Bab 8: Sunyi yang Riuh

838 Kata
Hari-hari setelah kepergian Arel terasa sunyi, tapi bukan jenis sunyi yang tenang. Ini adalah sunyi yang penuh gema, seperti berada di ruangan kosong yang setiap bisikannya memantul dan terdengar ribuan kali lebih nyaring dari seharusnya. Elira bangun lebih pagi, bukan karena semangat, tapi karena tidak bisa tidur nyenyak. Ranjang yang sama, langit-langit yang sama, namun rasanya berbeda. Seperti dunia mengecil, dan seluruh suaranya hanya tentang penyesalan yang ia ulang dalam kepala. Ia menyalakan air, membiarkan keran kamar mandi mengalir lebih lama dari biasanya. Bukan untuk mandi, tapi hanya untuk mengisi kekosongan. Suara air menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih ada yang hidup di sekitarnya. Tak ada Arel yang menunggu di bawah dengan dua gelas kopi. Tak ada pesan pagi berisi pengingat makan atau sekadar, "Kamu kuat hari ini." Yang tersisa hanya dirinya sendiri. Dengan sepi yang mulai menua dan suara-suara masa lalu yang datang tanpa diundang. Dira sesekali mengajaknya keluar, tapi Elira selalu punya alasan. Terlalu banyak tugas, pusing, lelah, atau sekadar ingin sendiri. Padahal, yang sebenarnya terjadi, ia takut dunia luar akan mengingatkannya bahwa Arel benar-benar menjauh. Dan lebih dari itu, ia takut bahwa dirinya yang sekarang bukan lagi seseorang yang bisa dicintai kembali. Pamerannya sempat mendapat sorotan media lokal. Ia diwawancarai. Ia tersenyum. Ia menjawab dengan percaya diri. Tapi ketika kamera mati, Elira kembali menjadi versi dirinya yang paling diam. Ia mengunci kamar hotel sendirian dan menatap langit yang gelap dari balik jendela, bertanya-tanya, apakah Arel melihat berita itu? Apakah ia masih mengikuti setiap langkahnya dari jauh? Lukisan-lukisannya pun berubah. Tidak ada lagi warna terang. Semua jadi monokrom. Guratan-guratannya kasar, penuh tekanan. Seolah setiap kuas adalah teriakan yang tidak pernah sempat keluar dari mulutnya. Ia mengambil kuas kecil dan menambahkan satu guratan merah muda di kelopak bunga yang paling bawah. Hanya satu. Tapi cukup untuk membuat lukisan itu terasa seperti harapan yang tumbuh dari patah yang paling dalam. Suatu malam, ia membuka pesan-pesan lama. Percakapannya dengan Arel. Ia membaca ulang semuanya, dari awal hingga akhir. Dari perkenalan ringan, pertengkaran, hingga pengakuan perasaan yang paling jujur. Dan di satu titik, ia berhenti pada satu pesan: "Aku nggak janji bisa terus kuat, tapi aku janji nggak akan ninggalin kamu sendirian." Dan air matanya pun jatuh. Bukan karena Arel mengingkari janji itu. Tapi karena ia sendiri yang memintanya pergi. Ia menyentuh layar, seperti bisa menyentuh kembali kebersamaan mereka yang sudah lewat. "Rel... kamu masih denger suara aku nggak, sih?" bisiknya, lirih. Tapi hanya kesunyian yang menjawab. Beberapa hari kemudian, Elira mendapat kabar dari Dira bahwa Clarisa mengadakan pameran pribadi. Bukan hanya itu. Salah satu lukisannya diduga menjiplak karya Elira. Ia mengangkat tema yang sama, bahkan gaya visual yang serupa. Awalnya Elira tidak peduli. Tapi ketika ia tahu Clarisa menggunakan narasi pribadi Elira—tentang luka, tentang kehilangan—dalam deskripsi karyanya, ia merasa hancur. "Dia bukan cuma nyakitin kamu lewat Arel, Ra. Tapi sekarang lewat karya kamu juga," ucap Dira geram. "Aku tahu. Tapi aku capek marah, Dir. Aku capek harus nunjukin aku yang benar." "Lo nggak harus marah. Tapi lo nggak boleh diam. Clarisa ngambil bagian dari lo yang paling dalam, dan dia pajang kayak itu milik dia." Elira tak menjawab. Tapi malam itu, ia melukis hingga subuh. Tanpa berhenti. Kanvas besar itu ia isi dengan dua sosok yang berdiri membelakangi satu sama lain. Di antara mereka ada celah, dan dari celah itu tumbuh bunga. Tapi bunga itu tidak berwarna. Hanya hitam dan putih. Sebuah metafora yang hanya bisa dipahami oleh dua hati yang pernah saling mencintai, lalu saling kehilangan. Dan saat lukisan itu selesai, Elira tahu, ini bukan tentang Clarisa. Bukan tentang Vano. Ini tentang dirinya sendiri. Tentang keberaniannya menatap luka dan tetap memilih menciptakan sesuatu darinya. Ia mengambil kuas kecil dan menambahkan satu guratan merah muda di kelopak bunga yang paling bawah. Hanya satu. Tapi cukup untuk membuat lukisan itu terasa seperti harapan yang tumbuh dari patah yang paling dalam. Satu minggu setelah itu, Elira menerima sebuah amplop kecil di meja kamar kosnya. Tidak ada nama pengirim. Tapi di dalamnya, ada foto. Foto dirinya dan Arel duduk di bangku taman. Di balik foto itu tertulis: "Masih yakin kamu bisa sendiri?" Tangannya gemetar. Ia tak tahu siapa yang mengirim. Tapi ia tahu ini bukan lelucon. Ia duduk lama malam itu. Di depan lukisan barunya. Hujan turun perlahan di luar jendela. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat segalanya terasa lebih berat. Ia tahu, ia tidak bisa terus begini. Tidak bisa hanya menunggu atau bersembunyi. Ia harus memilih. Maju atau hancur. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Arel pergi, Elira mengambil ponselnya. Ia membuka kontak Arel. Jemarinya sempat ragu, tapi akhirnya ia mengetik: "Kalau suatu hari aku bilang aku siap hadapi semuanya, termasuk diriku sendiri... kamu masih mau denger?" Pesan itu terkirim. Dan Elira menutup matanya. Bukan untuk lari dari kenyataan. Tapi untuk bersiap menyambut apa pun jawabannya. Karena ia tahu, jika hari itu datang, ia harus jadi versi dirinya yang paling jujur. Dan untuk pertama kalinya, malam terasa sedikit lebih sunyi. Tapi sunyi yang tidak lagi menakutkan. Sunyi yang terasa seperti awal dari sesuatu yang baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN