Bab.17 Obat Kuat

718 Kata
  Setelah pulang dari rumah sakit hewan, Erika membujuk ketiga anaknya untuk tidur, setelah itu waktu sudah menunjuk pukul sepuluh malam.   Sebelum tidur, Erika tiba-tiba teringat bahwa dia belum sempat menanyakan masalah pendapatan si gigolo yang berhutang padanya.   Kemarin, Erika berubah pikiran, dia memutuskan untuk menyuruh gigolo itu melunasi hutangnya dengan mencicilnya per hari, agar gigolo itu tidak bisa lari dari kewajibannya.   Erika berbaring di atas tempat tidur, jarinya yang lentik mengetuk layar dengan lembut: "Bagaimana pendapatanmu malam ini? Apakah kamu sudah menerima tamu?"   Gigolo itu menjawab pesannya dengan cepat, "Kehidupan malam baru saja dimulai, tidak perlu terburu-buru."   Maksudnya dia belum menerima tamu?   Erika mengerutkan kening dan menjawab, "Kamu menghasilkan uang sebanyak dua puluh juta satu malam, bukankah kamu seharusnya sudah mulai menerima tamu begitu malam tiba?"   Tarif setinggi itu, biasanya hanya nyonya-nyonya tajir yang mampu membayar tagihan tarif sebesar itu, Gigolo itu setidaknya harus melayaninya selama kurang lebih tiga sampai empat jam agar nyonya tajir merasa puas bukan?   Sekarang sudah jam sepuluh malam, gigolo itu masih belum menerima tamu, Erika curiga pria itu sedang membohonginya.   Semakin Erika memikirkannya, dia merasa besar kemungkinan bahwa gigolo itu sedang membohonginya, dia pun memutuskan untuk pergi ke Pesona Bar untuk melihat apakah gigolo itu sudah menerima tamu atau belum, atau sedang bersenang-senang di pelukan nyonya tajir!   Bagaimanapun juga, gigolo itu sudah sepakat untuk memberinya kompensasi sebanyak tiga bulan gajinya, jika pendapatannya berkurang satu malam, maka Erika yang akan mengalami kerugian.   Erika pun buru-buru mengganti pakaian dan bergegas keluar rumah, saat melewati apotik yang buka selama 24 jam, Erika berpikir sejenak, kemudian masuk ke apotik itu untuk membeli sebotol 'obat kuat' sebagai hadiah untuknya.   Jika pergi 'sidak' dengan tangan kosong dan ketahuan oleh pria itu, maka akan sangat canggung nanti.   Jika membawa buah tangan, dia akan terlihat lebih tulus.   Erika sudah sangat familiar dengan Pesona Bar, kali ini, dia bahkan tidak perlu digiring oleh pelayan Pesona Bar, Erika langsung pergi ke ruangan malam itu, tempat dimana dia bertemu dengan gigolo yang menghamilinya.   Gigolo papan atas itu beneran ada di dalam ruangan, dia juga mengenakan topeng seperti biasanya, dan bersandar dengan santai di sofa berkulit asli itu, tanganya memegang segelas wiski, lengan kemejanya digulung sampai ke siku, memperlihatkan lengannya yang kekar.   Hanya pria itu yang berada di ruangan, kelihatannya dia malam ini benar-benar belum menerima tamu.   Saat mengetahui dirinya telah salah menuduhnya, Erika berdeham dengan malu-malu, dan berencana untuk pulang.   "Karena sudah sampai di sini, mengapa tidak masuk dan minum segelas anggur?" Pria bertopeng itu berkata, suaranya yang rendah dan sedikit serak itu kedengarannya sangat seksi.   Erika berhenti di tempat, dia mengabaikan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang dan berbalik badan untuk manatapnya, "Aku hanya datang untuk melihat-lihat."   Immanuel menyunggingkan bibirnya, dan berkata dengan penuh makna, "Aku tahu."   Erika tersipu oleh tatapannya itu, dia memeluk 'hadiah' yang dibelinya di apotik dan masuk ke ruangan.   "Itu... Sebenarnya aku datang untuk menunjukkan rasa perhatianku." Erika duduk di hadapannya dan mengeluarkan sebotol obat kuat, "Kamu menjalani pekerjaan seperti ini pasti sangat tidak mudah, kamu harus memperhatikan kondisi kesehatanmu, jangan sampai kelelahan, jika tidak, saat kamu masuk ke usia lanjut, kamu akan menyesalinya."   Jari-jari Immanuel terhenti, tatapannya yang dingin jatuh ke wajah polos dan menawan Erika, "Kamu mengkhawatirkan kondisi tubuhku? Apakah kamu khawatir akan 'kebahagiaanmu' kelak?"   "Apa yang kamu pikirkan?" Wajah Erika langsung merah merona, dia mengerutkan kening, "Aku selaku krediturmu tentu harus berprikemanusiaan, jika kamu kelelahan dan tidak bisa menghasilkan uang, bukankah aku yang akan rugi?"   "Oh?" Immanuel meletakkan gelas anggur, dia mencondongkan tubuhnya, dan menatap Erika lekat-lekat dengan mata yang nakal, "Jadi, kamu sengaja malam-malam datang ke sini menemuiku hanya untuk memberikan 'hadiah' ini padaku?"   Tentu saja tidak! Erika menyawab dalam hati.   Tetapi dia tidak akan pernah mengungkapkan tujuan sebenarnya pada pria yang ada di hadapannya ini.   "Benar!" Erika menjauhkan tubuhnya ke belakang, menghindari tatapan menggoda pria itu, "Sekarang hadiahnya sudah kuberikan, aku pulang dulu, kamu yang semangat ya!"   Setelah selesai berbicara, Erika bangkit dengan panik.   Immanuel menatapnya dalam diam, seulas senyum penuh arti terukir di wajahnya.   Saat Erika melewati dirinya, dia tiba-tiba bergerak dan menarik Erika ke dalam pelukannya.   "Ah!" Erika berteriak panik, saat tersadar, dia sudah jatuh ke dalam pelukan pria bertopeng itu.   Tangan lebar pria itu melingkar di pinggangnya yang ramping, matanya yang tajam seperti seekor cheetah itu terkunci dengan lekat di wajahnya. Seperti binatang buas kelaparan yang sudah lama tidak mencium bau mangsanya..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN