"Anak nggak tau diuntung! Siapa yang ngajarin kamu untuk membunuh orang, heh?! Jadi ini balasan kamu ke ibu yang udah bertahun-tahun merawat kamu?! Kamu buat malu ibu, Chika. Kamu biang masalah!" Berkali-kali Risti menoyor kepala Chika sambil terus mengomeli anak tirinya itu.
Risti segera datang ke rumah Gavin ketika mendengar kabar pembunuhan yang dilakukan oleh Chika terhadap Gavin. Sungguh, Risti merasa sangat marah dan tak habis pikir dengan jalan pikiran anak tirinya. Bisa-bisanya Chika menghabisi nyawa orang yang sebentar lagi akan membuat hidupnya bergelimang harta.
"Sekarang cepat kasih tau ibu, kenapa kamu tega membunuh Gavin?! Kenapa kamu berubah menjadi monster mengerikan seperti ini, Chika ...?!" Saking marahnya, Risti refleks menjambak rambut Chika karena sejak tadi gadis itu hanya menangis dan menangis, tanpa menjawab satu pun pertanyaan darinya.
"Jawab ibu bilang! Jangan cuma nangis aja! Kenapa kamu tega membunuh Gavin?!" Risti menangkup wajah Chika dengan gemas. Yang ia dapati hanya tangisan Chika yang makin menjadi.
"Dasar jalang kamu ya?! Disuruh jawab malah mewek terus!"
Plak!
Risti refleks menampar Chika karena saking muaknya melihat tangisan Chika yang sama sekali tidak membuatnya iba sedikit pun.
"Kamu punya mulut kan, Chika?! Jawab ibu bilang?!" bentak Risti untuk kesekian kalinya.
"Cukup!"
Risti menoleh ke arah pintu. Di sana sudah ada tiga orang pria yang merupakan anggota kepolisian yang datang untuk melakukan pemeriksaan serta penyelidikan. Orang yang tadi berucap bernama Aaron yang merupakan salah satu dari anggota kepolisian tersebut.
"Menanyai pelaku tidak harus dengan kekerasan atau pun bentakan. Ibu bisa saja kami tangkap karena telah melakukan penganiayaan pada anak Ibu sendiri." Aaron melenggang melewati Chika dan Risti kemudian menghampiri jasad Gavin yang masih tergeletak di lantai. Ia dan kedua rekannya mulai melakukan pemeriksaan terhadap mayat Gavin.
Aaron mengamankan pistol milik Chika yang kini posisinya berada di dekat Gavin. Dan ia juga memeriksa isi tas Chika yang isinya berupa dompet, ponsel, beberapa alat make-up dan tisu.
"Mas polisi, anak saya ini salah. Nggak mungkin kan kalau saya nggak memarahinya? Dia ini anak yang nggak tau terimakasih. Selama ini Gavin sudah sangat baik terhadap kami, tapi dia malah tega membunuh Gavin. Kamu benar-benar benalu, Chika!" Risti berdiri kemudian berkacak pinggang sambil tak henti-henti memarahi Chika.
"Pokoknya saya ingin pelaku dihukum seberat-beratnya. Kalau perlu, hukuman mati juga pantas untuk pembunuh berdarah dingin seperti dia." Nana yang posisinya tengah duduk di tepian tempat tidur mulai berani menuntut Chika untuk dihukum seberat-beratnya.
Chika lantas menghapus air matanya dan merangkak menghampiri Nana. Ia lalu bersimpuh di hadapan Nana kemudian memohon.
"Tolong jangan penjarakan, Mba, Nana. Mba berani sumpah, bukan Mba pelakunya." Chika memohon sambil menangis kembali.
"Mba, bukti udah kuat. Mba mau menyangkal gimana lagi sih? Mba ini terbukti bersalah. Jadi Mba harus dihukum," tegas Nana.
"Tapi bukan Mba pelakunya, Na. Mba nggak mungkin membunuh Gavin. Tolong percaya sama Mba. Tolong ...." Chika putuskan menggenggam erat kedua tangan Nana. Tatapannya terlihat memelas. Untuk saat ini Chika hanya sanggup memohon dan memohon.
"Jangan mimpi aku akan percaya sama Mba! Mana ada sih penjahat yang mau ngaku?! Pembunuh seperti Mba ini pantasnya dipenjara seumur hidup atau perlu dihukum mati sekalian!" Nana dengan kasar menyingkirkan tangan Chika yang sejak tadi menggenggam erat kedua jemarinya. Ia lantas mendorong calon kakak iparnya itu sampai terjatuh di lantai.
"Mas Mas polisi di sini jangan diam aja dong?! Buruan ditangkap penjahatnya. Nanti keburu kabur lagi!" Nana memerintahkan ketiga polisi itu untuk segera menangkap Chika. Aaron pun bergerak menghampiri Chika sambil membawa borgol di tangan.
Chika sudah tidak ada harapan lagi untuk dibebaskan. Percuma saja ia memohon-mohon pada Nana. Pada faktanya Nana sama sekali tidak memercayai penjelasannya. Chika hanya sanggup menangisi nasib buruknya ketika Aaron mulai memborgol kedua tangannya.
"Untuk saat ini kamu ditetapkan sebagai tersangka sementara. Sambil menunggu penyelidikannya selesai, kamu akan ikut kami ke kantor polisi dan akan ditahan sampai sesi penyelidikannya selesai. Jangan takut, kalau kamu tidak bersalah, kamu pasti akan kami bebaskan." Aaron mencoba memberi pengertian kepada Chika supaya gadis itu tidak perlu takut dan bersedia ikut dengannya ke kantor polisi.
Chika tak memiliki hak untuk berontak. Jika ia melawan, bisa saja hukumannya nanti akan tambah berat. Chika pun menurut ketika Aaron mulai menuntunnya untuk keluar.
Saat bergerak meninggalkan kamar Gavin, Chika tak sengaja berpapasan dengan ibu tirinya. Terlihat Risti menatapnya dengan raut wajah murka. Chika sangat menyayangkan dengan sikap ibunya yang tampaknya percaya-percaya saja dengan tuduhan yang mengarah padanya. Dengan hal ini, Chika makin sadar kalau Risti tidak pernah tulus menganggapnya sebagai seorang anak. Andai saja sang ayah masih hidup, Chika sangat yakin beliau-lah satu-satunya orang yang akan berjuang mati-matian membelanya.
***
Detik ini Chika tengah berada di ruang interogasi. Gadis itu tengah duduk di sebuah kursi kayu sambil menautkan kedua tangan yang terasa dingin dan gemetar itu. Di depan Chika ada Aaron yang posisinya sama-sama tengah duduk dan sebentar lagi akan mulai menginterogasi Chika.
"Kamu nggak perlu gugup. Oh iya, kita bicara non formal aja ya biar sama-sama santai. Kamu nggak perlu takut. Kamu bisa menganggap aku sebagai teman kamu. Kamu hanya perlu menjawab pertanyaan dari aku dengan jujur. Akh, bisa diminum dulu airnya supaya kamu lebih rileks." Aaron mempersilakan Chika untuk meminum air putih yang sebelumnya telah ia sediakan di atas meja.
Chika lantas menatap air putih di dalam gelas panjang tersebut. Gadis itu menggeleng lemah pertanda ia enggan untuk minum.
Aaron tampak bersedekap tangan sambil menatap gelas berisi air putih itu dengan serius. Beberapa detik kemudian, ia beralih menatap Chika yang masih saja menunduk.
"Kalau kamu bukan pembunuhnya, kamu nggak perlu takut dan merasa gugup. Kalau kamu memilih bungkam seperti ini, itu artinya kamu menuntun kami untuk makin mencurigai kamu. Sekarang minum air itu, dan berusaha untuk rileks. Aku tau sejak tadi kamu haus dan ingin minum. Tapi karena rasa gugup kamu yang berlebihan itu, kamu menjadi enggan untuk melakukan apa-apa. Yang ingin kamu lakukan hanyalah menangis dan merenung. Kamu sadar nggak, kamu udah kehabisan tenaga hanya untuk menangis? Kalau kamu nggak mau minum, lama-kelamaan kamu terkena dehidrasi loh. Nanti siapa yang akan peduli sama kesehatanmu kalau bukan kamu sendiri?"
Chika mendengarkan nasihat Aaron dengan serius. Ia membenarkan semua perkataan Aaron. Di dunia ini sudah tidak ada seorang pun yang memedulikan dirinya. Mau sehat atau pun sakit, hanya Chika-lah yang merasakannya. Dan jika nanti ia jatuh sakit, ia pun harus merawat dirinya seorang diri tanpa bantuan orang lain. Karena sejauh ini yang peduli akan kesehatannya hanyalah sang ayah dan juga Gavin. Dan nahasnya kini dua orang tersebut sudah tiada.
Dengan gerakan lambat Chika menggerakkan tangannya untuk meraih gelas berisi air putih tersebut. Sebelum meminum air itu, Chika sempatkan diri untuk menatap Aaron sejenak.
"Minumlah, aku yakin setelah ini kamu akan merasa lebih rileks. Jangan lupa sebelum minum, tarik napas dulu melalui hidung, buang melalui mulut. Lakukan hal itu berulang-ulang ketika kamu sedang merasa gugup atau panik. Percaya atau nggak, hal itu akan membuat kamu merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya."
Chika seolah-olah terhipnotis dengan perkataan Aaron. Ia pun mulai menarik napas dan membuangnya. Hal ini Chika lakukan sampai tiga kali sebelum ia memutuskan untuk meneguk air putih dalam gelas yang berada dalam genggamannya.
Saat sedang minum, mata Chika justru fokus pada ibu jari Aaron yang tampak tengah mengetuk-ngetuk meja. Chika meletakkan gelasnya ketika ia sudah menghabiskan setengah gelas air. Entah kenapa matanya makin fokus memerhatikan ibu jari polisi muda tersebut yang masih saja asyik mengetuk-ngetuk meja. Semakin Chika memerhatikan, gerakan ibu jari itu bergerak makin cepat. Dan anehnya Chika tiba-tiba mengantuk dan rasa-rasanya ingin segera tidur. Chika mendadak tak sadarkan diri ketika Aaron tiba-tiba saja menjetikkan jari tepat di depan matanya. Beruntung Aaron bergerak cepat menahan tubuh Chika yang nyaris oleng tersebut.
Aaron refleks menarik kursinya dan memposisikan dirinya duduk di dekat Chika dengan kondisi salah satu tangan masih memegangi lengan Chika. Ia telah berhasil menghipnotis Chika dan membuat gadis itu tertidur. Kemampuan hipnosisnya ini biasa ia lakukan saat sedang menginterogasi tersangka. Tujuannya hanya untuk membuat si tersangka bersedia jujur tanpa banyak bantahan atau proses yang bertele-tele.
"Dengarkan aku baik-baik, Chika. Saat ini kamu memiliki tugas untuk menuruti apa pun perintahku. Jadi apa pun yang nantinya aku tanyakan sama kamu, kamu wajib menjawabnya dengan jujur. Dihitungan ketiga, kamu akan bangun dan yang kamu tau hanyalah kamu akan menuruti apa pun perintah dari aku. Satu, dua, tiga, bangun!" Aaron menjetikkan jarinya tepat di depan mata Chika kembali, refleks gadis itu terbangun dari tidur dan menampilkan tatapan kosong.
Aaron bergerak meraih ponsel pada saku jaketnya. Ia berniat merekam pengakuan Chika nanti sebagai barang bukti.
"Apa kamu benar membunuh Gavin?"
"Enggak!" jawab Chika tegas.
"Lalu kenapa ada pistol yang tersimpan di tas kamu?"
"Pistol itu peninggalan mendiang ayahku. Aku membawa pistol itu ke mana-mana karena dengan membawa pistol tersebut, aku seperti merasa terlindungi."
"Apa sebelumnya kamu pernah menggunakan pistol itu untuk melawan orang lain?"
"Pernah. Sewaktu aku akan dirampok di tengah jalan oleh sekelompok preman."
"Jadi sebelumnya kamu pernah menembak orang?"
"Enggak. Pistol itu aku gunakan untuk menakut-nakuti mereka aja."
Aaron menyayangkan sikap teledor dan gegabah Chika kali ini. Gadis itu tidak tahu saja kalau senjata api tersebut sangat berbahaya jika dibawa ke mana-mana, atau dimiliki oleh orang yang tidak profesional. Kalau seorang polisi ke mana-mana membawa pistol, itu tidak masalah. Tapi jika warga biasa seperti Chika, itu bisa saja membahayakan dirinya dan juga orang lain.
"Tolong jelaskan sama aku apa yang sebenarnya terjadi di sana."
"Aku hanya mendengar suara tembakan dari kamar Gavin. Waktu aku memasuki kamarnya, posisi Gavin udah nggak bernyawa. Dia terkapar di lantai dengan kondisi kepala tertembak. Aku menduga kalau pembunuhnya itu masuk dan keluar melalui jendela kamar Gavin."
Bagi Aaron, penuturan Chika tentang si pembunuh yang lewat melalui jendela itu cukup masuk akal. Nantinya Aaron dan tim akan melakukan pengecekan cctv di rumah korban.
Aaron merasa sudah cukup dengan pengakuan Chika. Ia lalu menyimpan hasil rekaman pembicaraannya dengan Chika tadi. Ini kali pertama Aaron menginterogasi seorang tersangka yang kenyataan bukan tersangka sebenarnya. Dari awal Aaron melihat Chika, ia sudah memiliki insting kalau gadis itu adalah gadis baik-baik. Dan sekarang Aaron sangat yakin Chika tidaklah bersalah. Ia sekarang memiliki tugas baru untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut lagi demi mencari pembunuh sebenarnya.
"Eum ... aku punya beberapa pertanyaan lagi buat kamu. Gimana perasaan kamu ke Gavin?"
Untung saja orang yang ia tanyai sedang dalam pengaruh hipnotisnya. Jika dalam kondisi sadar, mana mungkin Aaron berani bertanya masalah pribadi pada tahanannya. Aaron hanya ingin tahu bagaimana hubungan Chika dan Gavin sebelumnya. Karena menurut info yang ia dapat, Chika dan Gavin memiliki hubungan sepasang kekasih. Tapi kenyataan Aaron ingin mendengarnya dari Chika langsung.
"Aku nggak mencintai Gavin. Tapi aku terpukul banget kehilangan Gavin. Dia satu-satunya orang di dunia ini yang peduli sama aku."
"Bukannya kalian sepasang kekasih, kenapa kamu nggak mencintai Gavin?"
"Aku mendekati Gavin karena desakan dari ibu tiriku. Kami hanya mengincar hartanya aja."
Aaron lantas geleng-geleng kepala, heran. Pikirnya, gadis sepolos Chika bisa saja rusak jika terus-terusan hidup dengan seorang ibu tiri mata duitan seperti Risti.
"Menurut kamu, Gavin itu orangnya seperti apa?" Aaron semakin ingin tahu tentang Gavin dan juga Chika.
"Dia baik, setia, dermawan, dan selalu lembut sama aku."
"Kriteria pria idaman kamu seperti apa?" Pertanyaan Aaron sudah semakin ngawur saja.
"Nggak ada kriteria. Aku akan memilih seorang pria yang berhasil membuat aku jatuh cinta."
"Kasih tau aku gimana caranya membuat kamu jatuh cinta, astaga ...." Aaron baru sadar kalau pertanyaannya sudah kelewat batas. Ia pun melarang Chika untuk menjawab pertanyaan gilanya yang satu ini.
Tbc ...