Dengan cepat sudah hari Senin lagi.
Erika sibuk sepanjang pagi, dan pergi makan siang dengan rekan kerjanya, tidak disangka dia akan bertemu dengan seseorang yang membuat gempar semua orang di kantin.
Pekan lalu Erika baru bekerja di kantor selama dua hari, pada saat pergi makan di kantin, dia tidak bertemu dengan Immanuel Haryanto, tetapi hari ini, setelah Erika memesan makanan, dia mendengar suara sekelompok orang yang menahan nafas.
"Pak Immanuel!"
"Selamat siang, Pak Immanuel!"
Mendengar sapaan itu, Erika menoleh dengan terkejut dan melihat di tengah kerumunan, pria yang tampan dan elegan sedang dikawal oleh para pengawal berjalan masuk ke kantin dengan langkah elegan.
Ekspresi pria itu masih sama seperti biasanya, dingin bagai sebongkah es, bibir tipisnya mengatup, sepasang matanya tajam dan berbahaya, tatapannya itu dingin dan cuek.
Erika meliriknya sekilas dan kebetulan berpapasan dengan tatapan pria itu yang dalam seperti sumur kuno.
Hatinya langsung mencelos dan tanpa sadar Erika mengalihkan pandangannya.
Bos besarnya itu tadi sedang melihatnya? Bagaimana mungkin?
Erika menggelengkan kepalanya dan membawa kotak nasinya lalu duduk di meja di mana rekan kerjanya duduk.
Immanuel Haryanto mengalihkan pandangannya dari Erika Hendrawan tanpa sepengetahuan orang lain, dia berkata dengan suara rendah dan berwibawa, "Semua silakan menikmati makan siang."
Karyawan yang berada di kantin mendengarnya berkata demikian dan hanya bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan lanjut mengantri untuk memesan makanan.
Erika baru saja menundukkan kepalanya dan makan dua suap nasi, Jacky tidak malu-malu mendekatinya, dan duduk disampingnya, "Erika, kelihatannya kamu makan dengan sangat lahap!"
Erika memutar bola matanya, mengangkat piringnya dan duduk di sisi lain.
Tatapan Jacky tersirat kekesalan, tetapi memikirkan tempat ini adalah tempat umum, dia menahan emosinya yang hampir meledak.
Beberapa rekan wanita di departemen administrasi bergosip dengan suara rendah, "Apa yang terjadi hari ini?" Mengapa Pak Immanuel bisa tiba-tiba datang makan di kantin? Aku sudah bekerja di perusahaan ini begitu lama dan baru pertama kali ini melihat beliau makan di kantin."
"Entahlah, mungkin matahari terbit dari barat hari ini."
Jacky dengan bangga mengangkat alisnya, "Memangnya kenapa? Kukatakan pada kalian, Pak Immanuel hanya terlihat dingin dan tidak berperasaan di luarnya saja, sebenarnya beliau adalah orang yang sangat ramah."
Nafis mengerutkan kening dengan bingung, "Pak Jacky, mendengar perkataanmu ini, apakah kamu mengenal dekat Pak Immanuel?"
Jacky dengan bangga mengangkat alisnya dan berkata, "Tentu saja, hubunganku dengan Pak Immanuel itu seperti...
Jacky sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya agar semua orang membayangkannya sendiri.
"Oh... rupanya begitu." Semua orang menatapnya dengan penuh arti, "Tidak disangka Pak Jacky memiliki hubungan sedekat itu dengan bos besar kita, pantas saja baru bergabung di perusahaan selama setengah tahun sudah naik jabatan hingga posisi manajer.
"Tentu harus rendah hati dan tidak mencolok." Jacky melambaikan tangannya, "Kelak jika kalian mengalami masalah, kalian bisa mencariku."
Banyak rekan laki-laki yang berusaha menyanjungnya, dengan mengatakan dirinya adalah panutan di perusahaan.
Erika benar-benar tidak bisa mendengarkannya lagi, dia mengangkat piringnya dan meninggalkan meja itu.
Jacky melihatnya pergi, dan langsung mengikutinya, "Erika Hendrawan, berhenti di situ!"
Erika mengerutkan keningnya dengan jijik, dia mempercepat langkahnya.
Jacky langsung mendahuluinya dan merentangkan tangan untuk menghentikannya, "Erika, kenapa kamu terburu-buru, ikutlah denganku."
Erika mundur dengan jijik, "Jacky Laksita, aku peringatkan kamu..."
Kata-katanya belum selesai, dari belakangnya tiba-tiba ada sebuah bayangan yang mendekat dan mengambil piring yang ada di tangannya serta menyiramnya ke wajah Jacky!
Sisa makanan yang belum habis dan berminyak dan bercampur dengan nasi itu pun tumpah di wajah Jacky.
"Ah——!!!" Jacky menyeka wajahnya dengan menyedihkan, dan mengumpat dengan kesal, "Siapa! Siapa yang begitu berani menyiramiku?
Kejadian itu terjadi dengan begitu cepat, Jacky juga tidak memperhatikan siapa yang berada di belakang Erika.
Seketika, seluruh kantin mengeluarkan suara menarik nafas, semua orang terkejut saat melihat pria yang memancarkan aura permusuhan yang dalam berdiri di belakang Erika, mereka bahkan tidak berani bernafas.
Erika menatap wajah tragis Jacky yang dipermalukan di depan semua orang, dia tidak bisa menahan diri dan menutup mulutnya lalu tertawa.
Jacky mendengar tawanya, dia menyeka noda minyak yang ada di wajahnya dan memelototinya denga marah, "Erika Hendrawan, dasar kau kur..."
Ketika Jacky melihat pria yang berdiri di belakang Erika, umpatannya pun tercekat, "Pak, Pak Immanuel?"
Erika pun tercengang.
Dia membalikkan badan dengan perlahan, matanya bertemu dengan mata Immanuel yang dalam dan dingin, seketika sekujur tubuhnya menegang.
Immanuel Haryanto?!
Ternyata dia yang berdiri di belakangnya!