Bab 7

1432 Kata
Pagi itu terlihat cerah seperti biasanya ketika Evant terbangun dari tidur panjangnya tadi malam dan menemukan smartphone istrinya berdering, sedangkan pemiliknya masih tertidur dengan lelapnya karena pengaruh obat yang di minumnya tadi malam. "Hallo," sapa Evant kepada Karin. "Hallo Mal, kok aku telephone dari kemarin nggak di angkat?" cerocosnya begitu saja. "Ini Evant, bukan Mala," sahut Evant dengan suara datarnya. "Eh, Evant ya, hehe," kata Karin cengengesan, "Malanya mana Vant?" tanyanya kemudian. "Ada nih, tapi dia masih tidur," jawab Evant. "Bilangin sama Mala ya kalau dia sudah bangun, nanti siang kita mau ke sana." "Kita?" "Ihh, lo ah kayak nggak tahu kita aja Vant, kita itu ya gue, Neta, sama Rima." Evant memonyongkan bibirnya, "Temen-temen Mala pada mau datang kesini, nggak bisa istirahat dong gue," gumam Evant dalam hati. "Hmm, oke, oke. Tapi, janji nggak boleh rusuh ya," pinta Evant kepada Karin. "Diihh, emang kenapa kalau kita rusuh," sahut Karin jengkel. "Mala kan lagi sakit," kata Evant dengan nada kesalnya. "Oh, Mala sakit ya, kok lo nggak ngomong dari tadi!" teriaknya hampir memekikan telinga Evant. "Nih orang apa setan," bisik Evant dalam hati. "Oke deh, kita janji nggak bakalan bikin rusuh," kata Karin. "Oke, nanti gue sampain pesan lo ke Mala," kata Evant kemudian menutup telephonenya tanpa menghiraukan Karin yang masih cerocos di telinganya. "Siapa yang telephone Pah?" tanya Mala yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. "Itu si Karin, Mah," jawab Evant. "Apa katanya Pah?" tanya Mala lagi. "Temen-temen Mamah katanya mau ke sini," jawab Evant. "Papah, bilangin nggak kalau aku lagi sakit?" "Ya Mah, udah aku bilangin kalau Mamah lagi sakit." Evant menatap Mala sambil menaruh smartphone istrinya ke atas meja. "Emangnya kenapa Mah?" tanya Evant balik. "Oh, nggak apa-apa kok Pah, waktunya aja kayaknya yang kurang tepat," jawab Mala cengengesan. "Kurang tepat kenapa?" "Lagi nggak pengen aja ada yang ganggu Pah, lagi males nerima tamu." "Tenang aja Mah, mereka nggak bakalan ribut kok, Papah tadi udah ngomong ke Karin, kalau ke sini nggak boleh ribut," kata Evant sambil tertawa. Mala pun ikut tertawa kecil melihat suaminya tertawa cekikikan, namun karena badannya masih terasa lemas sehingga dia tidak mampu untuk ikut tertawa cekikikan seperti Evant. "Aku mau mandi dulu Mah, nanti kalau temen-temen Mamah datang biar enak nyambutnya," ucap Evant seraya menuju ke kamar mandi. "Ya, Pah, Mamah mau tidur lagi aja soalnya masih ngantuk banget," sahut Mala. Mala pun kembali memejamkan kedua matanya dan perlahan tertidur. Di luar kamar ibunya sedang membangunkan Julliant yang harus segera berangkat ke sekolah. Bik Minah baru saja datang untuk membantu Bu Ana mengerjakan pekerjaan rumah. Bu Ana pun kemudian mengurus Clara yang baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Neneknya yang mencoba membangunkan Julliant. "Jul, mandi gih sana ini sudah jam berapa, biar nanti sarapan sama bekalnya Bik Minah saja ya yang buatin," kata Bu Ana. "Baik Nek," sahut Julliant seraya pergi ke kamar mandi. "Bik, bantu siapin sarapan untuk Julliant ya," pinta Bu Ana. "Baik Bu," sahut Bik Minah. Ibu Ana kemudian masuk ke dalam kamar Clara yang masih berantakan setelah bangun dari tidurnya, "Clara, kok pagi-pagi sudah berantakin mainannya," katanya kesal sambil membereskan mainan cucu perempuannya itu. Clara menoleh ke arah neneknya, "Tapi dede masih mau main, Nek," keluhnya tidak membalas kesal. "Mandi dulu, baru main," ucap Bu Ana yang kelihatan kecapekan karena harus mengurus kedua cucunya sendirian. "Dede mau s**u," pinta Clara dengan suaranya yang masih cadel. "Nanti Bik Minah yang bikinkan ya, Nenek capek banget." Clara mengangguk pelan, "Sama roti," tambahnya lagi. "Tapi mandi dulu, nggak boleh makan kalau belum mandi," bujuk Bu Ana. "Yeey mandi, Nenek yang mandiin dede ya," pinta Clara kemudian berlari ke luar kamarnya menuju ke arah kamar mandi, lalu menggedor pintu kamar mandi yang masih terkunci karena kakak laki-lakinya masih belum selesai mandi. "Tunggu dulu de!" Teriak Julliant kesal dari dalam kamar mandi, "Belum juga selesai dasar dede," gerutu Julliant. "Cepetan, kak," ucap Clara sambil berjingkrak-jingkrak di depan kamar mandi, kemudian menangis. Tidak lama kemudian Julliant keluar dari kamar mandi sambil mendengus kesal ke arah Clara yang juga membalasnya dengan menjulurkan lidahnya ke arah Julliant. "Wee..." Julliant mendengus kesal lagi kemudian menyikut adiknya dengan siku kananya sehingga Clara menangis. "Julliant..." kata Bu Ana sambil menjewer telinga cucunya. Julliant tertawa terbahak-bahak kemudian berlari ke arah kamarnya untuk segera memakai pakaian lengkap seragam sekolahnya. Tidak lama kemudian dia menuju ke dapur untuk menyantap sarapannya yang sudah di siapkan Bik Minah di meja makan bersama dengan bekalnya. "Jul, hari ini Papah yang antar kamu ke sekolah ya," ucap Evant yang baru saja tiba di meja makan. "Eh, Papah, kapan sampainya Pah, tiba-tiba aja udah ada di sini," kata Julliant, " Papah kayak anu...." "Kayak apa?" tanya Evant, "Setan?" Julliant cengar-cengir, "Hehe, becanda aja Pah," jawabnya pelan. "Huss, sembarangan kamu, Papah sendiri di bilang setan," kata Evant marah, "Kamunya aja yang kalau makan nggak lihat-lihat samping kiri-kanan lagi, rakus," balas Evant sambil terkekeh. "Anak sendiri di katain, dosa Pah," sahut Julliant memberitahu dengan berlagak sok dewasa. "Udah makan aja nanti telat tahu rasa kamu," kata Evant seraya pergi meninggalkan anak laki-lakinya yang masih dengan lahap meyantap sarapannya. Evant mengeluarkan mobilnya dari garasi, kemudian menyiapkannya sambil duduk santai di dalam mobil menunggu Julliant. "Julliant, ayo cepat nanti telat!" teriak Evant kepada Julliant yang masih duduk di sofa sambil memasang sepatu pada kedua kakinya. "Ya Pah, bentar lagi!" Sahut Julliant berteriak tidak kalah kerasnya. Julliant buru-buru ke luar rumah dengan membawa tas dan bekalnya, badannya yang gemuk terengah-engah setengah berlari menuju mobil yang masih berada di dalam pagar rumahnya. Evant buru-buru keluar untuk membuka pagar rumahnya setelah Julliant sampai dan masuk ke dalam mobil kemudian mereka pun berangkat ke sekolah Julliant yang berada lumayan jauh dari rumahnya. Bu Ana duduk di atas sofa ruang tamu karena kelelahan. Sedangkan Clara yang sedang meminum s**u cokelat ke sukaannya juga dengan roti yang ada di hadapannya, tengah asik menonton televisi di ruang tengah. Bik Minah sibuk membersihkan rumah sambil mencuci pakaian di mesin cuci. Sesekali dia ke dapur untuk mengecek cucian dan juga masakan yang sedang di masaknya untuk sarapan Mala dan Evant juga Bu Ana. "Bik," panggil Bu Ana. "Ya Bu," sahut Bik Minah yang tengah berjalan menuju ke ruang tamu sambil membawa pel yang ada di tangannya. "Buatkan aku teh ya, badanku pegal sekali," pinta Bu Ana. "Baik Bu," sahut Bik Minah seraya menaruh pel yang di bawanya ke samping pintu ruang tamu kemudian bergegas pergi ke dapur untuk membuat teh. Bu Ana pergi ke kamar Mala untuk menengok putrinya itu apakah sudah bangun atau belum, dengan sangat hati-hati beliau membuka pintu kamarnya Mala yang tidak terkunci. Ketika beliau menengok ke dalam ternyata Mala masih tidur dengan begitu pulasnya. "Masih tidur ternyata," gumam Bu Ana pelan kemudian menutup pintu kamar Mala kembali dengan hati-hati agar tidak membangunkan Mala. "Bu," ucap Mala yang tiba-tiba terbangun ketika ibunya menutup pintu. "Ya," sahut Ibu Ana kaget. "Tolong bilangin sama Bik Minah buatkan Mala s**u, Mala haus." "Oh, ya bentar ya nak, Ibu bilangin Bik Minah dulu." Ibu Ana cepat-cepat pergi ke dapur untuk mencari Bik Minah yang masih membuatkan teh untuknya. "Bik, sekalian buatkan s**u juga untuk Mala ya," pintanya kepada Bik Minah. "Oh, baik Bu," sahut Bik Minah mengangguk. Ibu Ana kembali ke ruang tamu untuk meregangkan otot-ototnya yang kencang. Maklumlah beliau sudah setua ini dan sudah sering sakit-sakitan makanya cepat sekali badan beliau merasa kecapekan. Tidak lama Bu Ana duduk tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti di depan pagar rumahnya Mala sambil menghidupkan klakson. Bu Ana mencoba menengok ke luar untuk melihat siapa yang datang, lalu melihat seorang perempuan muda cantik dan anggun seusia anaknya keluar dari mobil kemudian melambaikan tangannya ke arah Bu Ana. Bu Ana mencoba mengenali siapa perempuan cantik yang datang itu, namun, dia kesulitan untuk mengingatnya. "Hai Mom, pagarnya ke kunci, Neta nggak bisa masuk!" serunya dari luar pagar. Bu Ana kemudian mengenali suara perempuan itu, "Oh, Neta, bentar ya, Ibu bukakan pagarnya dulu," sahut Bu Ana seraya pergi ke luar untuk membukakan pagar rumah anaknya. "Maaf, ya Mom, jadi ngerepotin," ucapnya lembut kemudian tersenyum manis. "Ayo masuk," ajak Bu Ana. Neta masuk kembali ke dalam mobilnya, lalu, memarkirnya di halaman rumah Mala yang sangat luas dan indah. Tidak lama kemudian turun lah Rima dan Karin dari dalam mobil yang kemudian di susul oleh Neta sendiri. "Eh, ada Rima sama Karin juga ya," kata Bu Ana senang. "Ya Buk, kita mau nengokin Mala, katanya lagi sakit kan?" tanya Rima. "Iya, itu lagi istirahat dalam kamar masih nggak bisa bangun lemes katanya," jelas Bu Ana. "Emangnya sakit apa Buk?" tanya Karin. "Kecapekan mungkin baru pindah rumah," jawab Bu Ana, lalu mempersilahkan teman-teman Mala masuk ke dalam rumah, "Mari masuk Nak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN