“Duduklah,” pinta Aruna saat sudah sampai di taman. Dia duduk di kursi putih yang berada persid di tengah taman yang dihias seperti mainan barbie dengan rumah kaca di belakangnya. “Maaf Nyonya, saya tidak bisa, saya berdiri saja,” tolak Nita dengan halus dan sopan. Aruna merotasi bola matanya, lagi-lagi ia lupa jika siapa pun yang bekerja di keluarga Edzard, harus bersikap sopan dengan berbagai aturan yang ada di dalamnya. “Aku harus memanggilmu apa? Bibik, atau Ibu?” “Senyaman Nyonya saja.” Jawabnya. “Biasanya Jayden memanggilmu apa?” “Beliau Tidak pernah memanggil Nyonya, karena kami selalu siap siaga di dekat Tuan Jayden.” Lagi-lagi Aruna menghela napasnya dengan berat. Semua memang sudah di atur sedemikian rupa, tidak ada yang bisa membantah dan menolak apa pun yang sudah di at

