"Kau... positif?" Aku tidak mengerti kenapa nada suaranya seperti itu, tapi firasatku sungguh buruk. Ada nada tidak percaya dan sedikit kesedihan pada suara beratnya, yang membuatku jadi berfikir ulang jika memberitahunya adalah ide yang baik. "K-kenapa? Apa kau tidak senang?" Aku berusaha keras menutupi rasa sedihku. Mataku tak henti-hentinya mempelajari ekspresi wajahnya, berharap satu senyuman muncul dari wajah tampannya itu. Tapi dia tidak bergeming. Lelaki itu menatap test kehamilan di tangannya dengan tatapan kosong. "Ethan..." Aku berusaha menggapai tangannnya, tapi tubuhnya menjauh selangkah dariku. Sebilah pisau seperti menembus jantungku. Dadaku sesak oleh perasaan yang tidak kumengerti. Ethan Gilbert, pria yang sudah membuatku jatuh cinta padanya seperti orang gila, ay
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


