Bab.8 Pemakaman Kakek

1027 Kata
  Sepeninggalan kakeknya dari sang papa. Dia juga harus mengabari semua orang untuk datang ke pemakamannya. Semua keluarga, termasuk mamanya yang ada diluar kota.   Pa, kakek udah gak ada. Papa sama tante Sisil ke rumah ya buat pemakaman.   Ma, kakek udah gak ada. Gio tunggu di rumah kakek sama oma. Mama harua dateng. Ajak juga suami mama. Kakek minta kalau pemakamannya dia mau lihat orang-orang yang di sayang.   Gio hanya mengirimkan pesan. Kalau untuk telpon, dia juga tak mau. Suaranya pasti terdengar bergetar. Dia juga terlalu sibuk melakukan persiapan pemakaman.   Jaya masih meeting, sampai dia juga mendapatkan pesan dari gio kalau kakeknya gio meninggal. Jaya langsung membubarkan meetingnya.   "Saya ada urusan mendadak. Jadi meetingnya sampai disini." kata jaya pada semua anak buahnya.   Jay, bantu cariin tempat buat pemakaman kakek ya. Sama cariin orang-orang yang ngurus pemakaman kayak gitu.   Jaya kembali membaca pesan dan sahabatnya itu. Jaya pun membalas dengab mengiyakan sahabatnya. Dia meminta sekertarisnya untuk mencari jasa pemakaman dan semacamnya.   "Ini pak nomernya."   Hanya tinggal sekertaris jaya yang ada didalan ruangan. Semua karyawan sudah diminta keluar. Sekertaris jaya mencarikan nomer jawa penguru jenazah sampai pemakaman yang bagus.   "Tolong telpon kan." kata jaya pada sekertarisnya sementara dia mencoba menelpon marimar untuk memberitahu.   Sekertaris jaya pun menelponlan jasa pemakaman dan memesankannya. Dia menanyakan panjanh dan lebar untuk liang lahatnya. Jaya yang sejak tadi tak bisa menghubungi marimar akhirnya menelpon gio untuk menanyakan itu. Gio bertanya pada dokter dan suster yang menangani kakeknya.   Masalah pemesanan dan penggalian liang lahat untuk kakek gio sudah selesai.   "Saya gak bisa meeting mungkin sampai besok. Atur ulang aja semuanya!" kata jaya pada sekertarisnya.   "Baik pak."   Jaya meraih kunci mobilnya sambil mencoba menghubungi marimar.   -   Marimar dan lisa baru selesai belanja. Setelah membawa banyak barang, giliran mereka kelaparan keliling satu mall. Baru setelah dia selesai, marimar mengajak lisa ke hotelnya. Untuk mengetes lisa beberapa hal.   "Ini liat vidionya, pelajari juga." kata marimar membuka laptop milik jaya.   Lisa penasaran apa isi vidionya. Dia mengamatinya, ternyata itu vidio tentang ibu hamil muda.   "Aku telponin dokter kandungannya nanti, jadi kamu bisa dapat penjelasan langsung seperti apa ibu hamil muda itu. Pokoknya harus perfecy ya lis sampai satu tahun, dan pura-pura melahirkan. Kamu udah di kontrak sama gio satu tahun ini." kata marimar mengingatkan perjanjiannya.   "Iya."   Marimar menelponkan dokternya. Dia melakukan panggilan vidio dengan dang dokter. Lisa pun mendengarkan dengan seksama penjelasan dari dokternya.   "Setelah ini, kita ada perawatan badan. Sekalian make over kamu dikit. Inget ya, kamu itu hamil dua bulan, dan kepribadian kamu itu feminim banget, cewek manis, lemah lembut. Jangan sampai salah karakter ya saa.."   Lisa makin bingung mendengarkan penjelasan dokter dan marimar. Marimar akan menelpon orang salon untuk lulur badan dan perawatan wajah mereka juga. Dia ke dapur, untuk mengambil minum lebih dulu. Mereka juga sudah memesan makanan.   Meminimalis kegiatan diluar yang mungkin bisa dilihat banyak orang. Jadi mereka hanya bisa melakukannya didalam ruangan.   "Ini sambil minum.."   Marimar membawa dua gelas jus siap minum. Dia hanya tinggal menuangkannya ke gelas. Lalu milik dia sendiri dia bawa ke kamar. Marimar tadi menaruh belanjaan dan tasnya di kamar, juga ponsel yang ada ditas. Marimar suka sekali menggati mode ponselnya dengan diam kalau sedang berbelanja. Tapi sebelum itu dia akan bertanya pada jaya, bolehkan mensilent ponselnya. Baru dia akan melakukannya kalau dibolehkan.   Seperti tadi. Makannya jaya tak bisa menghubungi ponsel marimar. Jaya juga tak tau akan ada keadaan urgent seperti ini.   Marimar baru saja membuka ponselnya. Dia melihat pesan yang dikirim suami kontraknya itu. Marimar langsung mengabari jaya.   "Om, maaf. Kita di hotel. Gimana?" tanya marimar langsung menjawabnya.   "Gak papa sih. Cuma mau ngabarin. Ini aku mau ketemu gio, mau ke rumah sakit. Kamu konsen urus lisa aja ya."   "Oh, iya om."   Marimar pun langsung menutup telponnya. Dia kembali ke ruang tengah kamar hotelnya. Dia ingin memberitahukan lisa. Marimar duduk didepan lisa. Dia memutar laptopnya.   "Dokter, maaf bisa kita akhiri disini. Saya ada perlu berbicara dengan lisa." kata marimar lewat vidio callnya dengan sang dokter.   "Iya silakan."   Dokter pun mengakhiri penjelasannya dan mematikan telpon vidio itu. Dokter itu sudah dibayar jaya dan gio memang khusus untuk ini.   "Kenapa maa?" tanya lisa pada marimar.   "Kakeknya gio meninggal." kata marimar pada lisa.   "Ya ampun, kasian banget."   "Lo tau gak, berapa kekayaan kakek gio dann kayaknya ya menurut gue sama om jaya, semua bakalan jatuh ketangan gio. Sampek berapa triliun yaa.." kata marimar mencoba mengingat obrolan-obrolannya dengan jaya tentang seberapa kaya keluarga gio.   "Lo sumpahh, beruntung banget. Gio itu jauh lebihh kaya dari om jaya. Kalau aja waktu itu dia udah kepikiran dan butuh. Pasti gue bakalan ada diposisi lo sekarang saa.."   Awalnya dia sempat tau dan kenal dengan seorang giorgio. Cuma memang waktu itu, gio anti banget sama cewek. Sampai kakeknya udah sakit-sakitan. Terus omanya juga bilang pengen liat cicitnya sebelum dia pergi.   Marimar menceritakan tentang singkat hal ini. Karena itu gak ada berita atau majalah manapun.   "Kalau lo bisa dapetin hari gio. Kelar deh masalah dunia lo. Bakalan hidup di surga. Gilakk sihh.." marimar tak berhenti membayangkannya.   Tok tok   Sampai ketukan dan bel kamarnya terdengar. Marimar keluar untuk melihat. Ada tukang pengantar pizza dan orang dari salon.   "Makasih ya mas, ini uangnya." marimar menerima pizza yang mereka pesan dan membayarnya.   "Mbak, masuk aja. Ada temen saya didalam." dan menyuruh orang salon untuk masuk duluan.   Tukang antar pizza itu pergi. Lalu marimar masuk lagi. Dia membuka pizzanya untuk dimakan bersama lisa sambil orang dari salon itu menyiapkan perawatan untuk mereka. Ada tiga, mungkin satu asistennya.   -   "Gio.."   Jaya sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung menemui gio di ruang icu. Jaya ikut sedih melihat omanya yang memeluk jasad kakek gio.   "Yang sabar ya. Yang kuat buat oma lo." jaya menepuk pundak gio. Gio hanya mengangguk. Gio sudah mengusap air matanya sejak tadi. Dia harus tegar untuk menghibur omanya.   Gio mengajak jaya keluar. Dia menitipkan omanya pada sang bibik. Mereka keluar untuk berbicara. Membiarkan omanya menikmati kesedihan itu. Takdir memang kejam, gio yang masih kecil pun harus menerima keluarganya yang hancur.   "Gimana pemakaman?"   "Udah, udah selesai semuanya. Setelah ini kan jasad kakek lo bakalan dibawa ke rumah. Udah ada orangnya di rumah."   "Iya. Thank ya jay."   "Sama-sama."   Gio menitipkan omanya kepada jaya. Gio harus menemui dokter untuk membawa jasad kakeknya. Menyewa ambulance?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN