"Sini," titah Stevan. Sena hanya menurut, ia beranjak dari sofa yang ia duduki dan berpindah ke sofa yang dipakai Stevan. Ketika wanita itu duduk, Stevan langsung merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Sena sebagai bantal kepalanya. "Nyamannya," ucapnya lirih sambil tersenyum. Sena ikut tersenyum, tangannya mulai membelai rambut Stevan dengan penuh kasih sayang. "Kenapa Pak Danu ke sini? Marah karena kamu tempatin Pak Kevin sebagai karyawan magang?" tanya Sena lirih. "Hm," sahut Stevan singkat dan lirih. "Tadi kamu ngomong apa aja sama Mama?" Stevan ganti mengajukan pertanyaan untuk Sena. "Apalagi? Mama kamu pasti khawatir banget. Beliau ke sini cuma mau tanya apa semalem kamu maksa aku atau enggak." Sena mencubit hidung Stevan, membuat sang pemilik hidung mengernyit indah. "Ayo m

