Flo duduk di balkon tanpa menyalakan lampu. Hujan telah reda sejak berjam-jam lalu. Yang tersisa tinggal gigil bersama desau angin. Namun, Flo memilih bergeming di sana. Matanya lurus pada langit malam yang muram. Tak ada cahaya rembulan, apalagi kerlip bintang. Sepertinya segerombolan awan memilih setia menemani kegundahan seorang Cleonara Flora. Merasa ditinggalkan dan sekarang dikhianati. Kombinasi rasa yang tidak bisa Flo definisikan. Yang pasti dia enggan membahas ini dengan siapa pun juga. Termasuk pada Jovan. Cowok itu sudah berkali-kali menghubungi, tapi dia abaikan. Sama seperti ketukan-ketukan di pintu kamar. Ketukan pertama dari Mbak Rahmi yang memintanya turun untuk makan malam. Lalu, Tante Miranda. Kemudian Kak David. Yang terakhir Papa. Tak seorang pun mampu membuat Flo kel

