Beberapa kali, Adhiyaksa membanting tubuhnya ke arah pintu. Berharap, pintu itu akan segera terbuka dan ia bisa menyelamatkan putrinya sebelum terlambat. Dalam dobrakan yang entah ke berapa, akhirnya pintu pun terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah barang-barang berserakan di lantai. Entah itu pakaian, kertas, alat make up, dan yang terakhir banyak pecahan kaca di sana. Kemudian, manik matanya bergerak cepat menyusuri ruangan. Ia mencari sosok putrinya yang membuatnya khawatir. Namun sayang, ia tidak mendapati putrinya di sana. Akan tetapi, ia melihat bercak darah dengan jejak kaki yang mengarah ke arah kamar mandi. "Cesya!" teriak Adhiyaksa. Pria paruh baya itu bergegas berlari menuju kamar mandi tanpa menghiraukan kakinya yang mulai berdarah karena menginjak banyaknya pecahan kaca

