Tiba-tiba suara tembakan terngiang di telinga Jullia, ingatan penembakan keluargany muncul kembali. Kesadaran yang tertutup gairah mulai pulih, Jullia segera menendang ju-nior Jonnatan. "Ank!" ringis Jonntan. Rasa nikmatnya berubah menjadi sakit yang amat ngilu di area sensitiv Jonatan, dengan kesal ia menghardik, "Kau Rubah licik!." Jullia membenci dirinya yang lemah dengan sentuhan. Bagaiana bisa ia menikmati setiap sentuhan pada pembunuh ibunya?. Dengan penuh emosi Jullia meinggalkan Jonnatan begitu saja. Di sebrang sana, Jonnatan segera masuk ke Rolls Royce nya. Robrt segera menyadari dan pura-pura tidak melihat apa-apa, ia bertingkah seperti orang bangun tidur. "Tuan, anda sudah menyelesaikannya?, sekarang apa kita kembali?." "Hem" Sebelumnya Jonntan masi bersemangat meski den

