17

1003 Kata

Sementara Ronal dan Sora berada di lapangan seluncur, Jullia duduk di dekat jendela kamarnya. Rimbunnya pohon pinus yang di terangi cahaya bulan, Jullia menikmati sketsa itu denga segelas wine. Entah sejak kapan, ini sudah jadi kebiasan setiap penderitaan melandanya. Jullia yang terlihat tanpa penderitaan setiap harinya, namun di dalam raganya yang tangguh ia harus memupuk kebencian pada perasaannya. Itu sangat menyiksa.. Kalimat Jonnatan yang 'akan menghancurkannya' berputar di kepalanya. Saat ini ia seperti memikul dua beban secara bersamaan. Jullia tidak pernah kesulitan dalam hal apapun, tapi ia merasa tidak menemukan solusi pada dirinya. "Ayah, apa yang harus ku lakukan?." Jullia kemudian ingat saudarinya, Jesin. Ia meraih posel untuk menghubunginya. "Halo. ka." "Wah, kau mas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN