2. Sebagai Bentuk Pertanggungjawabanmu

1502 Kata
Zeus bertanya, tetapi tidak mendapat jawaban apa pun. Namun tiba-tiba, pukulan keras mendarat di kepalanya. Sontak, kepala pria itu terdorong ke samping. Dengan tangan yang terkepal kuat, ia menggertakkan giginya. "Siapa kau? Beraninya ..." Zeus menoleh ke belakang dan mendapati sang ayah berada tepat di sampingnya, "Pa-papa? Apa yang Papa lakukan di sini? Lalu, kenapa Papa memukul kepalaku?" tanya pria itu terkejut. "Kau masih berani bertanya? Harusnya papa yang tanya, sebenarnya ada apa denganmu? Apa yang kau lakukan pada Hely, sedangkan besok pagi kau akan menikah?" sanggah Asilas menggebu. Pria itu berkata sambil menggertakkan giginya. Manik matanya menatap tajam putranya bak mata belati. "Maksud Papa apa? Memangnya apa yang aku lakukan pada Hely?" tanya Zeus masih belum sadar atas apa yang telah ia lakukan pada Helios. Tatapan mata Asilas tertuju pada Helios yang meringkuk di lantai menggunakan selimut. Kemudian, Zues mengikuti arah pandang ayahnya. "Hely? Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Zeus terkejut. Helios semakin menenggelamkan wajahnya dan semakin terisak. Ia merasa hidupnya sudah hancur karena sesuatu yang paling berharga darinya sudah direnggut paksa oleh Zeus. Terlebih, pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. "Jangan tanya pada Hely. Tanyakan saja pada dirimu sendiri, apa yang telah kau lakukan padanya. Kau lihat? Tubuhmu terlihat sangat kotor dan menjijikan," timpal Asilas menatap jijik pada tubuh putranya. Saat ini, tubuh polos Zeus seperti kain merah menyala dengan motif garis-garis. Tubuh pria itu berlumuran darah dengan banyak sekali bekas cakaran. "Astaga!" terkejut Zeus hampir melompat terkejut melihat kondisi tubuhnya. Bahkan ia baru merasakan perih di sekujur tubuhnya karena luka itu. "Cepat bersihkan tubuhmu yang kotor dan bau itu! Setelah itu, papa dan Mama akan menunggumu di bawah." Tatapan mata Asilas berpindah pada Helios, "Kau juga. Cepat bersihkan tubuhmu dan kita akan bicara di bawah," lanjut pria itu. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Asilas meraih tubuh istrinya dan memapahnya keluar. Sementara di dalam, Zeus langsung menatap tajam ke arah Helios. "Sebenarnya apa yang kau lakukan di kamarku? Apa kau yang menjebakku?" tanya Zeus dingin. Pria itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa di malam terakhirnya ia melajang telah menodai kesucian seorang wanita. Apalagi wanita itu adalah seorang asisten rumah tangga di rumahnya sendiri. Rasa-rasanya, ia ingin sekali menenggelamkan tubuhnya ke dalam air laut hingga menjadi buih. Mendengar pertanyaan yang Zeus lontarkan membuat Helios mengangkat kepalanya tiba-tiba. "Jangan asal bicara, Tuan. Di sini saya yang menjadi korban dan tolong Tuan jangan bersikap seolah saya pelakunya," sanggah Helios tidak kalah dingin. "Lalu, kenapa kau ada di kamarku malam-malam begini?" tanya pria itu lagi karena belum mendapatkan jawaban yang pasti. Ia akui ketika pulang dari pesta, ia dalam keadaan mabuk berat. Ia masuk ke dalam kamar dan mendapati calon istrinya di dalam. Jadi karena tidak bisa menahan diri, pria itu langsung mengungkung tubuh calon istrinya dan bersenang-senang. Namun yang tak disangka-sangka, ia justru menodai wanita lain dengan cara paksa. Tidak sesuai dengan penglihatannya sebelumnya. "Tuan lihat, baju pengantin yang sudah tidak berbentuk itu?" Helios menunjuk ke arah baju pengantin pria yang jatuh terjerambah di lantai dalam kondisi berantakan dengan noda darah, "Saya datang ke sini untuk mengantar baju pengantin itu. Saya pikir, Tuan tidak ada jadi saya masuk untuk meletakkannya di atas tempat tidur. Tapi ternyata, Tuan tiba-tiba ada di belakang saya dan--" Sebenarnya, Helios malas sekali untuk menjelaskan hal itu. Namun, ia tidak ingin dituduh yang tidak-tidak dengan menjebak Zeus. Jadi dengan amat sangat terpaksa, ia menjelaskan semuanya. Ya, meskipun akhirnya ia diusir sebelum pria itu mengakui kesalahannya. "Cukup! Tidak perlu kau lanjutkan lagi. Lebih baik kau cepat keluar dari kamarku," seru Zeus samar-samar mengingat kejadian awalnya. Tanpa pikir panjang, Helios beranjak berdiri. Akan tetapi, baru saja hendak melangkah untuk memunguti pakaiannya. Ia merasakan sakit yang teramat di bagian tubuh bawahnya. Lalu, ia terhuyung dan terjatuh ke tepi tempat tidur. "Cepat!" sentak Zeus membuat Helios terkejut. Meskipun terasa sangat sakit, tetapi Helios tidak bisa terus berada di sana. Ia menahan rasa sakitnya kuat-kuat dan memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai. Kemudian, ia melangkah ke kamar mandi untuk memakai baju. Tidak lama kemudian, ia keluar dalam keadaan memakai pakaian lengkap. Begitu juga dengan Zeus yang sudah memakai pakaian. Helios hanya melirik sekilas dan bergegas keluar. Ia melangkah menuruni anak tangga diikuti oleh Zeus di belakangnya. "Duduklah!" kata Asilas. Zeus pun bergegas duduk di seberang meja dan Helios langsung duduk di lantai. "Ze. Papa terpaksa harus membatalkan pernikahanmu dengan Minerva," ujar Asilas serius. "Apa?" Zeus sangat terkejut mendengar ucapan ayahnya. Pria itu langsung beranjak berdiri sambil menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya, "Bagaimana bisa Papa membatalkan pernikahan Ze dengan Mine?" "Tentu saja, bisa. Kau bahkan bisa memperkosa Hely di saat kau akan menikah dengan Minerva," sanggah Asilas mengejek. "Apa yang terjadi antara Ze dan Hely murni sebuah kecelakaan, Pa. Jadi, tolong jangan batalkan pernikahan Ze dengan Mine," ujar Zeus memohon. "Apa pun kenyataannya, biarpun itu murni kecelakaan sekalipun. Kau tetap harus membatalkan pernikahanmu dengan Minerva dan menikah dengan Hely sebagai bentuk pertanggungjawabanmu," balas Asilas memutuskan. Meskipun Helios hanya seorang asisten rumah tangga, tetapi ia tidak boleh mengabaikan apa yang telah terjadi pada wanita itu. Putranya telah merenggut kesucian Helios dan ia tidak bisa tinggal diam. Apalagi prinsip yang selama ini pegang adalah berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Jadi, putranya harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. "Tapi, Pa. Ze tidak mencintai Hely dan Ze hanya mencintai Mine." Wajah pria itu terlihat sangat muram karena kesulitan membujuk ayahnya. "Cinta akan datang seiring berjalannya waktu, Ze. Jadi yang paling penting sekarang, kau bertanggung jawab pada Hely. Mama tidak bisa membiarkanmu lepas dari tanggung jawab," timpal Diana menggebu. "Mama juga? Plis, Ma, Ze mohon bantu Ze. Ze tidak bisa menikah dengan Hely." Pria itu begitu terkejut melihat sang ibu setuju dengan rencana ayahnya. "Tidak, Ze. Mama dan Papa sudah menghubungi orang tua Minerva untuk membatalkan pernikahanmu dengan Minerva dan mempelai wanitanya akan diganti dengan Hely," sergah Diana tidak bisa memenuhi permohonan putra semata wayangnya. "A-apa?" Zeus begitu terkejut mendapatkan kabar buruk itu. Tubuh pria itu langsung terasa lemah seolah tidak memiliki tulang. Ia menjatuhkan seluruh tubuhnya ke belakang bersandarkan sofa. Mulutnya mendadak tertutup rapat dan manik matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Istirahatlah! Besok pagi kau harus bersiap untuk menikah dengan Hely." Belum cukup dikejutkan di mana pernikahannya harus gagal dengan Minerva dan harus menikah dengan Helios. Kini, ia dikejutkan lagi di mana ia harus menikahi Helios besok pagi. "Besok pagi?" terkejut Zeus dengan manik mata terbelalak. "Ya, besok pagi. Kenapa? Apa kau keberatan?" Asilas mengangkat alisnya dengan manik mata yang terbuka lebar, "Bahkan meskipun kau keberatan sekalipun, tidak akan merubah keputusan papa untuk menikahkanmu dengan Hely," sambung pria paruh baya itu dengan mencebikkan bibirnya dan menghempaskan punggungnya ke belakang. "Maaf, Tuan, karena saya terpaksa harus menyela." Helios memberanikan diri untuk menyela dan mengangkat pandangan sejenak. Setelah semua orang fokus menatapnya, ia mulai melanjutkan kata-katanya, "Tuan dan Nyonya tidak perlu memaksakan kehendak Tuan Muda untuk menikah dengan saya. Saya tahu kalau Tuan Muda harus bertanggung jawab, tetapi saya merasa tidak pantas karena saya hanya seorang asisten rumah tangga. Jadi, biarkan Tuan Muda menikah dengan Nona Minerva dan saya akan pergi dari rumah ini." "Apa kau bilang? Aku tidak peduli dengan status sosial. Mau kau hanya sekedar asisten rumah tangga di rumahku, aku tetap tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya satu, perbuatan putraku padamu. Bukankah seharusnya kau meminta pertanggungjawaban atas direnggutnya kesucianmu?" geram Asilas sambil menggertakkan giginya. Sontak, Helios langsung memberingsut ketakutan mendengar suara majikannya yang sangat dingin. "Maaf, Tuan. Saya hanya tidak ingin menjadi benalu di keluarga ini. Saya tidak ingin Tuan dan Nyonya menanggung malu karena memiliki menantu seperti saya." Meskipun baru bekerja kurang dari dua tahun di rumah itu. Namun, sikap Asilas dan Diana sangat baik. Mereka tidak pernah memperlakukannya sebagai asisten rumah tangga. Meskipun demikian, ada batasan yang harus tetap dijaga. "Ya. Mungkin orang-orang di luar sana akan menggunjingkan kami karena memiliki menantu seorang asisten rumah tangga sepertimu. Akan tetapi, bagaimana denganmu? Apa kau tidak merasa dirugikan? Apakah di luaran sana ada pria yang akan menikah dengan wanita yang sudah tidak perawan?" tanya Asilas menggebu. Sejak dulu, Asilas tidak pernah memandang orang dari status sosialnya. Entah itu orang dari status sosial atas, tengah, maupun bawah. Semuanya terlihat sama di matanya dan yang membedakan adalah ketulusan hatinya. Jadi, tidak masalah jika Helios menjadi menantunya. Apalagi alasannya karena ulah anak kandungnya sendiri. "Kenapa diam saja? Apa kau masih tidak ingin menikah dengan orang yang telah merenggut kesucianmu?" tanya Asilas dingin. Mendengar pertanyaan yang Asilas lontarkan membuat Helios meremas ujung bajunya. Ia diam karena membenarkan ucapan pria itu. Helios tahu betul, di luaran sana tidak akan ada pria yang mau menerima kekurangannya itu. Namun, ia merasa rendah diri jika harus menikah dengan Zeus meski pria itu sendiri yang merenggut kesuciannya. "Hely benar, Pa. Kita semua akan malu jika Zeus sampai menikah dengan seorang pembantu. Jadi, bisakah--" "Tidak bisa. Apa pun yang terjadi, kau tetap harus menikah dengan Hely," potong Asilas tegas. Bagaimana bisa Asilas menghancurkan prinsipnya yang selama ini ia pegang untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran? Meskipun hal itu akan membuat keluarganya malu, ia tetap harus menikahkan putranya dengan Helios.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN