Cikal menatap wajah Rimba lekat-lekat, seolah sedang berusaha untuk mencari kebohongan di matanya. Namun, Rimba tampak begitu polos dengan mata bulatnya yang lebar. Berada sendirian di teras rumah di tengah malam saja sudah terasa janggal, apalagi ditambah dengan melukai telapak tangan sendiri dan beralasan bahwa dia tidak tahu pisau yang dia miliki adalah pisau sungguhan? "Kamu memang aneh," balas Cikal akhirnya. "Tidak terlihat seperti remaja berusia dua belas tahun lainnya. Aku saat seusiamu hanya tahu belajar, bermain sepak bola dan main rubik." "Generasi Paman berbeda denganku, jadi jangan disamakan," balas Daegal tenang. "Tunggu." Cikal tiba-tiba teringat sesuatu. Keningnya berkerut. "Bukankah kamu pernah bilang jika alasanmu mengiris tangan adalah untuk memastikan darahmu berwa

