Mentari menanggung malu seumur hidupnya. Keluarganya tak ada yang mau menerimanya saat Mentari yang seorang pelajar SMA hamil di luar nikah.
Ayahnya mendesak agar gadis itu mengatakan siapa ayah dari janin yang dikandungnya. Mentari diam. Ia tak mungkin mengatakan kepada orang tuanya jika pria yang menghamilinya bukanlah manusia. Melainkan manusia serigala yang ditemuinya di hutan Fantasia.
Kehamilan Mentari lebih lama dari manusia pada umumnya. Sudah lebih dari lima belas bulan sang jabang bayi enggan untuk keluar dari perut ibunya.
Hingga waktu persalinan pun tiba. Mentari melahirkan seorang diri di kamar tanpa bantuan siapa pun. Proses panjang menyakitkan itu berlangsung hingga 12 jam lamanya.
"Oek ... oek ... oek ...."
Suara tangis bayi membuat kedua orang tua Mentari meringsak masuk ke kamar putrinya.
"Astaga, Mentari! Bayi apa yang kau gendong itu?" tanya ibunya seraya memegang d**a yang terasa begitu sesak dan sakit.
Ibunya yang memiliki penyakit jantung mengalami serangan dadakan saat melihat putrinya menggendong bayi berbulu.
"Ibu!" teriak Mentari melihat ibunya jatuh tersungkur di depan pintu kamarnya.
Mentari mendekati ibunya dengan bayi berbulu yang berada dalam dekapannya. Ia melangkah tertatih karena masih merasakan sakitnya setelah melahirkan.
"Jangan mendekat, Mentari! Bawa pergi jauh bayi itu dari ibumu!" bentak ayah Mentari yang mencoba membangunkan istrinya.
"Ayah, bagaimana kondisi ibu?" Air mata Mentari tak bisa dibendung lagi. Ia memundurkan langkahnya. Menjauhi kedua orang tuanya yang terlihat begitu terkejut dengan kehadiran bayi mungil berbulu yang tak berdosa itu.
"Ibumu meninggal, Mentari! Bayi itu membawa kutukan!" teriak ayah Mentari yang kini berlari keluar.
Sang ayah yang terpukul dan merasa dirinya tak becus mendidik anak memilih mengakhiri hidupnya menyusul istrinya yang lebih dulu berpulang.
Kesedihan akibat ditinggal orang terkasih karena putrinya yang terlahir aneh tak membuat Mentari mengurangi rasa kasih sayangnya kepada sang putri yang ia beri nama Riuna.
Riuna, nama yang diambil dari nama sang ayah yang sudah tidak mungkin ia temui lagi. Ryumet, kesatria pedang yang merupakan kaki kanan raja hutan Fantasia.
Riuna tumbuh menjadi gadis yang cantik. Semakin hari bulu di tubuhnya menghilang. Ia tumbuh normal seperti gadis biasa. Hanya saja, Riuna tidak boleh marah. Bencana akan terjadi saat Riuna marah dan membuat kukunya memanjang dan mencakar apa pun yang ada di hadapannya.
Gadis ini sudah tumbuh dewasa. Cantik, anggun, berkulit putih seperti Mentari. Usianya sudah dua puluh tahun. Namun, ia belum pernah tahu cerita mengenai sang ayah yang tak pernah ditemuinya.
"Bu, ingatkah janjimu untuk menceritakan sosok ayah padaku? Aku sudah berusia 20 tahun. Aku ingin tau siapa ayahku dan mengapa saat aku marah kuku ku menjadi panjang?" tanya Riuna pada ibunya.
Mentari yang sedang mengupas apel untuk anaknya segera meletakkan pisaunya. Ia duduk di samping Riuna dan mulai menceritakan kisahnya.
Mentari mengatakan jika saat itu ia mencintai Samuel, teman sekolahnya yang merupakan seorang yatim piatu. Sam tinggal di sebuah panti asuhan yang kini sudah tidak ada lagi.
Suatu hari Mentari dikenalkan dengan perempuan bernama Naina oleh Sam. Wanita asing yang selalu mengenakan penutup kepala dan rok panjang. Tak ada yang mencurigakan dari sosok Naina. Hingga Mentari mampu membaur bersama teman baru Sam.
Suatu hari, mereka bertiga belajar bersama di panti asuhan. Keanehan mulai terjadi saat Mentari membuka bedak padat yang selalu ia bawa. Cermin pada wadah bedak bersinar dan menyedot mereka bertiga menuju tempat asing bernama hutan Fantasia.
"Apa ayahku itu Sam?" tanya Riuna.
"Bukan, Sayang!" Mentari kembali melanjutkan ceritanya.
Sam yang dicintainya itu ternyata pewaris takhta raja hutan Fantasia. Ayah Sam merupakan raja terdahulu dari tempat itu dan ibunya adalah manusia dari bumi.
Ryumet awalnya berkhianat dan ingin mencuri pedang raja yang bernama pedang Akoman. Pedang dengan dua fungsi. Penyembuh untuk teman, pembunuh untuk lawan.
Ryumet menculik Mentari sebagai sandera karena fisik Mentari yang saat itu sama seperti Sam. Sayangnya, dalam kejadian itu justru Ryumet menyukai Mentari hingga terjadi hubungan yang seharusnya tidak boleh terjadi. Akhirnya Ryumet menyadari kesalahannya dan kembali menjadi pengikut Sam.
"Bukankah tiga orang yang tersedot masuk ke sana? Lalu mengapa hanya fisik ibu yang sama dengan Sam?" tanya Riuna yang semakin tertarik dengan cerita ibunya.
"Naina, Naina itu manusia kucing. Makhluk asli dari hutan Fantasia. Jadi, Sam itu sebelumnya sudah masuk ke hutan Fantasia. Karena suatu hal membuat Sam dan Naina terlempar ke dunia manusia. Itulah sebabnya Naina mengenakan penutup kepala untuk menyembunyikan telinganya yang aneh dan mengenakan rok untuk menyembunyikan ekornya."
"Jadi Sam sudah dua kali tersedot ke hutan itu. Lanjutkan lagi, Bu!"
Sam yang merupakan seorang raja pada akhirnya menikah dengan Naina. Mereka bersama-sama melawan musuh yang membunuh ayah Sam yaitu Ratu Angsa Hitam dan Tiggy.
"Sebelum pertarungan besar terjadi, Sam mengirim ibu kembali ke dunia manusia. Sampai saat ini ibu tidak pernah bertemu Sam lagi. Bagaimana keadaan mereka sekarang pun ibu tak tahu. Termasuk ayahmu," kata Mentari dengan buliran bening yang mengalir tanpa permisi.
"Jadi, ibu tidak tau kalau ibu hamil?"
Mentari menggelengkan kepalanya. Riuna memeluk ibunya dan mengatakan jika ia menyesal telah lahir di dunia.
"Aku menyesal telah lahir, Bu. Aku sangat menyusahkanmu. Aku menyesal lahir dari keturunan aneh seperti Ryumet. Dia membuatku berbeda. Bertahun-tahun aku membenci tubuhku ini, Bu."
"Kenapa kau berkata seperti itu, Nak? Dia tetaplah ayahmu. Makhluk yang ibu cintai."
"Tidak! Aku tidak menginginkannya! Aku benci dengan diriku sendiri!"
"Jangan begitu, Nak. Sebenarnya ibu takut jika suatu saat nanti kau akan mengalami kejadian yang sama seperti Sam. Karena kau memiliki ikatan dengan makhluk dari sana. Tetaplah di sini, temani ibu. Jangan tinggalkan ibu sendirian. Hutan Fantasia itu menyeramkan. Banyak makhluk yang tak pernah kamu lihat. Tidak ada yang berwujud seperti kita. Termasuk Sam," tukas Mentari.
"Sam? Bukankah wujudnya sama sepertiku?"
"Awalnya memang begitu. Dia memiliki segel kekuatan dalam sebuah gelang. Saat gelang itu dilepas, Sam berwujud seperti ayahnya, sama seperti ayahmu. Karena ayah Sam dan ayahmu bersaudara."
"Apa mungkin suatu saat wujudku juga bisa berubah? Bukan hanya kuku ku yang memanjang?"
"Ibu tidak tahu. Tapi saat kamu baru dilahirkan, seluruh tubuhmu tertutup bulu lebat."
Riuna masuk ke kamarnya. Ia terus memikirkan cerita dari ibunya mengenai hutan Fantasia. Tempat di mana ayahnya berasal.
Riuna melihat ke cermin yang ada di kamarnya. Ia menyentuh cermin itu. Akan tetapi tidak terjadi apa pun.
"Ini cermin biasa. Atau cermin ini terlalu besar? Mengapa tiba-tiba aku ingin bertemu dengan ayahku? Bukankah aku membencinya? Karena ayah aku lahir berbeda?" batin Riuna.
Lantas gadis dengan rambut panjang ini membuka sebuah bedak padat dan melihat ke arah cermin itu. Hanya wajah ayunya yang terpampang. Ia mendengkus kesal dan menutup bedak itu.
"Apa rupa cermin yang bisa membawaku ke tempat itu? Aku harus ke sana! Ya, aku harus ke sana. Aku harus melihat sendiri bagaimana wujud ayahku," gumam Riuna.
Ia keluar dari kamarnya untuk menanyakan kepada Ibunya mengenai ciri-ciri cermin yang bisa menyedotnya masuk ke dalam hutan Fantasia.
"Bu, apa ibu masih menyimpan cermin yang menyedot ibu ke sana?" tanya Riuna.
"Tidak ada, Riuna. Ibu tidak tahu mengapa cermin biasa milik ibu bisa begitu. Itu cuma cermin biasa, Sayang. Mungkin ada kekuatan dari hutan sana yang ingin menarik Sam dan Naina kembali. Makanya cermin ibu jadi bersinar dan menyedot kami ke dalamnya."
Riuna terlihat murung setelah mendengar penjelasan ibunya. Ia pamit untuk menikmati waktu sore dengan berjalan-jalan mengelilingi komplek.
Saat sedih, gadis manis ini sering duduk melamun di bawah pohon cemara yang ada di pinggir rawa yang tak jauh dari rumahnya. Pun dengan hari ini.
Ia duduk termenung memandang rawa, Duduk di atas rerumputan hijau dengan terus memanggil nama Sam dan nama ayahnya.
"Sam, Ryumet! Bawa aku ke sana!" kata itu diucapkan Riuna berulang-ulang.
Sore yang cerah seketika mendung. Riuna bergegas untuk pulang. Ia Berlari sekuat tenaga sebelum hujan mengguyur tubuhnya.
Di pinggiran rawa ia melihat seberkas cahaya yang berkilauan. Riuna berhenti berlari dan mengamati cahaya itu. Perlahan Riuna mendekatinya dan melihat sumber cahaya itu berasal dari sebuah serpihan cermin kecil.
Riuna berjongkok dan melihat bayangan hutan di dalam cermin yang bersinar. Padahal, di sekeliling Riuna hanya ada satu pohon cemara saja.
"Bayangan apa ini?" tanya Riuna dalam hati.
"Mungkinkah ini ...."