“Kamu tidak percaya?” tanya Ronald saat melihat ada guratan ragu di wajah Santi. Santi hanya diam saat mendengar ucapan ayahnya. “Itu benar adanya, selain itu, pria yang mengajakmu berkencan, sudah berani memanipulasi semua yang kamu miliki, terutama saham. Bukankah kamu menjual saham itu karena pria itu dulu? Dan kamu juga tidak tahu ke mana perginya uangmu itu?” Ucapan Ronald kembali membuat Santi diam, ia tak bisa menjawab atau menjelaskan apa yang telah terjadi. Ronald tersenyum, ia memegang tangan putri satu-satunya itu. “Uang itu sudah di ambil oleh pria itu, dan beruntungnya suamimu yang dulu masih menjadi temanmu, bisa mengetahui motif pria itu, jadi Hermawan mengatakan hal itu pada kami. Dan seperti yang kamu duga. Kami bertindak, tanpa kamu ketahui. Namun, sayangnya, kamu terhas

