! Aku tidak bisa membayar asisten lainnya untuk bekerja dan berakhir seperti Lingga yang lebih suka tinggal di luar sana. Jika menikah denganku, orang itu tidak memiliki pilihan selain tinggal bersama denganku disini. Baiklah! Aku sudah memutuskan. Aku akan menikah!
Masalahnya, Aku membutuhkan seorang pria untuk menikah denganku. Aku membuka ponselku untuk melihat kontak yang ada sambil memeriksa kemungkinan orang yang bisa menjadi kandidat sebagai calon suamiku. Tidak banyak pria yang ada di dalam kontak ponselku. Dan aku mulai ragu apakah aku bisa menikah dalam waktu dekat.
Lingga? Aku memang sering tidak sopan padanya, tapi ia adalah adik tiri ayahku. T. Awang. Aku tidak bisa menikah dengannya, dia ayahku. T. Nadi, aku juga tidak bisa menikahi adikku. T. Setiawan? Selain sangat tua, dia juga kakekku. Udin. Aku lama berhenti pada kontak pria terakhir yang ada. Aku tidak yakin apa aku mengenal orang ini. Mengapa aku menyimpan nomor ponselnya? Aku bahkan tidak mendapat gambaran orang yang kusimpan nomor ponselnya ini terlihat seperti apa. Namanya terdengar seperti nama seorang pria. Apa aku bisa menikah dengannya? Aku tidak memiliki hubungan keluarga dengannya 'kan?
Aku memang tidak menyimpan banyak nomor di dalam ponselku. Hanya keluargaku saja, dan itu membuatku semakin ragu dengan nama yang terakhir. Ku rasa ia juga keluargaku. Aku hanya belum berhasil mengingatnya. Mengapa aku baru menyesali ini sekarang? Mengapa aku tidak punya teman?
Lalu, dengan siapa aku harus menikah? Apa aku minta dijodohkan saja?
Tidak! Aku juga tidak bisa ikut perjodohan. Keluargaku hanya mengenal mereka yang berasal dari keluarga konglomerat. Aku ragu pria dari keluarga semacam itu bersedia untuk memperbaiki atap.
Atau aku bisa meminta Lingga untuk membawa seorang pria muda dari desa untukku. Bagaimanapun juga aku adalah cucu tertua dan merupakan penerus keluarga Setiawan. Tidak akan ada yang bisa menolakku. Meski hanya memiliki ijazah SMA, siapa yang tidak tergoda dengan seorang wanita kaya dan rupawan sepertiku? Aku tidak menilai diriku sendiri terlalu tinggi. Aku tidak pernah mendengar ada yang menyebutku jelek. Aku hanya sering dikatakan gila.
Aku tidak peduli dengan usianya. Setidaknya ia harus tampan dan memiliki tubuh bagus. Aku akan melihatnya dalam jangka waktu yang sangat lama, jadi penampilan tentu menjadi yang paling utama. Lalu … kurasa aku tidak memiliki syarat lainnya. Pokoknya aku harus menikah sesegera mungkin. Tidak ada yang tahu kapan para zombie akan menyerang. Apakah besok atau lusa. Aku tidak memiliki banyak waktu.