9. Memohonlah, Hely!

1119 Kata
"Apa yang kau lakukan di sini, Hely?" tanya Zeus dingin. "Sa-saya ... Saya sedang bekerja, Tuan," jawab Helios terbata. Pria itu beralih menatap sekretarisnya. "Kau urus pertemuan ini dan lakukan yang terbaik," ujar Zeus memerintah. "Baik, Pak," jawab Nick tegas. Setelah mendapat jawaban, Zeus menyentuh tangan Helios dan menariknya keluar. Pria itu ke arah parkiran yang masih kosong. Kemudian, ia menghempaskan tangan Helios kuat-kuat. "Bekerja kau bilang? Semua orang sudah tahu kalau kau istriku dan kau bekerja di cafe kecil seperti ini?" tanya Zeus geram. "Maaf. Saya hanya--" "Hanya apa? Kalau kau butuh uang, kau tinggal bilang dan aku akan memberikannya padamu," potong Zeus menggebu. "Bagaimana cara saya memintanya pada Tuan? Bahkan membagi makanan dengan saya saja, Tuan, tidak sudi," sanggah Helios menunduk sambil memainkan jemarinya. Mendengar ucapan wanita itu membuat Zeus berpikir sejenak. Meskipun terdengar masuk akal, ia tetap tidak bisa membenarkan keputusan Helios yang bisa mempermalukannya di depan banyak orang. Reputasinya bisa hancur jika sampai ada orang lain yang tahu. Bisa-bisa di seluruh media massa akan membicarakan masalah rumah tangganya dengan Helios. "Jangan banyak alasan. Lebih baik kau masuk ke dalam mobil sekarang, sebelum ada orang lain yang melihatmu memakai baju itu," ujar Zeus tidak peduli. Tentu saja karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Helios menderita. "Tunggu sebentar, Tuan. Saya akan mengganti baju dan mengambil tas dulu." Helios langsung berlari masuk ke dalam cafe. "Astaga, Hely! Sepertinya kau memang ingin disiksa," geram Zeus murka. Bukannya bergegas masuk ke dalam mobil sesuai perintahnya, Helios justru kembali ke cafe hanya untuk mengganti baju dan mengambil tas. Zeus benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir wanita itu. Memangnya berapa, sih, harga baju dan tas dibandingkan dengan rasa malu yang akan ia terima karena ulahnya? Zeus mendengus kesal sambil menyugar rambutnya ke belakang. Tidak lama kemudian, ia melihat sosok Helios yang berjalan ke arahnya. "Lihat saja nanti! Sampai di rumah, aku akan melanjutkan penyiksaan tadi pagi yang sempat tertunda," bisik pria itu dalam hati. Tanpa basa-basi, ia membuka pintu mobil sebelum akhirnya menarik tangan Helios dan mendorongnya dengan keras. Kemudian, menutupnya kembali dengan tidak kalah keras. "Aawww!" pekik Helios kesakitan. "Pasang sabuk pengamanmu dan kita akan pulang," ujar Zeus dingin. "Ba-baik, Tuan," balas Helios tergagap. Jantungnya berdegup kencang memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya di rumah. Ia yakin, Zeus tidak akan tinggal diam dan membiarkannya bernafas dengan lancar. Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli betapa bahayanya yang ia lakukan, yang ia pikirkan saat ini hanya agar cepat sampai di rumah. Sampai di parkiran bawah tanah, Zeus dan Helios keluar dari mobil. Pria itu menarik tangan istrinya dengan keras. Melewati lift hingga masuk ke apartemen. Tidak berhenti di situ saja, kini ia menyeret istrinya berjalan menaiki anak tangga. "Lepaskan saya, Tuan! Tangan saya sakit sekali," kata Helios sambil menggerak-gerakkan tangannya. "Aku akan melepaskanmu setelah selesai menyiksamu." Raut wajah Zeus terlihat sangat datar dan pandangan matanya fokus ke depan. Terlihat seperti teringat sesuatu, ia menghentikan langkahnya, "Oh iya. Kau ingat bukan penyiksaan tadi pagi di bathtub? Mari kita lanjutkan!" sambung Zeus sambil tersenyum menyeringai menatap Hely sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya kembali. "A-apa?" terkejut Helios dengan manik mata terbelalak. "Iya. Kau ingat, bukan? Pasti ingat sekali karena baru terjadi beberapa jam yang lalu. Jadi, mari kita lanjutkan dan nikmati sama-sama." "Tidak, Tuan, jangan saya mohon!" Helios menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Zeus, "Tuan, saya mohon! Saya minta maaf dan berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi. Apa pun itu, saya akan menanyakannya lebih dulu pada Tuan," lanjut wanita itu membujuk. "Sudah terlambat, Hely. Seharusnya kau meminta izin dariku lebih dulu sebelum kau bekerja. Bukankah aku ini suamimu?" sanggah Zeus datar. "Saya tahu, makanya saya minta maaf. Saya mengaku salah karena tidak meminta izin lebih dulu," ujar Helios menyesal. Sebenarnya, ia tidak berencana untuk meminta izin pada Zeus. Ia takut karena apa pun yang ia lakukan selalu salah di mata suaminya. Jadi, ia berencana pergi bekerja setelah sang suami pergi bekerja dan akan pulang sebelum sang suami pulang bekerja. Namun sayangnya, baru saja memulai masa percobaan, ia sudah ketahuan. "Sudahlah, Hely. Kau nikmati saja hukuman yang akan aku berikan. Setelah itu, barulah kau renungi kesalahanmu itu agar tidak pernah mengulanginya lagi," sanggah Zeus malas mendengar ocahan yang Helios lontarkan. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Zues langsung mendorong tubuh Helios hingga jatuh terjerembab di lantai. Entah sejak kapan mereka sampai di kamar mandi. Melihat pria itu langsung mengisi air di bathtub, Helios langsung beranjak bangun dan hendak melarikan diri. "Kau mau pergi ke mana, hum?" tanya Zeus sambil menjambak rambut Helios. "Aw-aww-aww, sakit!" pekik Helios kesakitan. Namun sayangnya, rasa sakitnya belum seberapa sebelum akhirnya ia di hempaskan ke dalam bathtub. Sontak, mulut dan matanya terbuka lebar merasakan sakit yang teramat pada bagian kepalanya yang terbentur. "Bagaimana? Seru sekali, bukan?" tanya Zeus sebelum akhirnya menarik kaki Helios agar berbaring di dalam bathtub. Sambil menyentuh kepala bagian belakang, yang sudah mengeluarkan cairan berwarna merah, Helios bergerak berencana untuk bangun. Namun sayangnya, Zeus menekan wajahnya hingga tenggelam ke dalam air. Meski kaki dan tangannya bergerak berusaha menyelamatkan diri, ia tetap tidak bisa beranjak bangun karena tekanan tangan pria itu begitu kuat. Ia bahkan merasa nyawanya akan hilang jika Zeus tidak menjauhkan tangannya dari wajahnya. Suara nafas Helios terdengar terengah-engah seperti orang yang sudah lari berkilo-kilometer. Belum sempat menetralkan debaran jantung dan nafasnya. Ia sudah merasakan sinyal tanda bahaya. "Ayo, kita coba lagi," kata Zeus bersemangat sambil menekan kuat-kuat wajah Helios ke dalam air. "Tolong! Lepaskan saya, Tuan! Saya minta maaf, saya janji tidak akan melakukannya lagi," batin Helios putus asa. "Bagaimana? Mau lagi?" tanya Zeus setelah menjauhkan tangannya. "Ti-tidak, Tuan, cu-kup. Sa-saya ja-janji ti--" Ucapan Helios langsung terhenti di kala Zeus menekan kuat-kuat wajahnya ke dalam air. Pria itu melakukannya hingga berulang-ulang. Semakin lama, waktu yang ia berikan ketika menekan wajah Helios ke dalam air semakin lama. Ia tidak peduli dengan nafas istrinya yang kian melemah dan terputus-putus. Bahkan, tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Helios meski ia memiliki kesempatan untuk memohon. Ia merasa percuma karena sejak tadi permohonannya tidak didengarkan. "Memohonlah, Hely! Kenapa kau diam saja?" Zeus menatap Helios yang saat ini sedang menatap nyalang dirinya. "Aku bilang memohon, pembantu murahan!" kesal Zeus sambil mencengkeram dagu Helios sebelum akhirnya menenggelamkan kembali wajahnya ke dalam air. Entah pada percobaan yang ke berapa, tubuh Helios serasa tidak memiliki tulang. Kepalanya yang semula ia tahan, kini ia lepaskan begitu saja. Karena penasaran, Zeus melepaskan tangannya dan melihat tubuh Helios tidak bergerak sama sekali. "Bangun, Hely!" seru Zeus. Ia pikir, Helios sedang mengerjainya bahwa wanita itu berpura-pura pingsan. "Jangan bercanda, Hely! Cepat bangun atau kau akan menyesal!" ancam pria itu. Namun sayangnya, Helios tetap tidak bergeming. Manik matanya senantiasa terpejam erat dan tidak lagi terdengar suara nafasnya yang terengah-engah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN