Bab 7 - The Mansion

1358 Kata
Tubuh Aruna condong ke arah kaca jendela saat melihat mobil yang Pak Amri kendarai melaju ke kompleks perumahan elit. Jalan berbatu tanpa aspal dengan pemandangan yang berantakan dari tempat tinggalnya tadi berganti dengan jalanan mulus dengan kualitas aspal terbaik. Beberapa kali, dia berdecak kagum. Matanya membulat melihat deretan rumah mewah yang berjajar rapi di sepanjang kanan dan kiri jalan yang dilewati oleh mobil yang dia tumpangi. Rumah-rumah itu masing-masing mempunyai halaman yang cukup luas dan tertata rapi. Aruna mulai membayangkan bahwa sisa uang yang dia miliki nanti bisa digunakan untuk membeli rumah sendiri, tak perlu mewah seperti rumah-rumah di kanan dan kirinya ini, tapi setidaknya rumah itu nyaman untuk dia tempati. Dia berharap bisa membeli rumah di dekat pantai yang indah sehingga dia bisa melihat sinar matahari terbit atau tenggelam setiap hari. Hidup di ruangan sempit tanpa pencahayaan yang memadai bertahun-tahun membuatnya mendambakan rumah dengan banyak sinar matahari. “Kita sudah hampir sampai, Non.” Ucapan Pak Amri menyadarkan Aruna. Dia memperbaiki posisi duduknya dan menatap ke arah depan. Jantungnya hampir saja jatuh dengan mata yang semakin membulat takjub. Tangannya bergerak menutupi mulut yang terbuka lebar, bahkan rahangnya hampir terjatuh begitu melihat pagar mewah di depan mereka. Masih pagar. Belum rumah seperti yang disebutkan oleh Om itu. Begitu Pak Amri membunyikan klakson dua kali. Pintu pagar besar itu langsung membuka otomatis. Halaman rumput yang begitu luas langsung menyapa pandangan Aruna. Halaman rumput itu dibelah oleh jalan berpaving mahal di tengah khusus untuk lalu lalang kendaraan. Belum sempat Aruna, menenangkan keterkejutannya. Aruna semakin terkejut melihat mansion besar yang ada di depannya sekarang. Halaman luas sekitar 100 meter dari pagar kini perlahan mulai terganti jalan yang sudah terpaving rapi. Dengan di tengahnya ada air mancur megah yang seolah menyambut tamu yang datang. Di depan air mancur itu ada undakan tangga batu yang membawa ke rumah bergaya Victorian. Jika kalian pernah melihat rumah-rumah megah di Historical Drama barat yang megah dan layaknya Istana. Rumah, eh. Bukan. Mansion milik Jayden adalah bentuk nyata yang ada di Indonesia. Rumah ini terlihat seperti rumah peninggalan Belanda yang ada di Indonesia. Aruna meneguk air liurnya saat melihat beberapa pria berseragam pelayan berdiri di depan undakan itu seolah menunggunya. Begitu mobil yang dikendarai Pak Amri berhenti tepat di depan pelayan itu. Pelayan berusia 50 atau 60 tahun membukakan pintu untuknya. “Selamat Sore, Nona Aruna. Saya Rudi, Kepala Pelayan Mansion ini menyambut Anda,” ujar Pelayan itu ramah mengulurkan tangannya. Aruna menata bingung, melihat perawakan orang yang menyebut dirinya sebagai kepala Pelayan di mansion ini. Seluruh rambutnya berwarna putih, tertata rapi. Tubuhnya yang sudah menua masih terlihat tegap dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Tatapannya terlihat tegas sekaligus lembut dalam suatu waktu. Dia tersenyum tipis dan sopan serta menundukkan badan kepadanya, “Bapak enggak usah menunduk seperti ini,” kata Aruna memberikan tangannya untuk menghargai beliau. “Ini sudah tugas saya, Nona Aruna.” Nona Aruna? Sudut bibir Aruna naik ke atas begitu mendengar ada embel-embel Nona yang disematkan oleh Pak Amri dan juga Pak Rudi di depan namanya. Dia tak pernah mendapat perlakukan spesial seperti ini dari siapapun. Masih tak menyangka bahwa dalm satu hari dirinya yang dulu selalu menunduk dan memperlakukan orang lain seperti Raja, kini diratukan oleh orang lain dan diperlakukan dengan begitu sopan seperti ini. Aruna menarik napasnya dalam, menghirup aroma rumput basah yang menyapa penciumannya sejak dia turun dari mobil. “Mari masuk..” Setiap langkah yang dia tapaki menuju rumah utama, decakan kagum terus keluar dari mulutnya. Mewah, megah, menakjubkan. Ketiga kata itu sangat tepat untuk menggambarkan Mansion ini. Rumah seperti ini tak pernah ada dalam khayalan Aruna sehingga dia tak ingin bermimpi untuk memiliki atau sekedar tinggal di rumah ini. Rumah ini layaknya rumah para Putri raja dalam versi yang lebih modern. Balkon-baklon di setiap ruangan mirip dengan balkon yang dimiliki bangsawan Inggris untuk menyapa para rakyatnya. Dia masih kagok saat melihat para pelayan menunduk kepadanya sepanjang jalan seolah dia adalah orang yang patut mereka hormati seperti ini. Begitu berdiri di depan pintu kayu besar dengan ukiran yang sangat malah, Pak Rudi membuka pintu dan membentangkan tangannya. “Wellcome Home, Nona Aruna,” ujar Pak Rudi dengan senyuman membuat Aruna menutup mulutnya terharu. Dia melangkah pelan memasuki dunia lain, dunia antah berantah yang tak pernah dia sangka akan ada di depannya sekarang. Dia terdiam, terpukau, terperangah begitu melihat interior rumah ini. Seluruh lantai rumah ini terbuat dari marmer yang mahal, dengan dinding putih gading yang dihias oleh ornamen yanh cantik. Hal yang paling menakjubkan untuk dilihat adalah lampu kristal yang tergantung di atas langit-langit yang tinggi dengan tangga yang melingkar. Dirinya seolah dibawa ke jaman Victorian dimana dia seolah menjadi tamu di sebuah pesta dansa yang megah. “Mr. Jayden menyuruh saya untuk membawa Anda berkeliling.” “Lalu, Om Ja… maksud saya, Mr. Jayden?” Pak Rudi tersenyum, “saya sudah mendengar semuanya dari Mr. Jayden. Nona bisa memanggilnya senyaman Nona. Beliau sedang dalam perjalanan kemari dari Surabaya.” “Surabaya?” Ulang Aruna takut salah dengar. Bukankah pria itu baru tadi pagi bersamanya, bagaimana mungkin dia ada di Surabaya. Apa ada penerbangan pulang pergi dengan cepat? Pikiran polos itu memenuhi otak Aruna. Dia sendiri seumur hidupnya tak pernah naik pesawat terbang. Naik bis pun tak pernah. Keluarga piciknya itu tak pernah membawa dia ikut pergi liburan dan selalu beralasan tak ada yang menjaga rumah jika dia pergi sendiri. “Beliau menggunakan Helikopter pribadinya. Kebetulan Mansion ini juga tersedia Hellipad. Kemungkinan sebentar lagi, beliau sampai.” Aruna melirik ke arah itu kaca yang memperlihatkan taman samping dengan sebuah lapangan luas dengan huruf H besar terlihat begitu jelas dari tempatnya berada. Gelengan kepala takjub yang tanpa sengaja dia lakukan menandakan bahwa semua yang baru saja dia lihat dan alami bagaikan mimpi yang dulu tak berani dia bayangkan. Pak Rudi membawanya berkeliling. Semakin dia berjalan menjelajahi rumah besar ini. Semakin dia terpukau. Dia tak pernah menyangka ada rumah secantik, seluas dan semegah ini di Jakarta selain Istana negara. “Ada berapa kamar tidur di rumah ini, Pak?” tanya Aruna melihat ke arah lantai dua rumah ini. “Ada lima belas kamar tidur,” “Lima belas?!” ulang Aruna memekik tertahan. Pak Rudi terkekeh mendengar ucapannya, sebelum kemudian menangguk. “Semuanya di huni?” “Tidak. Hanya tuan besar yang sering tinggal di rumah ini, bersama keluarga inti yang lain. Tapi, mereka sedang menghabiskan musim panas di Prancis saat ini dan Mr. Jayden lebih suka tinggal di kondominium miliknya.” Aruna menatap bingung, sebanyak apa properti yang Om Jayden miliki sehingga dia lebih memilih untuk tinggal di tempat lagi padahal memiliki rumah yang sangat luas dengan fasilitas yang sangat lengkap seperti ini. Langkah Aruna yang mengikuti Pak Rudi berhenti saat terlambat menyadari bahwa kepala pelayan keluarga Edzard itu menyebut tentang Tuan Besar. “Tuan besar yang Pak Rudi maksud tadi?” “Iya, Tuan Ronald Edzard, Kakek dari Mr. Jayden. Begitu Mr. Jayden mengatakan bahwa beliau akan menikahi seseorang. Tuan besar memutuskan untuk kembali ke Indonesia secepatnya.” Kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulut Pak Rudi, nyatanya mengendap di otak Aruna. Debaran jantungnya berdebar dengan cepat, ketakutan dan rasa gugup muncul memberikan rasa tak nyaman untuknya. Tuan besar? Kata sapaan yang ditunjukkan untuk Founder Edzard Company membuatnya merinding. Bagaimana jika orang yang disebut Tuan besar itu tidak menyukainya dan pada akhirnya melakukan tindakan-tindakan bengis untuk membuatnya pergi dari sisi Jayden. Wajah Aruna sontak berubah menjadi pucat pasi, seolah sirkulasi darahnya berhenti mengalir dan membuat keringat dingin memenuhi tubuh Aruna. Telinga Aruna memekak sebelum kemudian Pak Rudi berjalan ke depan pintu kaca yang memperlihatkan taman samping. “Mari saya antar ke ruang kerja Mr. Jayden, Non. Helikopter yang membawa Mr. Jayden sebentar lagi akan landing,” ujar Pak Rudi menyadarkan Aruna. Dia ikut melirik ke samping dan melihat Helicopter yang terlihat seperti capung yang terbang mengelilingi taman terbang rendah di sekitaran Helipad itu. Aruna menarik napasnya dalam, sebelum kemudian mengikuti langkah Pak Rudi menuju ruang kerja Om Jayden yang beliau ucapkan tadi. Dia mengepalkan tangannya di depan d**a sembari berharap setelah bertemu dengan Om Jayden. Pria itu akan menjelaskan semua hal yang syarat dan ketentuan yang mereka lakuan setelah menjadi suami istri kontrak seperti yang pria itu tawarkan sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN