“Apa kalian bilang?” Areng berteriak pada para bodyguardnya, pasalnya mereka mengatakan jika anak buah Jayden berhasil melumpuhkan pertahanannya, padahal ia belum mulai bersenang-senang dengan Aruna. “Sial! Kenapa secepat ini si cacat itu menemukan tempat ini?” Pekiknya kesal mengacak tatanan rambutnya frustrasi. Areng terlalu meremehkan Jayden, ia lupa siapa Jayden. Jangankan hanya di sini, di lubang semut pun akan segera ditemukan. Areng panik mendengar kedatangan Jayden dan anak buahnya. Ia segera berlari ke belakang memastikan jika Aruna masih terikat di kayu itu. Benar saja, wanita itu masih terikat tak berdaya di kayu. “Bangun!” Areng mencoba menyadarkan Aruna yang sudah lemas akibat sakit di seluruh tubuhnya, ditambahkan rasa lapar dan juga panasnya terik matahari yang menyenga

