Asa 7

1681 Kata
"b*****t! Siapa lo? Berani banget gangguin acara kami! Nyari mati lo?!" maki pria di kaki Nissa, yang sepertinya tak terima perbuatan Raid. Bukan hanya pria itu. Pria-pria lainnya pun akhirnya turut melepaskan tangan-tangan mereka dari Nissa. Melihat hal itu, Nissa segera beringsut ke pojok dan memeluk dirinya sendiri. Melindungi tubuh yang penutupnya terlanjur koyak. Kedua tangan Raid mengepal kuat melihat kondisi Nissa. Dadanya seolah akan meledak sebentar lagi karena gelegak amarah yang muncul cepat. Sialan! "Heh, b*****t! Siapa, lo!" Tak segera mendapatkan jawaban dari Raid. Salah satu pria itu bertanya kembali. Raid tidak segera menanggapi ocehan pria tersebut. Memilih berjalan santai ke arah onggokan sebuah kain, memungutnya dan mengibas-ngibaskannya demi menghilangkan debu yang menempel pada kain tersebut. Itu hijab Nissa, yang tadi di lemparkan seenaknya oleh para preman. "Heh! Lo punya kuping, gak? Lo--" "Ssstttt ...." sela Raid cepat, melirik para penjahat itu sambil menempelkan jari telunjuk pada bibirnya. Meski tampak santai, tapi aura mencekam menguar dari netra pria itu. "Sabarlah sebentar. Nanti juga kalian akan dapat giliran, kok," imbuhnya lagi, masih dengan gesture tubuh yang sangat santai. Seakan-akan para preman itu bukanlah sebuah ancaman untuknya. Raid lalu menghampiri Nissa. Hatinya tiba-tiba sakit sekali melihat kondisi Nissa lebih dekat seperti ini. Rambut dan wajahnya kacau dengan jejak air mata yang masih sangat terlihat. Terdapat tanda merah dan luka berdarah pada sudut bibir gadis itu. Rasa bersalah kini menghantui hati Raid. Meski Raid tahu dia belum terlambat. Tetapi tetap saja dia merasa bersalah karena tak bisa datang lebih cepat. Raid lalu membuka jaketnya dan menyampirkannya pada tubuh Nissa. Kemudian, kain yang dia bawa pun turut dia sampirkan ke kepala gadis itu, dengan sedikit menutupi kedua pandangan Nissa. "Jangan!" Raid segera menghentikan gerakan tangan Nissa, yang baru saja hendak mengangkat hijabnya lebih atas. Maksud Nissa, agar pandangannya tidak terhalangi. Tetapi ternyata, Raid memang sengaja menempatkan hijab Nissa seperti itu, agar gadis yang ternyata punya rambut indah tersebut, tidak sampai melihat apa yang akan Raid lakukan sebentar lagi. Nissa pun akhirnya menurunkan tangannya, dan membiarkan hijab itu menutupi setengah wajahnya. Kembali memeluk dirinya dan menutupi bagian tubuh yang terlanjur polos dengan hati yang sudah porak poranda. "Tutup mata, tutup telinga jika tidak kuat, okeh!" titah Raid lembut. Nissa hanya mengangguk patuh. "Tunggu sebentar, ya? Aku akan kembali dengan cepat," pamit Raid kemudian, seraya menepuk pelan kepala Nissa beberapa kali. Hati Nissa berdesir mendapat sentuhan itu. Setelahnya, dari bawah hijabnya Nissa melihat Raid berdiri, kemudian mulai menjauh darinya. Nissa mulai membaca doa apa saja yang ia ingat. "Cih! Apa-apaan itu? Sok Romantis dan--" Bugh! Belum selesai ucapan salah satu preman itu, entah yang mana? Nissa sudah mendengar Raid memukulnya dengan keras, hingga pria itu terpental beberapa meter dari sana. Nissa bahkan sampai terlonjak kaget saking besarnya bunyi bedebam yang terdengar. "b*****t!" Tentu saja, aksi Raid makin memicu kemarahan mereka, hingga para preman itu pun tak tinggal diam lagi, dan mulai menyerang Raid bersamaan. Nissa mencoba buta dan menulikan diri, saat perkelahian itu terjadi. Meski sebenarnya dia sangat ingin melihat bagaimana Raid menghajar para pria kurang ajar itu, tapi Nissa tahu, dia juga tak akan sanggup melihat semuanya. Lihatlah! Sekarang saja tubuhnya sudah gemetar kembali, hanya dengan mendengar suara-suara perkelahian. Nissa semakin memeluk tubuhnya seerat mungkin. Apalagi saat mendengar bunyi tulang yang patah, dan lolongan kesakitan saling bersahutan. Tanpa sadar Nissa meringis dan menelan saliva kelat di tempatnya, seakan bisa ikut merasakan ngilu yang tercipta di sana. Tuhan ... semoga itu bukan Raid. *** "Hey? Are u okey?" Raid kembali setelah membereskan para preman, yang saat ini sudah terkapar mengenaskan di lantai. Entah masih hidup atau tidak? Yang jelas, mata mereka tertutup, dan semuanya bersimbah darah. Namun, berbeda dengan para preman itu, Raid tampak baik-baik saja, bahkan tanpa luka satu pun. Dia ... apa ini maksud Naira waktu itu, yang selalu bilang jika Raid bukan pria biasa, dan sebenarnya sangat menakutkan? Benarkah? Apa Raid memang orang seperti itu? Like a lucifer? Raid menyadari apa yang Nissa pikirkan, dan melihat ketakutan dalam tatapan Nissa, yang masih belum membuka suaranya dan malah menatap Raid dengan lekat sekali. Gadis ini pasti masih shock! Entah mana yang lebih membuat Nissa shock? Penculikan ini? Preman itu? Atau malah kenyataan soal Raid yang ternyata tidak sebaik bayangannya. Yang jelas, Raid kini hanya bisa menghela napas panjang dan berat, sebelum akhirnya tersenyum miring ke arah Nissa. "Mau aku antar pulang, atau kutinggalkan?" tanya Raid kemudian. Bukannya memberi Nissa sedikit penjelasan tentang dirinya, malah memberi penawaran yang membuat Nissa akhirnya mengerjap bingung. Kok, nawarinnya begitu? Pria ini tidak akan meninggalkannya di sini sendirian, kan? Karena-- "Tenang saja. Mereka tidak akan mengganggumu lagi." Seperti tahu apa yang Nissa pikirkan, Raid pun kembali bersuara. Tanpa sadar Nissa pun melirik lagi tubuh-tubuh yang kini bergelimpangan di lantai, dan menelan saliva kelat setelahnya. "Me-mereka ... mati?" tanya Nissa dengan rasa takut, yang belum sepenuhnya hilang. "Mungkin," jawab Raid santai. Sambil menaikan bahunya dengan acuh. Maksudnya apa itu? Jadi sebenarnya Raid membunuh mereka atau tidak? Kenapa tidak bisa memastikannya. "Bang--" "Dengar Nissa!" sela Raid cepat. "Aku tahu kamu masih shock dengan keadaan ini, dan kenyataan yang ada. Tapi, demi Tuhan. Aku rasa ini bukan waktu yang tepat membahasnya. Karena daripada itu, aku rasa lebih baik kita segera pergi dari sini," lanjut Raid. Memberi keyakinan pada Nissa. Benar juga! Nissa Rasa Raid benar. Sekarang memang bukan saatnya membahas semua itu. Karena lebih dari itu, Nissa juga sudah tidak nyaman berada di tempat ini. "Lagipula aku juga tidak bisa meninggalkan Naira sendirian di Mobil lebih lama. Karena aku takut, ada orang jahat lain yang mengganggunya," tambah Raid. Bukannya mencari tempat aman. Naira memang tadi malah mendatanginya dan memaksa ikut saat Raid akan mencari jejak penculik Nissa. Gadis itu memang keras kepala sekali. Sementara di tempatnya lagi-lagi hati Nissa kembali patah untuk kesekian kalinya. Tentu saja. Raid pasti akan lebih mengutamakan Naira daripada Nissa. Karena, Nissa kan bukan siapa-siapa untuknya. Bahkan Nissa yakin, Raid datang ke sini pun, pasti atas permintaan Naira. Karena bagi Raid Nissa tidaklah penting. Pria itu pastinya sudah tak pernah perduli padanya. "Nissa?" Suara Raid kembali terdengar, membuat Nissa tersadar, dan mengerjap dengan cepat. "Jadi kamu mau ikut atau--" "Ikut!" jawab Nissa cepat, sadar tidak mungkin sanggup pulang sendiri. "Okey. Kalau begitu, kau ingin merapikan hijabmu dulu atau ...." Raid sengaja menggantung ucapannya, membuat Nissa menyimpukan sendiri apa yang ingin gadis itu lakukan agar segera siap ikut dengannya. Tanpa kata, Raid membalik badan dan membelakangi Nissa. Memberikan waktu pada gadis itu untuk merapikan diri. Nissa pun segera memakai jaket Raid dengan benar demi menutupi bagian depan tubuhnya. Nissa lalu meraih ujung hijabnya dengan tangan yang masih gemetar. Sebelum akhirnya memakainya cepat dan asal. "Sudah," balas Nissa kemudian. Seraya merapikan bagian depan hijabnya sebentar. Raid pun berbalik lagi menghadap Nissa. Pria itu tersenyum penuh pengertian, sebelum mengulurkan tangan untuk merapikan anak rambut yang masih mengintip. Lagi, hati Nissa berdesir karena perhatian kecil Raid. Membuatnya selalu kembali berharap meski tahu akan patah. Raid lalu membantu Nissa berdiri. "Aduh." Namun baru saja ingin berdiri. Nissa malah kembali terjatuh. "Kenapa?" tanya Raid perhatian. "Kakiku lemas," terang Nissa melirik Raid sejenak seraya memijat-mijat kakinya. Entah apa yang terjadi sebenarnya. Nissa memang merasa seperti kehilangan tenaga. Mungkin, akibat terlalu syok dengan kejadian hari ini. Tanpa di duga, Raid menyelipkan tangannya disela lutut Nissa dan menggendong gadis itu ala bridal. Nissa sempat memekik kaget karena hal itu. "Kecuali kau ingin kubawa dengan cara diseret. Maka silahkan minta untuk di turunkan." Nissa melipat bibirnya dengan kikuk. Matanya bergerak gelisah dengan perasaan yang campur aduk. Jujur saja, sebenarnya ia lumayan baper dengan perlakuan Raid saat ini. Tidak, memang seringnya baper hanya dengan perhatian kecil dan ucapan penenang pria ini. Namun, Nissa sadar jika Raid melakukan itu hanya sebagai bentuk rasa perduli pada sesama. 'Ingat, Nissa! Di hati Raid sudah ada Naira.' Batin Nissa selalu memberi tamparan telak. Namun tetap saja itu tak membuat Nissa jera berharap pada seorang Raid. Nissa kadang bingung dengan hatinya sendiri. Kenapa susah sekali menuruti apa titah otaknya. Padahal logika sudah terpampang jelas. Dan dipikirkan bagaimana pun, Raid memang tak akan mungkin membalas perasaannya. "Kau tahu, Nis? Rambutmu sangat Indah. Aku ingin sekali membelainya. Tapi, aku tahu itu tidak boleh, kan? Karena kita tidak halal satu sama lain," ucap Raid di sela langkah. Bolehkah Nissa menawarkan diri untuk di halalkan Raid, sekarang juga? **** "Terima kasih Tuhan. Akhirnya kalian kembali!" seru lantang Naira menyambut mereka, seraya keluar dari mobil dengan cepat. Nissa tidak berkomentar, hanya bisa tersenyum tipis menyambut kedatangan Naira yang langsung memeluknya. Kalut yang terasa di hati, membuat Nissa takut untuk berucap. Karena gadis itu tak mau salah bicara lagi, yang nanti malah membuat persahabatan mereka hancur. Nissa sangat cemburu pada Naira, tapi dia tahu tidak punya hak dan .... ini juga bukan salah Naira, kan? Sama halnya dengan Nissa. Naira juga punya lukanya sendiri. "Niss, lo gak papa, kan?" tanya Naira penuh perhatian. Nissa hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Masuk, Nai. Kita bawa Nissa ke Rumah sakit segera." Raid yang akhirnya mengambil alih jawaban. Seraya memberi titah pada Naira. Naira segera mengangguk patuh, dan mengikuti langkah Raid yang sudah membawa Nissa ke bangku belakang Mobilnya. "Are u seriosly, Naira?" tanya Raid tiba-tiba, saat melihat Naira duduk di samping Nissa. "Apa?" tanya balik Naira tak mengerti. "Kau mau duduk di belakang. Sementara aku di depan seperti seorang supir?" Naira memutar mata dengan jengah mendengar keluhan Raid. "Jangan konyol, Raid. Kita gak harus berdebat untuk hal ini, kan?" "Tapi aku bukan supirmu." "Dan aku juga bukan istrimu yang harus selalu di sampingmu!" balas Naira cepat. Membuat Raid terdiam dan mendengkus kesal. "Ayolah, Raid. Jangan kekanakan. Ada yang lebih penting, yang harus kita lakukan selain mendebatkan tempat duduk." Naira kembali bersuara lagi. Raid lalu mengangkat bahunya acuh, sebelum berlalu ke belakang setir dengan santainya. "Dasar bule gak jelas!" gumam Naira pelan. "Masalah duduk aja diribetin. Aneh!" keluhnya lagi, sebelum mengalihkan fokus pada Nissa. "Lo beneran gak papa kan, Nis? Raid tadi datang tepat waktu, kan?" Nissa kembali mengangguk menjawab tanya sahabatnya itu. Mencoba menenangkan Naira, pun dirinya sendiri. Karena yang Naira tidak sadari, bahkan perdebatan kecilnya bersama Raid barusan. Selalu saja mampu membuat hatinya kembali cemburu. Seandainya kita boleh bertukar tempat, ya, Nai?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN