Bab 3 : Flashback

2313 Kata
Tujuh tahun lalu, suara hujan juga turun seperti malam itu. Tidak selebat sekarang, tapi cukup untuk membuat udara dingin dan membungkus langit dengan aroma tanah yang basah. Di teras rumah tua bercat hijau pastel yang mulai mengelupas, seorang gadis duduk bersila sambil menatap jalan kosong di depannya. Di tangannya, segelas s**u cokelat hangat yang sudah kehilangan uapnya. Namanya Elira. Masih berusia tujuh belas tahun. Masih terlalu muda untuk mengerti bahwa cinta bisa menjadi sesuatu yang memabukkan sekaligus menyesakkan. Di rumah itu, ia tinggal bersama neneknya setelah kedua orang tuanya bercerai dan memilih jalan hidup masing-masing. Sejak kecil, Elira belajar untuk tidak berharap pada sesuatu yang tidak bisa ia genggam. Langkah kaki Elira terhenti di lorong fakultas yang tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia menjejakkan kaki di sana. Aroma lembap khas gedung tua bercampur dengan udara sore yang mulai dingin. Ia menatap deretan bangku kayu yang menghadap ke taman kecil di luar. Di sanalah ia dan Arel biasa duduk selepas kelas, membahas hal-hal sepele seperti rasa es krim favorit atau soal apakah cinta bisa berubah seiring waktu. Duduk di bangku itu, semua terasa begitu hidup kembali. Namun di antara kenangan yang lembut itu, ada satu bayangan yang membuat dadanya terasa sedikit sesak. Vano. Ia tidak pernah benar-benar menyebut nama itu, bahkan pada dirinya sendiri. Setelah Arel pindah ke luar kota, hidup Elira sempat kehilangan arah. Dan di tengah kekosongan itu, Vano datang seperti cahaya singkat di tengah kabut. Ia perhatian, mendengarkan, bahkan tahu cara membuat Elira tertawa. Tapi perlahan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang asing dan menyakitkan. Cemburu yang membabi buta, pertanyaan tanpa henti, dan kontrol yang diam-diam merampas kebebasannya. Elira menarik napas dalam. Ia tidak ingin mengingatnya sekarang, namun tempat ini justru membuka kembali pintu-pintu yang sempat ia kunci rapat-rapat. Suara langkah mendekat membuatnya menoleh. Dira muncul dengan botol minuman dingin di tangan, lalu duduk di sampingnya. "Masih inget tempat ini?" Elira mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. "Inget banget. Semua rasanya kayak kemarin." Dira menatap wajah sahabatnya dengan saksama. "Lo baik-baik aja?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Elira tahu arah pembicaraan ini perlahan menyentuh sesuatu yang belum siap ia buka. "Arel balik lagi, Ra. Lo mau gimana sekarang?" Elira menoleh ke arah taman. Tatapannya kosong sesaat sebelum akhirnya berbisik, "Nggak tahu. Dulu waktu dia pergi, gue mikir semuanya bakal selesai. Tapi ternyata malah makin berantakan." "Maksud lo... Vano?" Diam. Kemudian anggukan kecil. "Awalnya gue kira dia baik," gumam Elira. Suaranya nyaris tak terdengar. "Tapi lama-lama, gue ngerasa kayak kehilangan diri gue sendiri." Dira meraih tangan Elira dan menggenggamnya lembut. "Yang penting, lo udah nggak sama dia sekarang." Elira menatap lurus ke taman, seolah ada sesuatu yang masih tertinggal. "Tapi dia belum selesai. Kadang dia masih kirim pesan. Kemarin dia bilang pengen ketemu." "Mau lo bales?" "Gue nggak tahu. Gue bahkan nggak yakin dia datang karena nyesel atau cuma pengen ganggu lagi. Kadang, rasanya kayak dia sengaja muncul buat ngecek apakah gue masih lemah." Hening menyelimuti mereka sejenak. Hanya suara angin yang bermain di antara dedaunan tua yang jatuh satu per satu. "Elira," suara Dira terdengar lebih tegas sekarang, "kalau dia muncul lagi dan bikin lo ngerasa nggak aman, bilang ke gue. Atau ke Arel." Elira menunduk. Ia belum siap melibatkan Arel. Belum siap menunjukkan bahwa hidupnya tak sekuat yang terlihat. Tapi jauh di dalam dirinya, ia tahu. Akan ada pertemuan yang tidak bisa ia hindari. Pertemuan yang tidak hanya menguji keberaniannya, tapi juga keteguhan hatinya. Bukan hanya tentang menghadapi Vano, tapi juga tentang berdamai dengan luka yang selama ini ia sembunyikan dari dunia. Suatu malam, ketika listrik padam dan langit gelap tanpa bintang, ia mendengar suara gitar dari rumah sebelah. Itu bukan pertama kalinya, tapi malam itu berbeda. Suara petikan nadanya lebih lambat, lebih berat, seolah sedang membawa cerita yang belum sempat diucap. Elira menunduk, mencoba mengenali lagu itu. Lagu lama dari band indie lokal yang liriknya ia hafal di luar kepala. Dia menoleh ke pagar besi yang memisahkan halaman rumahnya dengan rumah tetangga. Di balik bayangan lampu minyak, tampak seorang anak laki-laki sedang duduk di atas pot semen besar, memeluk gitarnya. Rambutnya berantakan. Kausnya kebesaran. Tapi matanya menatap senar gitar dengan ketekunan yang aneh bagi seorang remaja lelaki. “Lagunya bagus,” ujar Elira pelan, cukup keras agar terdengar. Anak itu mendongak. Matanya sempat terkejut, tapi hanya sebentar. Lalu ia tersenyum. “Kamu tahu lagu ini?” “Siapa sih yang nggak tahu? Itu lagu lama, tapi selalu berhasil bikin orang merasa sendiri.” “Kamu juga merasa sendiri?” Elira diam. Lalu mengangguk. “Sering.” Anak laki-laki itu turun dari pot dan mendekat ke pagar. “Aku Arel.” “Elira.” “Aku baru pindah tiga bulan lalu. Rumahku kosong cukup lama karena nenekku sakit dan harus tinggal di luar kota. Sekarang aku tinggal di sini sama ayah.” “Kamu sering main gitar malam-malam?” “Kalau kepalaku terlalu penuh.” Elira mengangguk. Mereka tidak bicara lama malam itu. Tapi sejak pertemuan singkat itu, suara gitar selalu mengalun tiap malam dari rumah sebelah. Dan Elira, entah kenapa, mulai menunggu-nunggu malam datang. Seminggu kemudian, Arel datang ke teras rumah Elira dengan membawa dua gelas es teh manis dan buku puisi lama. Ia duduk tanpa diundang, membuka halaman dan mulai membaca pelan. “Kadang yang kita cari bukan seseorang untuk mencintai, tapi seseorang untuk mengerti.” Elira menatapnya lama. “Kamu suka puisi?” “Puisi adalah cara seseorang bilang aku luka tanpa kelihatan lemah.” Hari-hari berikutnya mereka isi dengan cerita. Tentang ibu Elira yang kini tinggal di luar negeri tanpa kabar. Tentang ayah Arel yang suka mengurung diri di kamar sejak ibunya meninggal. Tentang guru matematika yang terlalu galak. Tentang harapan kecil menjadi orang besar. Mereka berdua menjadi saksi bagaimana remaja bisa saling mengobati hanya dengan duduk bersebelahan dan diam dalam sunyi. Pada ulang tahun Elira yang ke delapan belas, Arel memberinya sebuah buku catatan kosong. Di halaman pertama tertulis, Untuk cerita yang belum sempat kamu bagi. Elira mengisi halaman itu dengan gambar-gambar kecil. Sketsa Arel sedang bermain gitar. Coretan tangannya sendiri yang menggambarkan pagar rumah, pohon jambu, dan langit kelabu. Buku itu menjadi ruang pribadi yang ia tahu tidak akan dihakimi. Mereka tidak pernah menyatakan cinta. Tidak pernah menggenggam tangan. Tapi semua orang tahu, bahwa ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang tumbuh diam-diam, seperti akar yang mencari air di bawah tanah. Tidak terlihat, tapi hidup. Hingga datang hari ketika Arel menghilang. Tanpa pesan. Tanpa salam. Rumahnya tiba-tiba kosong. Kata orang, ayahnya jatuh sakit dan harus pindah ke kota lain untuk pengobatan. Elira menunggu berbulan-bulan. Tapi tak pernah ada kabar. Ia kembali sendiri. Dan kali ini, tidak ada suara gitar untuk menemaninya. Empat tahun kemudian, mereka bertemu lagi. Di sebuah acara seni kampus. Elira berdiri di depan lukisannya. Arel sedang memotret pengunjung pameran. Mata mereka bertemu. Dan waktu seolah berhenti. Tapi pertemuan itu bukan awal baru. Itu adalah awal dari luka yang kembali terbuka. Sore itu, setelah acara berakhir, Elira menemukan secarik kertas terselip di balik katalog pameran yang ia bawa. Kertas itu berisi gambar sketsa dirinya sedang menatap kanvas. Di bagian bawahnya tertulis satu kalimat pendek dengan huruf tegak yang sangat ia kenali. “Masih ada cerita yang belum selesai.” Elira menahan napas. Ia menatap sekeliling, mencoba mencari Arel, tapi ruangan sudah hampir kosong. Ia meremas kertas itu pelan dan menyimpannya di dalam tas. Ada gelombang emosi yang tidak bisa ia jelaskan. Marah, rindu, kecewa, sekaligus lega. Malamnya, ia duduk di balkon kosnya, menatap langit dan memutar ulang kejadian-kejadian lama yang ia simpan rapat. Ia mengingat bagaimana Arel pernah menyelamatkannya dari hari-hari kelabu. Bagaimana tawa mereka dulu bisa mengusir rasa takut. Tapi ia juga mengingat malam-malam setelah kepergian Arel. Tangis diamnya. Surat yang tidak pernah dikirim. Rasa kehilangan yang terlalu dalam untuk diceritakan. Di waktu yang sama, Arel duduk di meja kerjanya, menatap sketsa yang baru saja ia gambar. Di layar ponselnya, ada kontak Elira yang belum ia buka kembali. Jarinya sempat menyentuh layar, tapi urung mengetik apa pun. Keduanya kembali ke tempat yang sama. Bukan secara fisik, tapi secara rasa. Tempat yang penuh kemungkinan. Penuh ketakutan. Tapi juga harapan. Dan malam itu, keduanya sama-sama menulis. Arel menulis di jurnal digitalnya. Elira menggambar di halaman terakhir buku yang dulu ia dapat dari Arel. Mereka belum bicara. Tapi hati mereka sudah mulai saling mengetuk. Keesokan paginya, Elira memandangi layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Tidak ada notifikasi dari Arel. Tidak juga dari siapa pun. Tapi di dalam pikirannya, ada percakapan yang terus berjalan. Percakapan yang belum diucapkan, namun terasa nyata. Di kampus, ia berjalan lebih pelan dari biasanya. Matanya menyapu sekeliling, entah mencari atau menghindar. Tapi Arel tidak terlihat hari itu. Yang ada hanya Dira, yang langsung menarik tangan Elira untuk duduk di bangku panjang depan fakultas. “Kamu nggak fokus,” kata Dira tanpa basa-basi. “Mata kamu kayak orang yang baru habis nyasar ke masa lalu.” Elira menatap sahabatnya dengan senyum miris. “Mungkin aku emang lagi nyasar. Tapi aku juga nggak yakin mau balik.” “Kalau tempat yang kamu tuju bikin kamu tenang, kenapa harus balik?” Elira mengangguk pelan. Tapi hatinya tidak semudah itu diyakinkan. Apalagi ketika kenangan yang kembali itu tidak hanya tentang rasa nyaman, tapi juga tentang luka. Luka yang belum tahu apakah siap dibuka kembali atau justru akan semakin dalam. Malam itu, Elira memberanikan diri menulis pesan. Singkat saja. Elira: “Gambarnya bagus. Tapi aku lebih ingin dengar cerita lengkapnya.” Tiga menit. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada balasan. Elira meletakkan ponselnya dan mencoba tidur, tapi pikirannya masih bergulat. Ia tidak tahu harus menyesal atau lega telah mengirim pesan itu. Keesokan harinya, saat ia hendak keluar kamar, ponselnya bergetar. Arel: “Besok sore. Taman jambu dekat rel. Kita ceritakan yang belum selesai.” Elira membaca pesan itu berulang kali, seolah takut huruf-hurufnya akan menghilang. Ia tidak membalas, tapi dalam hati ia tahu, ia akan datang. Hari itu, waktu terasa berjalan lebih lambat. Elira tidak bisa fokus mengerjakan tugas atau menanggapi percakapan teman-temannya. Semua pikirannya tertuju pada pertemuan esok. Pada Arel. Dan pada dirinya sendiri. Saat hari yang dijanjikan tiba, Elira datang lebih awal. Ia duduk di bangku taman, tepat di bawah pohon jambu yang sudah berbuah kecil-kecil. Tempat itu masih sama. Masih sepi. Masih menenangkan. Tapi dadanya justru penuh kegaduhan. Sepuluh menit kemudian, Arel datang. Langkahnya pelan. Wajahnya tenang, tapi ada gugup yang tak bisa disembunyikan. Ia duduk di samping Elira tanpa berkata apa pun. Beberapa menit mereka hanya diam. Lalu Arel membuka suara. “Waktu aku pergi, aku nggak tahu gimana cara ninggalin kamu.” Elira menoleh. “Tapi kamu tetap ninggalin.” Arel menunduk. “Ayahku butuh perawatan intensif. Kami harus pindah ke Bandung malam itu juga. Semua serba mendadak. Aku... takut bilang ke kamu. Aku takut kamu tambah kecewa.” “Kamu pikir aku nggak kecewa saat kamu pergi tanpa kabar?” Arel menarik napas panjang. “Aku bodoh. Aku kira waktu bisa nyembuhin semuanya. Tapi ternyata... waktu cuma bikin aku sadar kalau yang hilang nggak selalu bisa diganti.” Elira menatap lurus ke depan. “Aku nunggu kamu lama. Setiap malam aku duduk di balkon, nunggu suara gitar dari rumahmu.” “Dan aku setiap malam nulis di jurnal, berharap suatu hari bisa balik ke tempat yang dulu.” Mereka saling diam lagi. Tapi kali ini tidak menekan. Justru seolah memberi ruang bagi mereka untuk menerima kenyataan. “Aku nggak tahu harus berharap apa dari pertemuan ini,” kata Elira pelan. “Tapi aku tahu, aku nggak mau pura-pura nggak pernah ada apa-apa antara kita.” “Aku juga. Aku cuma pengen jujur. Bahwa rasa itu belum pernah hilang. Mungkin udah berubah bentuk, tapi dia tetap ada.” Elira tersenyum kecil. “Aku nggak minta kita balik ke masa lalu. Tapi kalau kita mau jalan ke depan, aku ingin tahu kita ngelangkah ke arah yang sama.” Arel menatapnya. Lama. “Kalau kamu mau, aku siap belajar melangkah lagi. Bareng kamu.” Dan di bawah pohon jambu itu, mereka saling mengangguk. Bukan sebagai janji, tapi sebagai awal. Mungkin akan ada rintangan. Mungkin akan ada luka lama yang terbuka. Tapi mereka memilih untuk tidak lari. Di tempat itu pula, Elira akhirnya membuka halaman baru di buku catatannya. Ia menggambar dua orang duduk di bawah pohon jambu, bersebelahan tapi tidak bersentuhan. Di atasnya, ia menulis: “Kita tidak harus menggenggam tangan untuk saling menggenggam hati.” Namun hari-hari yang mengikuti pertemuan itu justru lebih sunyi dari yang Elira harapkan. Mereka tidak langsung menjadi akrab kembali. Tidak langsung bertukar pesan setiap malam seperti dulu. Ada jarak yang tetap mereka jaga, mungkin sebagai bentuk hati-hati, atau mungkin sebagai bentuk hormat pada luka masing-masing. Di balik senyum yang kini lebih sering muncul di wajah Elira, ada ragu yang belum hilang. Ia takut terlalu berharap. Takut kenyataan akan kembali mengulang cerita lama. Namun setiap kali Arel datang, meski hanya menyapa singkat di lorong kampus atau duduk di taman dengan jarak satu bangku, hati Elira menghangat. Sementara itu, Arel sibuk dengan proyek akhir semesternya. Ia mengambil tema tentang kehilangan dalam bentuk visual fotografi. Setiap hasil jepretannya adalah cerminan dari perasaan yang tidak pernah sempat ia ucapkan. Dalam diam, Arel masih menggambar Elira. Ia masih memotret sudut-sudut yang mereka lewati bersama. Masih memutar lagu yang dulu mereka sukai diam-diam. Ia ingin memastikan dirinya benar-benar siap, bukan hanya untuk kembali bersama, tetapi untuk menjadi tempat pulang yang utuh. Ia tahu, jika ia ingin Elira percaya, ia harus lebih dulu berdamai dengan rasa bersalah yang ia bawa selama ini. Di waktu yang sama, Clarisa, perempuan dari masa lalu Arel, terus mengamati dari kejauhan. Ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk mendekat, membawa kabar yang bisa menggoyahkan semua harapan yang mulai dibangun Arel dan Elira. Dan ketika suatu sore, Clarisa muncul di depan pintu kos Elira dengan senyum tipis dan nada suara manis yang terasa menusuk, Elira tahu, babak baru akan dimulai. Bukan tentang kenangan. Tapi tentang ujian yang akan menentukan apakah yang mereka punya cukup kuat untuk bertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN