Sena pulang dengan perasaan yang bercampur-aduk. Kesal, kecewa, marah dan takut. Anda ia bisa menyerah, ia ingin menyerah dan mengakhiri semua itu. Namun, kenangan ayahnya yang mengorek sampah demi mendapatkan makanan sisa kembali hadir di benaknya. Ia tak ingin ayahnya kelaparan, belum lagi jika mengingat kondisi kesehatan sang ayah yang semakin memburuk. Sesampainya di penginapan, Sena begitu terkejut karena sang ayah tak berada di kamarnya. Sena kebingungan, pergi ke sekitar penginapan sembari berteriak memanggil ayahnya. Sayangnya, tak ada hasil. Sena kemudian duduk di ranjang, lalu menunduk dan meremas rambutnya. Ia mengira kalau ayahnya pasti pergi ke rumah kontrakannya dulu demi menemui ibu dan saudara tirinya. Sena ingin marah, namun ia sendiri tak yakin kalau kemarahannya ma

