Azela menghela nafasnya sejenak sebelum melangkah mantap memasuki ruangannya, walaupun kerutan di keningnya sama sekali belum menghilang sejak ia meninggalkan rumahnya.
Ada sesuatu yang jelas mengganggunya.
"Pagi, Zela!"
"Pagi."
Sahutnya nyaris seperti gumaman tak jelas yang membuat Karin dan Nathan saling melempar tatapan.
"Kau baik-baik saja?"
Gadis itu mengangguk seraya memperbaiki letak kacamatanya. Sekali lagi melirik iPhone-nya.
"Laura belum datang?"
Tanya Azela menatap meja tepat di depan ruangan Rafael. Meja sekretaris pria itu.
"Belum, tapi Lena bilang dia absen hari ini."
Lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk sebelum sekali lagi melirik iPhone-nya.
"Kau dan Manajer-baik-baik saja kan?"
"Apa?"
Sahut gadis itu menatap teman terdekatnya dengan kening yang semakin berkerut.
"Maksudku, kau dan Manager tidak sedang bertengkar bukan?"
Azela menggeleng pelan sebelum menyalakan komputernya, membuat Karin melemparkan tatapan pada Nathan yang sama bingungnya.
"Manager belum menelfonmu?" tebak Nathan yang diangguki dengan lesu oleh gadis itu.
"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya.
Sejak kemarin dia tidak bisa dihubungi."
"Azela."
Karin menepuk bahu mungil gadis menggemaskan itu.
"Jangan khawatir, Zela. Malam ini dia pasti menghadiri undangan Tuan Leo."
"Tuan Leo?"
"Yup, seharusnya kau datang saat perayaan kemarin. Karna Boss besar kita yang sangat tampan itu menerima undangan basa basi itu, dia bahkan memanggil kita makan malam nanti"
"Boss besar."
Gumam Azela tampak berfikir keras sbelum memekik pelan nyaris membuat Karin dan Nathan terperanjat.
"Ada apa?"
Azela menggit bibirnya, menghela nafasnya pelan sebelum kembali menggeleng dan memeriksa komputernya. "Nathan." "Hm?"
Karin mendekat dan duduk di samping pria itu sedikit berbisik agar Azela tak mendengarnya.
"Menurutmu, kita harus mengatakannya?"
"Aku tidak tahu. Tapi, tidak biasanya mereka seperti ini."
"Apa jangan-jangan-"
"Karin, jangan menakutiku."
"Tapi, 'kan--"
"Oh, tidak! Jangan sampai hal itu terjadi."
"Nathan."
"Aku bisa mendengar kalian."
Karin dan Nathan tampak salah tingkah mendengar celetukan Azela yang masih terpaku pada layar komputernya yang dipenuhi oleh sejumlah angka. Tangan kanannya tampak mencoret-coret entah apa di atas kertas.
"Lihat. Gadis itu selalu bekerja keras untuk kita semua."
"Benar-benar, Aku ingin mempunyai kekasih sepertinya."
"Jika kalian tidak bisa diam, aku akan menyerahkan pekerjaan ini pada kalian."
Dan akhirnya mereka terdiam untuk tidak membicarakan Azela dan hal hal di sekitarnya.
**
Leo bersidekap seraya bersandar pada kursi kebesarannya. Menatap Harry yang berdiri dengan kaku diseberang mejanya sembari menjelaskan beberapa informasi padanya.
Tentang Azela.
Kazela Kinova.
Ayah Azela--Alex, adalah pengusaha kecil-kecilan yang menjual berbagai alat bangunan. Ibunya pemilik toko kue sederhana di pinggir kota. Dan ia memiliki satu saudara perempuan. Lulusan sekolah menengah swasta yang cukup terkenal.
"Dia tidak kuliah, bagaimana bisa ia memasuki perusahaan ini dengan mudah dan bahkan bekerja di divisi Rafael?"
Tanya Leo dengan tajam, Harry menghela nafasnya pelan. Bertahun-tahun bersama Leo tidak bisa membuatnya kebal dari tatapan tajam pria itu.
"Profesor George yang merekomendasikannya setelah satu tahun dibimbing langsung olehnya. Desainnya selalu mampu mencuri banyak perhatian dan semua itu dapat direalisasikan oleh Nathan dan anak orang orang Tuan Rafael lainnya."
Leo mengangguk pelan sebelum melirik jam tangan yang melingkar begitu sempurna di lengannya.
"Panggil Kalvian dan jemput aku sebelum makan malam."
"Baik, Tuan."
**
Azela menatap pantulan dirinya pada cermin di toilet sebuah restaurant mewah di mana Nathan dan Karin membawanya makan siang. Ia mendesah pelan sebelum kembali memakai kacamatanya dan bergegas keluar. Ia menghentikan langkahnya saat melihat seorang pria dengan setelan jasnya baru saja melewatinya dengan langkah panjangnya.
"Itu-"
Azela kehilangan kata katanya, saat pria itu menoleh dan menatapnya sekilas seolah mereka sama sekali tidak pernah bertemu sebelum kembali melanjutkan langkahnya memasuki toilet pria.
"Aneh."
Gumam Azela setelah memperbaiki letak kacamatanya dan berbalik melanjutkan langkahnya untuk mencari meja yang Nathan dan Karin pesan.
"Kau benar-benar kacau, dear."
"Tidak seburuk itu, Karin."
"Ck! Berhentilah mengobrol dan segera pesan makanan."
Nathan menengahi sebelum Karin lagi-lagi berputar membicarakan Azela dan Rafael.
**
Leo duduk dengan kaki yang disilang bersandar pada sandaran kursi, menatap meja panjang dengan hidangan menggiurkan sementara Harry tampak berdiri dengan kaku tidak jauh dari tempatnya.
"Maaf, Tuan Leo. Kami terlambat."
Leo hanya mengangguk menanggapi Rafael yang duduk di sampingnya nyaris bersamaan dengan gadis bergaun merah-yang ia kenali sebagai sekretaris Rafael--ikut memberi salam padanya.
"Karin? Apa Azela tidak datang lagi?"
"Dia bilang ia akan datang, Manager. Ah, seharian ini dia mencarimu."
"Ya, aku tahu. Tapi aku sedang sibuk."
Tepat saat Nathan duduk di samping Karin, Rafael segera menegakkan bahunya dan menatap Leo.
"Maaf jika ini lancang, Tuan Leo. Tapi, apa maksud dari undangan makan malam ini? Apa ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan?"
Leo hanya tersenyum tipis. Bukan senyum ramah ataupun senyum manis--mengingat interaksi seperti itu merupakan hal yang sangat jarang dilakukan pemimpin mereka ini.
"Ya."
"Boleh kami tahu?"
Leo menggerakkan tangannya memberi tanda agar Harry segera menjelaskan semuanya.
"Tuan Leo ingin membangun rumah dengan bantuan kalian, untuk desain sepenuhnya akan ditangani oleh Nona Kazela Kinova."
"Maaf. Aku terlambat."
Mereka serempak menoleh kearah sumber suara. Seorang gadis tampak memasuki ruang makan dengan tenangnya.
"Azela?"
Gadis itu tersenyum seraya mengangguk. Sama sekali tidak terganggu dengan tatapan yang menghujamnya karna pakaian yang ia gunakan.
Hot pants berwarna merah dan tanktop berwarna putih yang dilapisi cardigan yang melewati lututnya. Kaki yang entah bagaimana terlihat jenjang itu hanya berbalut converse merah pudar dengan rambut di cepol asal-asalan dan tanpa kacamata di wajah polosnya.
"Sayang, kemarilah."
Rafael bangkit ingin menyambut kekasihnya, namun yang di dapatinya adalah sebuah pukulan telak dari t as selempang yang menghantam wajahnya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Azela!"
"Ya Tuhan!"
Mereka memekik tertahan melihat gadis itu hanya menunjukkan wajah datarnya sementara Rafael meringis menyentuh sudut bibirnya.
"Jangan memanggilku dengan panggilan menjijikkan!"
"Hei, ada apa denganmu?" bentak Laura seraya menghampiri Rafael yang membuat Azela mengernyit dengan tatapan jijik.
"Azela, ada apa denganmu?"
Azela melangkah mundur saat Rafael mendekatinya. Ia berdecak pelan sebelum melemparkan tatapan tajam pada Laura.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu."
"Kau benar-benar kurang ajar, Azela! Bagaimana--"
"Tutup mulutmu, jalang!"
"Azela!"
Teriak Laura, yang lainnya hanya menatap gadis itu tak percaya. Nyaris melupakan jika Leo pemimpin besar mereka yang terlihat begitu menikmati pertunjukan satu babak itu.
"Dengar. Kalian berdua adalah manusia paling
menjijikkan yang pernah aku temui."
"Azela, kenapa kau bicara seperti itu?"
Ucap Rafael mencoba berbicara dengan gadis itu, namun lagi-lagi ia mendapat satu hantaman tas yang entah berisi apa di kepalanya dan lagi lagi mengungundang jeritan dan pekikan tak percaya.
"Cih. Menikmati tubuh sekretarismu ini Manager Rafael? Apa kau puas?"
"Kau!"
"Apa?"
"Itu karena kau tidak bisa memuaskan Rafael di ranjang. Jangan salahkan aku!"
Azela mengepalkan tangannya menatap Rafael dan sekretaris sialan keparatnya denuh kebencian.
"Azela."
"Jangan sebut namaku, b******k!"
Rafael menyerah. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Semuanya tidak semudah dengan apa yang ia bayangkan.
"Jangan berpura pura, Azela. Jika kau ingin belajar memuaskan pria, aku bisa mengajarimu."
Azela mendecih melihat senyum penuh kemenangan Laura yang seketika lenyap setelah mendengar ucapan Azela.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin mengambil pekerjaan jalang sepertimu. " ujar Azela penuh penekanan sebelum berbalik meninggalkan ruangan dengan suasana menegangkan dan Leo yang nyaris kehilangan kendali.
Leo ingin tertawa bertepuk tangan dan memberi gadis itu sebuah penghormatan atas keberaniannya dan sialnya ia juga nyaris kehilangan kendali, menerjang gadis itu dan melumat bibir menggodanya habis habis dengan liar dan panas
Gadis itu ... benar-benar.
"Harry, aku ingin pulang," Leo menyeringai, "menemui ibuku."
**