Yohan terbangun dan menemukan kedua tangannya berlumur darah. Yohan mengerjabkan matanya beberapa kali. Yohan ingat betul jika dirinya sudah membersihkan kedua tangannya sehabis meninju kaca. Yohan bahkan meminta batuan Roy untuk membalut lukanya dengan perban. Kini, perban di punggung tangannya sudah hilang, bahkan darah di kedua tangannya juga sudah mengering, pertanda jika waktu sudah lama berlalu. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Cepat, Yohan bangkit dari ranjangnya menuju cermin besar di dinding kamarnya. Dia menatap pantulan tubuhnya di cermin. Rupanya, Yohan bertelanjang dadaa dan hanya mengenakan celana bahannya yang berwarna hitam. Ada percikan darah yang sudah mengering, berada di perut, tulang selangka dan leher. Refleks Yohan mundur dua langkah, merasa syok luar biasa.

