KOMEN>VOTE *** "Kamu nggak sekarat dan mau mati, kan, Ra?" Nadira berdecak. Dimas itu dokter yaang dihormati di rumah sakit tempat ia bekerja. Tapi Nadira tahu, Dimas itu punya sisi polos-bodoh-mintadijitak. "Bukan," geram Nadira. Dimas menghela napas untuk kesekian kalinya. Ditatapnya wajah Nadira. "Kalau nggak penting mending kamu pulang. Kasihan Naya nunggu di bawah." Seperti disentil, Nadira lantas menggigit bibir. Hampir dia lupa bahwa calon mantan suaminya ini telah memiliki orang lain yang kini menunggunya. "Aku mau perceraian kita dibatalkan." Dimas menatap Nadira tak percaya. Apa yang baru dia katakan? Membatalkan perceraian? "Ra, perceraian kita hampir selesai. Jangan main-main kamu." "Justru karena perceraian kita belum selesai, aku mau itu dibatalin. Atau kalau n

