“Lihatlah, bukankah bintang yang itu cantik? Dia yang paling bersinar di antara semuanya!” seru Mariana, jari telunjuknya menunjuk ke atas langit. Alon yang berada tepat di samping Mariana hanya diam dengan raut wajah datar, dia tidak begitu tertarik. Yang ada di pikirannya saat ini adalah… Bagaimana jika kepala suku atau salah satu bangsawan lain melihat dirinya dan Mariana diam-diam naik ke atas permukaan laut untuk melihat bintang tanpa izin terlebih dahulu?
“Hei, mengapa kau diam saja? Apa kau tidak terlalu menyukai bintang?” Mariana menyenggol pelan lengan Alon, keningnya mengerut sambil menatap Alon. Alon melirik Mariana kesal, lalu menjawab,”Tidak.” Maria yang mendengar ini segera menatap Alon aneh. “Dasar aneh, padahal hampir semua Siren sangat menyukai bintang. Memangnya, mengapa kau tidak menyukai bintang-bintang cantik ini?” tanya Mariana lagi.
“Bukan urusanmu,” balas Alon, membuat Mariana semakin tidak suka dengan sikap Alon. Di mata Mariana, Alon adalah anak yang tidak tahu sopan santun kepada lawan bicara, bocah laki-laki itu selalu berbicara ketus dan singkat, ekspresi wajahnya bahkan terlihat galak. Bukankah semua itu sangat berlawanan dengan tatakrama bersosialisasi antar bangsawan?
“Aku hanya bertanya, mengapa setiap ucapan yang keluar dari mulutmu itu terdengar menyebalkan sekali?” ujar Mariana kesal, Alon yang mendengar ini segera menjawab dengan nada mengejek,”Oh, benarkah? Sepertinya memang telingamu saja yang bermasalah. Setelah pulang dari sini aku sarankan untuk menemui Tuan Marquees Iaros dan meminta dia untuk memanggil dokter untukmu.”
“Kau!-“ belum sempat Mariana menyempurnakan ucapannya, Alon sudah memotongnya sambil menarik tangannya untuk kembali ke dalam laut sambil berkata,”Ayo kembali ke dalam! Ada kapal manusia yang mendekat!” Mariana terkejut, bahkan dia belum sempat berpikir Alon benar-benar telah menariknya ke dalam laut dengan sangat kencang.
“Hei, kau menarik tanganku terlalu keras!” seru Mariana kesal, tangannya bergerak memberontak dari tangan Alon. Alon melepas tangan Mariana, lalu berkata,”Ada kapal manusia, mengapa kau tidak bisa diam, sih?!” kesal Alon, kini dia sudah tidak dapat menahan kekesalannya untuk Mariana. Apa lagi punggung telapak tangannya terluka karena cakaran kuku Mariana yang satunya.
Mariana berdecak kesal, lalu membalas,”Kau pikir aku tidak tahu bahwa akan ada kapal manusia yang akan mendekat?!” Alon yang mendengar ini segera berkata,”Lalu mengapa kau hanya diam saja dan terus masih mengoceh? Kau ingin ditangkap oleh para manusia itu dan menjadikanku dalam masalah?!”
“Aku bisa menghadapi masalah itu sendiri tanpa bantuanmu! Memangnya kau pikir aku bisa bertarung dengan para manusia?!” seru Mariana kesal.
“Oh, jadi kau baru saja mengakui bahwa kau tidak bisa bertarung? Tentu saja, sih, melihat dari segi manapun kau memang Siren yang lemah. Kau mungkin bisa jadi adalah satu-satunya Siren yang memiliki suara sumbang,” ujar Alon dengan tatapan dan nada bicara merendahkan.
“Kau ini lama-lama menyebalkan sekali, sih! Apa karena kau adalah keponakan baginda sehingga kau jadi berperilaku semena-mena seperti ini? Sungguh, aku menyesal telah setuju untuk diantar pulang denganmu!”
“Hei, Nona, kau bahkan tidak langsung pulang dan malah melanggar peraturan di sini! Dan lagi, yang lebih menyebalkan di antara aku dank au adalah kau!”
Mariana menatap Alon lebih kesal. “Kau berperilaku seolah tidak mempunyai ibu! Apa ibumu tidak mengajarimu tatakrama?” Alon yang mendengar ucapan pedas Mariana segera membalas,”Memangnya kau sendiri memiliki ibu?”
Hening sejenak saat Alon bertanaya demikian, namun lalu Maria menajwab,”Tidak juga, sih….”
Setelah itu, mereka saling tatap dengan tatapan mata yang bermusuhan, lalu membuang muka. Maria menghela napas, kemudian melirik tangan Alon yang terluka dan berkata,”Itu… Luka ditanganmu, aku akan bertanggung jawab.”
“Ya,” balas Alon singkat.
___________
Maria membuka matanya, dia sempat tertidur tanpa sadar setelah sehariann mengelilingi kediaman bersama Nobia. Maria mengerutkan keningnya dan tersenyum tipis saat teringat dengan mimpinya yang konyol, dia barusan bermimpi menjadi Mariana dan kemudian berdebat dengan Alon hanya karena bintang.
Maria menoleh ke arah pintu, dia menunggu kedatangan Alon, namun pria itu tak kunjung datang. Mungkin karena pekerjaannya yang sangat menumpuk dan mengingat bahwa Alon telah hampir sebulan bersama dengannya di atas kapal tanpa mengurus pekerjaan serta kewajibannya.
Maria beralih berenang menuju rak buku yang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya berada. Satu hal yang Maria pertama kali pikirkan ketika memasuki kamar ini adalah pasti Mariana adalah pemilik kamar ini sebelumnya. Maria membaca judul-judul buku itu sekilas, tidak ada satu pun buku yang menarik perhatiannya untuk dibaca. Maria kini beralih berenang ke depan cermin, menatap bayangan dirinya. Mengingat lukisan Mariana yang sebelumnya dia lihat bersama Nobia, Maria kini mulai membandingkan dirinya dengan Mariana. Dari segi apa pun, bahkan bulu mata, mereka berdua sangat mirip. Hanya saja, Mariana memiliki bola mata biru cerah, sedangkan Maria cokelat.
Tatapan mata Maria beralih ke arah meja rias, dia tertegun saat melihat mahkota yang disimpan di dalam kotak kaca bening dengan sangat hati-hati. Mahkota itu persis dengan apa yang Maria lihat di lukisan Mariana, sepertinya mahkota inilah yang Mariana gunakan saat dirinya tengah dilukis. Maria menyentuh kotak kaca yang melindungi mahkota tersebut, sambil tersenyum tipis. Tangan Maria perlahan membuka kotak kaca tersebut. Dengan jari lentiknya, Maria mengusap tiara yang ada di mahkota. Kini kedua tangan Maria hendak mengangkat mahkota tersebut dengan hati-hati.
Maria perlahan meletakkan mahkota itu di atas kepalanya, entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat ini. Begitu mahakota-nya telah menempel di kepala Maria, Maria memperhatikan lagi wajahnya lebih dalam. Kini, dirinya dan lukisan Mariana terlihat sangat mirip. Tidak ada celah perbedaan kecuali warna bola mata. Mata Maria kemudian terpejam, otaknya entah mengapa mulai berkelana ke mana-mana, seperti mengingat suatu kejadian lalu. Kejadian yang pernah dia lihat di mimpi pertama sampai saat ini kembali terulang, yang lebih utama adalah mimpi saat dia dan Mariana bertemu dan berbicara berdua. d**a Maria kembali terasa sesak, kepalanya pening, dan tiba-tiba sakit tertusuk trisula yang Adelino lemparkan kembali terasa.
Maria sedikit terhuyung ke belakang, napasnya berubah menjadi tidak beraturan. Tangan kanannya memegangi mahkota indah yang tengah dia gunakan agar tidak jatuh dan pecah. Kedua mata Maria kini kembali berkaca-kaca, ingin menangis. Tidak, dia tidak ingin menangis karena rasa sesak, sakit tertusuk trisula, dan pening di kepalanya. Tidak ada rasa sakit fisik satupun yang membuatnya menangis saat ini, karena rasa sakit di hatinya, di perasaannya, dan di batinnya, jauh lebih besar.
Dari belakang terdengar pintu kamar dibuka, dan suara Alon yang berseru panik. “Maria!”
Maria segera menoleh dan menatap Alon, matanya masih berkaca-kaca dan kepalanya masih menggunakan mahkota tersebut. Untuk sesaat Alon tertegun ketika melihat Maria menggunakan mahkota Duchees, namun kemudian dia segera berlari mendekati Maria dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. “Ada apa? Ceritakan padaku.”
Maria menggigit bibir dalamnya, lalu menjawab,”Aku… Aku ingat semuanya.” Alon yang mendengar ini mengerutkan keningnya. “Ingat apa? Ada apa denganmu?”
Maria menggertakkan giginya, matanya semakin berkaca-kaca, satu sampai dua tetes air mata kini lolos dari pertahanannya. “Aku kini ingat bahwa aku adalah Mariana! Aku ingat seluruh kejadian di masa lalu! Aku ingat dirimu dan semuanya! Aku ingat saat Dewa mengizinkan aku untuk bereinkarnasi!”
Alon yang mendengar ini tertegun lagi, kemudian pria itu mengeratkan pelukannya. Alon mencium pucuk kepala Maria sekilas, lalu memejamkan matanya dan berkata,”Tentu, tentu sayang. Kau Maria dan Mariana-ku.”