Bab 11 - Peraturan Jayden

1543 Kata
“Kita mau ke mana?” tanya Aruna bingung. Kepalanya mendongak ke luar jendela mobil melihat iringan sedan-sedan hitam di belakang mobil milik Jayden. Dia menghempaskan tubuhnya, melirik ke arah Jayden yang masih duduk santai seolah tak terpengaruh dengan perilaku Aruna yang norak. Aruna mencibir, melihat Jayden yang tak terpengaruhi dengan sikapnya. Mau tak mau duduk manis di samping Om-om itu. Mengusap-usap kursi mobil yang terasa begitu berbeda. “Oh...” gumamnya tanpa sadar. Dia memperhatikan interior mobil milik Jayden yang puluhan kali lipat lebih mewah dari mobil-mobil yang pernah dia masuki. Mobil yang mengantarkannya saja menurutnya sudah begitu mewah, namun mobil milik Jayden ini jauh lebih mewah. Kursi mobil kali ini sepertinya terbuat dari kulit buaya dengan warna cokelat tua yang cantik. Bukan hanya kursi mobil, melainkan seluruh interior mobil ini. Di bagian depan di antar kedua kursi depan ada sebuah kotak kecil berwarna hitam. Aruna mencondongkan tubuhnya, menyentuh kotak itu dan terkejut tiba-tiba bagian depan kotak hitam itu menyala dan memperlihatkan botol-botol minuman dalam kemasan di dalamnya. “Kulkas?!” pekiknya terkagum. Dia menoleh melihat ke arah Jayden yang melirik ke arahnya. Sudut bibirnya kembali naik, melihat ke arahnya. “Kalau kau haus, ambil saja,” ujarnya singkat mengulum senyum. “Okey!” pekik Aruna kegirangan mengambil salah satu air mineral yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Dia membaca botol berwarna hijau itu dan sedikit menggeleng tak mengerti kenapa botol bertuliskan air mineral itu terlihat mewah seperti botol Wine. Arun sedikit berdiri, ingin kembali duduk di samping Jayden. Sriiirt .... Decitan suara ban dengan aspal yang dihentikan paksa membuat tubuh Aruna yang belum siap, goyah. Dia tersentak saat merasakan tangan Jayden menarik tangannya dan membuatnya terjatuh di pangkuan Jayden. Aruna terkesiap saat melihat wajah Jayden begitu dekat. Iris matanya berwarna cokelat. Bukan tipikal cokelat gelap seperti kebanyakan orang Indonesia, melainkan cokelat muda yang entah mengapa membuatnya hanyut. Indah, selayaknya gurun pasir dengan oasis di tengahnya. Deg ... deg ... deg .... Debaran jantungnya menggila, tangannya tanpa sengaja berada di atas d**a Jayden dan merasakan bagaimana tubuh pria itu terasa keras dan tegap. Mata Nadya menunduk, tak berani menatap wajah Jayden yang entah mengapa seolah bergerak semakin dekat. Aroma parfum mahal yang menguar begitu memabukkan sehingga membuatnya tak berdaya. Semakin lama, dia merasakan gerakan lembut Dahi Jayden yang mengenai dahinya, lalu hidung pria itu menggesek hidungnya. Perlahan, tangan Jayden bergerak ke arah pipinya, jemarinya mengusap bagian belakang leher dengan ibu jari yang bergerak ke arah bagian bawah bibirnya, sedikit bergerak membukanya. Aruna terpaku, tak dapat melakukan apa pun, kecuali menutup mata dan membiarkan Jayden melakukan apa yang dia lakukan. Bagaikan semilir angin yang bergerak menyapa tubuhnya, memberikan rasa yang tak biasa saat merasakan sesuatu yang lembut, penuh layaknya shouffle cake yang menyentuh bibirnya memberikan rasa yang tak biasa. “eh- ehem...” deheman Bima membuat Aruna dan Jayden tersadar. Dengan cepat, Aruna bangkit dari pangkuan Jayden dan duduk di sampingnya dengan salah tingkah. Tangannya bergerak mengipasi wajahnya yang terasa panas, kembali mengalihkan pandangan ke arah jendela mobil dengan tak fokus. Dia berusaha membuka tutup botol air mineral miliknya namun terus gagal. Tubuhnya kembali membeku, saat Jayden tiba-tiba mengambil botol miliknya. “Saya sudah booking semuanya, Pak,” ujar Bima menoleh sedikit. Sudut bibirnya terangkat begitu melihat Aruna yang salah tingkah. Aruna melirik ke arah Jayden yang membukakan tutup air mineral itu untuknya, dengan wajah yang datar dia menangguk. “Manager di sana sudah dihubungi,” ujarnya memberikan botol itu. Wajah Aruna kembali merona mendapati perlakukan Jayden yang langsung sat set, tanpa perlu banyak bicara tapi mempelakukannya dengan begitu spesial. Debaran jantung Aruna semakin menggila, begitu tutup botol minuman itu menyentuh bibir bawahnya, bayangan tangan Jayden yang mengusap bibir itu membuatnya salah tingkah. Dengan cepat, dia meneguk air mineral itu dan merasakan sesuatu yang dingin mengaliri kerongkonganya yang tandus. Selama ini tak ada orang yang memperlakukannya seperti ini, membukakan botol memang perbuatan kecil, tapi entah mengapa mampu menggetarkan seluruh jiwa dan raga Aruna sehingga membuatnya hampir saja tak dapat bernapas dengan benar. “Memang kita mau ke mana?” tanya Aruna ke arah Bima. Dia melihat Pria bertubuh tegap sama seperti Jayden itu menoleh. Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas, hidungnya mancung dengan mata monolit yang sudah jelas menunjukkan dia adalah keturunan dari Asia timur. Berbeda dengan Jayden yang terlihat seperti seorang Mafia tampan dan mapan, Bima terlihat seperti seorang Sekretaris seorang CEO di dalam Office Romance di drama Korea yang dia tunggu. Sama seperti Jayden yang selalu serius, di balik kacamata yang dia kenakan. Bima juga terlihat seperti orang yang serius dan datar. Namun, begitu tersenyum, seolah bongkahan es yang dia miliki mencair sempurna. “Membeli keperluan untuk Nona Aruna.” “Membeli keperluan?” tanya Aruna bingung. Keningnya berkerut, melirik Jayden yang kembali sibuk dengan Ipadnya. “Bukankah keperluanku di Mansion itu sudah dipenuhi semua, apalagi yang harus dibeli?” “Keperluan pribadi, Nona.” “Panggil saja Aruna, Pak Bima,” sapa Aruna ramah. “Rasanya saya tak pantas dipanggil Nona,” pinta Bima yang dijawab dengan anggukan. “Kalau begitu panggil saya Bima, saja.” Aruna menggelengkan kepala, “Enggak sopan memanggil yang lebih tua dengan nama,” katanya lagi. “Kalau saya panggil Mas Bima saja bagaimana?” tanya Aruna yang sontak dijawab anggukan sopan beliau. “Mas Bima?!” kini celetukan dengan nada tak suka yang Jayden ucapkan mengalihkan perhatian Bima dan Aruna yang sontak melihatnya. “Ck,” decaknya menutup Ipad yang sedari tadi dia pegang dengan sedikit keras. “Kenapa kau panggil Bima dengan sebutan Mas, sedangkan aku Om?” tanya Jayden dengan nada yang sedikit meninggi. “Kenapa emangnya?” celetuk Aruna tanpa sadar dengan keadaan. Keningnya berkerut, melihat wajah Jayden yang mengeras. “Bukannya sesuai umur. Umur Mas Bima paling dua puluh tahunan sedangkan umur Om kan sudah pasti lebih dari 30 tahunan. Kalau enggak mau dipanggil Om terus apa dong? Kakek?” ujar Aruna keluar begitu saja membuat suara tertahan yang dikeluarkan Bima. Jayden mendelik ke arah asistennya itu yang sontak membuatnya menundukkan kepala dan kembali mengalihkan pandangan ke arah depan, tak berani sekaligus geli melihat tingkah atasannya yang terdengar kekanak-kanakan. “Lupakan!” decak Jayden singkat dengan wajah yang masih mengeras. Aruna memiringkan kepalanya, bagian alisnya melebar tak mengerti dengan sikap Om-om di depannya yang biasanya begitu serius. Kini terdengar seperti orang yang sedang merajuk. Dia menaikkan bahunya sejenak sebelum kemudian kembali duduk dengan tenang menatap jalanan kota Jakarta yang tak pernah dia lihat sebelumnya. *** Iringan mobil berhenti di sebuah pusat perbelanjaan merah yang tak pernah berani Aruna masuki. Kening Aruna berkerut saat melihat Bima turun terlebih dahulu diikuti oleh Pak Amri yang bergerak membukakan pintu untuknya. “Silakan turun, Non,” pinta Pak Amri. Aruna masih menatap bingung, dia melihat setidaknya ada 5 mobil hitam iringan Jayden di belakang mobil mereka. Pria-pria dengan jas hitam sontak berjaga. Di telinga mereka ada kabel yang tak dia ketahui apa namanya. Dia tak mengerti seberbahaya apa tempat ini hingga Jayden harus membawa banyak pengawal seperti itu hanya untuk berbelanja. Tubuh Aruna berputar memperhatikan Mall mewah dengan arsitektur menakjubkan ini, begitu berada di dekat Jayden. Dia tersentak saat melihat banyak pelayan berdiri menyambutnya di kanan dan kiri, sama seperti saat dia turun dari helikopter tempo hari. Aruna sontak salah tingkah, bergerak malu ke arah belakang Jayden dan menarik lengan jas pria itu yang sontak menatapnya lembut. “Kenapa?” Aruna bersembunyi di balik badan pria itu, lalu berjingkit agar bisa melihat ke arah depan di mana masih banyak staf dan pegawai mall yang menundukkan kepala. “Kita ke sini mau apa?” bisik Nadya takut-takut. “Belanja.” “Belanja?” ulang Aruna dengan nada bingung. Keningnya berkerut tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Jayden. “Tapi kenapa banyak yang menyambut seperti ini?” Jayden hanya tersenyum tak menjawab pertanyaannya, “Mr. Jayden Welcome.” Sapaan pria yang berumur jauh lebih tua dari Jayden yang berjalan di tengah deretan pegawai itu kembali mengalihkan perhatian Aruna. Tubuh tegapnya memperlakukan Jayden dengan begitu sopan dan hangat. Jayden hanya menganggukkan kepalanya pelan, “Seharusnya Anda bilang sebelumnya kalau mau ke mari, biar kami bisa menutup area yang Anda inginkan dari pengunjung,” ujar Pria itu membuat Aruna sedikit meremas lengan Jayden. Dia tersenyum geli melihat calon istrinya yang masih menatap bingung. “Anda tidak perlu melakukannya. Saya hanya akan belanja sedikit untuk dia,” ujar Jayden mengarahkan pandangan ke arah Aruna yang diikuti oleh semua orang di sana. Aruna terus menunduk, dia tak biasa mendapat spotlite seperti ini. Pria yang merupakan General Manager Mall ini kemudian menatap bingung, memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. kepalanya miring dan menatap Jayden dengan takut-takut. “Calon istriku,” ujarnya keluar begitu saja membuat Bola mata Aruna membulat sempurna. Semua orang yang ada di sana sontak riuh, dan menatapnya dengan tatapan yang ingin menguliti. Dia kembali tersentak saat tangan Jayden melingkar di pinggangnya dan menarik tubuhnya agar rapat. “Bukankah Om janji sama aku kalau kita akan merahasiakan pernikahan kita?” Aruna sedikit menekan kata itu, menjauhkan dirinya dari Jayden yang malah semakin pria itu rapatkan hingga dia dapat merasakan d**a Jayden menyentuh punggungnya. “Itukan katamu, bukan kataku,” ujarnya singkat dengan nada yang penuh misteri membuat tubuh Aruna terdiam membeku. “Kau hanya perlu menuruti kontrak yang sudah ditanda tangani. Salah satunya menurut dengan kata-kataku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN