*Happy Reading*
Abyan pikir, setelah dia menunjukan photo-photo kebusukan Nissa pada sang Mama. Hal itu akan membuat wanita yang sudah melahirkannya ke dunia tersebut mengurungkan niat menjodohkannya dengan Nissa, wanita yang memang tak pernah Abyan inginkan.
Akan tetapi ternyata Abyan salah. Sebanyak apa pun bukti yang ia perlihatkan, sang Mama tetap saja kukuh dengan keputusannya. Abyan sampai tak habis pikir di buatnya. Memang si Nissa itu punya apa, sih? Sampai-sampai mamanya sangat mengidolakannya seperti ini?
"Mama tahu benar bagaimana Nissa, Byan. Jadi Mama gak akan mudah percaya pada photo-photo itu! Mama yakin semua itu hanya editan!"
"Photo itu nyata, Mah!"
"Kalau begitu Nissa pasti sedang dijebak!"
Astaga! Abyan pun menjambak rambutnya sendiri dengan kesal menghadapi sikap keras kepala sang Mama. Harus bagaimana lagi Abyan menyadarkan Mamanya?!
"Mah, Nissa itu bukan artis! Dia juga bukan orang kaya. Intinya dia bukan siapa-siapa. Jadi, tidak mungkin ada orang yang ingin menjebaknya? Gak ada gunanya sama sekali!" Abyan menggeram muak.
"Kamu yang terlalu buta, Abyan. Hingga tidak bisa melihat betapa berharganya dia!"
"Mah--"
"Pokoknya keputusan Mama tetap sama, Abyan!" Sang Mama menyela cepat. "Mama gak mau menantu lain selain Nissa di rumah ini. Percayalah, Byan. Kalau kamu sampai tidak menikahi Nissa. Maka kamu sendiri yang akan rugi!" Pungkas sang mama sebagai final obrolan mereka.
Setelah itu, wanita yang masih sangat cantik di usianya yang tak muda lagi itu pun berlalu begitu saja. Meninggalkan Abyan dengan kebencian dalam hatinya yang semakin menjadi terhadap Nissa.
'Baiklah, Nissa. Jika memang aku tidak bisa menyingkirkanmu. Maka jangan salahkan aku jika membuatmu semakin menderita' Abyan bertekad dalam hatinya.
****
Plak!
Nissa tersungkur ke lantai, setelah mendapat sebuah tamparan kuat dari sang ayah.
"Dasar anak kurang ajar! Apa yang sudah kamu lakukan, hah?! Bikin malu saja!" hardik Ridwan, Ayah Nissa.
Meski saat ini kondisinya belum membaik paska terpaksa dilarikan akibat info yang Abyan berikan. Tetapi, tangan tuanya masih sanggup memberikan pelajaran pada sang anak yang sudah mencoreng wajahnya dengan kurang ajar.
"Yah, tolong dengarkan Nissa dulu. Semua itu tak seperti ayah pikirkan. Nissa gak gitu, Yah ...." Nissa mencoba membela diri.
"Ayah hanya mempercayai bukti yang ada. Dan faktanya, kamu ternyata memang murahan, Nissa! Ayah malu! Ayah menyesal sudah membiarkanmu lahir ke dunia ini!"
Sakit sekali hati Nissa. Bahkan satu-satunya keluarganya pun tidak percaya padanya. Padahal, hanya ayah Ridwan yang Nissa punya setelah sang ibu tiada. Tetapi, Ayahnya selalu saja lebih percaya pada orang lain daripada anaknya sendiri. Hal itu jualah yang mendasari Nissa akhirnya memilih hidup mandiri dan menumpang pada Naira.
Karena Nissa sudah sangat sakit hati selalu diabaikan sang Ayah. Di salahkan untuk sesuatu yang tak Nissa lakukan dan merasa tak di hargai sebagai seorang anak. Ayahnya selalu lebih percaya apa kata orang daripada Nissa.
"Untung saja Bu Farida masih mau menerima kamu dan tidak membatalkan perjodohan ini. Kalau tidak, entah siapa lagi yang mau menerima wanita hina seperti dirimu sebagai menantu!"
Kata-kata pedas sang ayah tidak lebih mencengangkan dari info yang baru saja Nissa dapatkan. Bu Farida masih ingin melanjutkan perjodohan? Kenapa?
Alih-alih bahagia mendengar kalimat tersebut. Nissa malah semakin merepih. Karena itu berarti. Ia masih akan berurusan dengan Abyan dan ... selalu di sakitinya.
"Ayah, Nissa nggak mau nikah sama Abyan. Nissa--"
Plak!
Kalimat Nissa teredam oleh tamparan yang kembali ayahnya layangkan. Hatinya lagi-lagi berdarah, mendapatkan perlakuan kasar dari orang-orang sekitarnya.
Kalau dipikir-pikir, beberapa hari ini. Pipinya sering sekali kena tampar. Waktu itu oleh Dita, lalu Abyan, para penjahat, dan kini ... oleh ayahnya sendiri. Apa, itu artinya dia memang setidak berharga itu?
"Jangan tidak tahu diri kamu, Nissa!" maki Ridwan lagi. "Sudah untung masih ada yang mau sama kamu. Gak usah sok-sok nolak kamu! Setelah apa yang kamu lakukan semalam. Ayah yakin tidak akan ada yang mau menerima kamu selain Abyan!"
"Tapi Abyan juga tidak mencintai Nissa, Yah!" sahut Nissa mencoba memberanikan diri. "Abyan itu tukang selingkuh! Pacarnya banyak dan--"
"Lalu apa masalahnya?"
Nissa sampai menganga tak percaya mendengar sahutan cepat sang ayah. Yang ternyata tidak marah dengan sifat Abyan. Pria itu bahkan menyahut santai, seolah memang itu bukanlah masalah besar.
"Abyan itu seorang pria. Dalam agama pun tidak dilarang punya istri lebih dari satu," imbuh Ayah lagi dengan kejam. Tak peduli sama sekali dengan perih di hati Nissa yang semakin menjadi oleh ucapannya.
"Tapi Nissa gak mau di madu, Yah. Nissa gak akan kuat."
"Bodoh kamu!" Bukannya mengerti perasaan sang anak. Ayah Ridwan malah menghinanya. "Harusnya kamu bangga kalau di madu. Karena jaminannya surga. Ada kesempatan masuk surga kok nggak mau. Bodoh! Benar-benar bodoh!!"
Tak terlukiskan lagi bagaimana kondisi hati Nissa saat ini. Sudah terlalu kecewa, sakit, perih dan hancur tak berbentuk. Nissa merasa benar-benar tak berharga sama sekali saat ini. Karena bahkan ayahnya sendiri pun tak peduli pada perasaannya.
Padahal, setahu Nissa ayah Ridwan dulu tidak begini. Setahun yang lalu, dia adalah sosok ayah yang baik dan bisa jadi panutan. Tutur katanya lembut, sopan dan bijak. Selayaknya seorang anak gadis. Ayah Ridwan tentu saja jadi idola Nissa.
Semua berubah sejak ibu Nissa meninggal. Ayah perlahan berubah menjadi sosok yang tidak Nissa kenali lagi. Mengabaikan dan terus saja membuat Nissa kecewa. Sungguh, kepergian sang ibu membuat Nissa turut kehilangan ayahnya.
"Jalan ke surga bukan hanya lewat poligami, Yah. Banyak sekali jalannya. Kalau memang ada jalan lain yang lebih baik, kenapa harus memilih jalan yang menyiksa hati?"
***
Nissa meninggalkan sang ayah di rumah sakit dengan kekecewaan yang luar biasa. Sungguh! Ia tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang? Rasanya semuanya buntu.
Berpisah tidak bisa, bertahan pun tak sanggup. Hatinya sudah terlalu sakit menjalani hubungan penuh toxic dengan Abyan. Kalau masih tunangan saja Abyan bisa menyakitinya seperti ini. Lalu apa kabar setelah menikah nanti?
Jiwa raganya pasti akan hancur sehancur-hancurnya. Mungkin, dia akan menjadi gila kurang dari setahun setelah berumah tangga. Atau malahan, memilih bunuh diri karena ....
Bunuh diri?
Ya! Kalau memang pada akhirnya akan mati. Kenapa harus menunggu nanti setelah jiwa raga hancur? Kenapa tidak sekarang saja? Toh, sekarang pun hatinya sudah di hancurkan tak berbentuk.
"Ya, kenapa gak sekarang aja?" gumam Nissa seperti mendapatkan jalan keluar dari keputusasaannya. "Mungkin memang itu jalan satu-satunya lepas dari orang-orang egois itu." Nissa bergumam lagi. Meyakinkan pilihannya.
Gadis itu lalu mengerjap pelan seraya melirik sekitarnya. Kebetulan jalan sedang ramai. Kalau Nissa berlari ke tengah, pasti langsung tertabrak. Tapi ... kalau tidak langsung mati bagaimana? Bukannya itu hanya akan lebih merepotkan karena Nissa akan cacat?
Lalu harus bagaimana? Apa Nissa lompat dari jalan layang saja, ya? Atau minum racun? Yang jelas jangan mengiris nadi. Matinya lama, karena harus menunggu darah habis. Merasakan sakitnya pun tak kalah lama. Tidak! Nissa butuh satu cara yang cepat untuk mati. Tetapi apa?
Kalian ada ide nggak?