David masih terbayang perkataan tentang malam berikutnya yang mereka katakan sebagai malam persembahan. Ia tidak tahu siapa perempuan itu. Lalu, bagaimana nasibnya sekarang ini karena ia tidak bisa mencari tahu sebab sudah waktunya pulang. Tidak mungkin dirinya menyelinap karena kemungkinan besarnya adalah masalah besar tengah mengintainya. Pikirannya sungguh tidak tenang. Suara jeritan kesakitan terus terdengar di telinga David saat ini. Ia mengacak rambutnya frustasi dan mengalihkan fokusnya dengan melihat beberapa video lamanya. Namun, saat dirinya baru saja menghidupkan komputer, ponselnya berbunyi seakan tidak sabaran untuk dibuka. "Siapa yang mengirimkan pesan sebanyak itu?" decak David yang mau tidak mau mengambil benda pipih yang tengah diisi daya tersebut. Matanya memicing taja

