Acara pesta pernikahan berlangsung meriah, banyak tamu yang datang mulai dari pedagang sesama berjualan, kerabat dan sanak saudara. Sedangkan dari pihakku hanya Airin yang ku undang, sedangkan teman-teman dan guruku tidak, karena tidak ku undang. Sebagian hatiku senang ketika pernikahan ini berlangsung, tapi sebagian hatiku pun merasa sedih apalagi dengan kata yang kemarin diucapkan Om Arfan.
Hatiku perih mengingat kata yang ia ucapkan. Ketika orang lain menyangka aku menangis haru karena bahagia, hanya aku dan Tuhanlah yang tau bagaimana persaanku yang sebenarnya.
Acara berlangsung hingga malam, kami melaksanakan pesta pernikahan di Hotel bintang lima tak jauh dari tempat tinggal kami. Malam ini aku hanya bisa berserah diri, apa yang akan terjadi, maka terjadilah. Ku serahkan semuanya pada yang di atas.
Aku masuk duluan ke kamar pengantin, di karenakan om Arfan masih sibuk menemui teman-teman masa sekolahnya dulu di Padang dan sengaja datang kesini untuk mengahadiri pesta pernikahan kami. Di dalam ruangan terdapat nuansa putih dan tebaran kelopak bunga mawar. Kamar ini di gunakan untuk pasangan pengantin yang sama-sama berbahagia, lalu bagaimana denganku?
Aku duduk di tepi ranjang sambil menarik nafas panjang. Ku hirup oksigen sebanyak-banyak nya seolah-olah aku sedang berebut nafas dengan banyak orang. Kupandangi diriku sendiri melalui cermin yang terpampang di depanku, sungguh cantik aku malam ini. Tadi siang aku sempat memakai suntiang untunglah malam ini hanya menggunakan tingkuluak atau tengkuluk yang merupakan sebuah penutup kepala yang menyerupai kepala kerbau atau atau atap dari rumah gadang, sehingga tak menyulitkanku untuk melepaskannya sendiri. Sekarang tinggal baju adat yang harus kulepas. Kami sengaja memakai adat Minang karena walaupun kami tinggal di daerah Riau, tapi kami keturunan Minang. Melepas baju adat ini ternyata tak lah terlalu menyiksa di karenakan bajunya memang tidak membentuk badan. Kucoba melepaskan pakaian pernikahanku, baju adat yang bernama Limpapeh Rumah Nan Gadang yang berarti lambang kebesaran sebagai seorang istri dan pentingnya peranan Ibu dalam keluarga, semoga aku bisa mewujudkannya seperti baju yang ku kenakan malam ini. Untung tak seperti novel-novel yang sering k*****a, dimana pengantin wanita membutuhkan bantuan pengantin pria untuk melepaskan resleting baju pengantin wanita.
Aku segera bergegas menuju ke kamar mandi dan membasuh diri ku. Ingin melepaskan semua kepenatan yang sudah kujalani dari tadi pagi. Selepas mandi aku segera menjalankan sholat Isya. Ketika aku baru selesai mengucapkan salam pintu kamar terbuka.
Ceklek!
Makin tak karuan, apa yang akan terjadi. Di satu sisi aku tentu saja menolak jika malam ini adalah malam pertama kami, tapi aku tak bisa menolak karena tentu saja dosa yang akan ku dapat.
"Jika kau berfikir malam ini adalah malam pertama kita, maka ku yakin kau akan terlihat murahan bagi ku," terdengar suara dinginnya tanpa menoleh ke arahku.
"Apa maksud Om?" tanyaku tanpa melepaskan mukena ku.
"Yang kudengar kau juga menolak untuk menikah denganku, maka jangan harap aku untuk menunaikan kewajibanku," jawabnya melewatiku menuju kamar mandi.
Ingin ku menjawab tapi hanya punggungnya yang terlihat ketika om Arfan akan menutup pintu. Air mataku kembali berjatuhan, aku menangis sejadi-jadinya dalam sujudku. Setelah puas mengeluarkan air mataku. Aku segera mengambil mengambil bantal dan berniat akan tidur di sofa. Lebih tiga puluh menit om Arfan di kamar mandi, entah apa yang om Arfan lakukan dan aku tak peduli. Yang ku inginkan hanya menenangkan fikiranku dengan tidur malam ini.
"Siapa yang menyuruhmu tidur di kursi? Kau kira kita sedang berada dalam cerita novel-nevel khayalan mu?" suara dingin itu kembali menggema di ruangan ini tapi ku abaikan.
Aku hanya diam dan tak bergerak, aku pura-pura tidur karena tak ingin berdebat dengannya.
"Jika kau mau tidur di sana maka aku akan pulang ke rumahku malam ini, dan kita lihat maka akan terjadi kehebohan di antara keluarga kita," ancamnyaa berjalan menuju pintu kamar.
"Sebenarnya apa yang Om fikirkan, apa salah Alya jika Alya berkorban demi keluarga Alya? Apa, murahan? Murahan om bilang pada Alya? Atas dasar apa om mengatakan Alya murahan? Pernah kah om lihat Alya menjajakan diri? Pernahkah om lihat Alya memanfaat lelaki lain demi keuntungan Alya?" akuu berteriak sambil menangis.
"Sudah ngomongnya? Aku mau tidur, dan segera naik kesini atau aku akan langsung pergi. AKU MENGANTUK ALYA, PAHAM?" ucapnya membentakku
Inginku maki saja dia, inginku tinggalkan dia malam ini, tapi aku ingat pesan mamak yang banyak menyuruhku bersabar dan berusaha. Aku segera naik ke atas tempat tidur, ku letakkan selimut cadangan yang kupakai tadi sebagai pembatas di antara kami. Segera ku ambil posisi membelakanginya, aku tak tahan melihat wajahnya. Hal pertama yang kurasakan ketika naik di atas kasur, kasurnya empuk sekali. Suasana kamar dingin tapi hangat karena selimut yang kami pakai. Ah, noraknya aku. Disaat hatiku sedang berkecamuk tapi ada kenikmatan yang kurasakan karena pertama kali tidur di kasur empuk.
Aku terbangun menjelang pagi terkejut dan ingin berteriak karena ada pria asing yang tidur di sampingku. Seketika aku langsung tersadar dan menutup mulutku yang akan berteriak. Maklum saja, ini adalah pertama kali nya aku tidur dengan pria.
" Huft, hampir saja," ucapku pelan.
Segera aku melangkah menuju ke kamar mandi untuk mandi dan mengambil wudhu. Selesai aku menjalankan sholat subuh aku berniat ingin keluar kamar untuk melihat pemandangan di sekitar hotel.
"Mau kemana kamu? Mau kabur?" suara khas bangun tidur itu menyapaku ketika aku hendak membuka pintu kamar hotel.
"Rencana nya Alya ingin berkeliling hotel Om," jawabku santai.
"Kenapa tidak membangunkanku untuk sholat?" tanyanya dengangan nada yang ketus.
"Hm ... kalau hal itu Alya gak punya jawaban Om," bantahku masih berdiri di depan pintu.
"Tunggu sebentar saya sholat dulu, baru kita sama keluar," jawabnya.
" Tapi nanti Om nya lama," sengaja aku mengelak, karena aku tak ingin berjalan berdua dengannya.
"SEBENTAR!" ucapnya berteriak sambil menuju kamar mandi.
" Huft sabar Alya, sabar Alya. Orang sabar rezekinya lancar," ucapku pelan sambil mengelus dadaku.
Hanya lima menit ia sudah keluar dari kamar mandi, kemudian melaksanakan sholat. Setelah itu kami sama-sama berjalan keluar hotel. Dalam perjalanan menuju ke lobi hotel kami hanya diam tanpa ada suara.
"Om laper gak?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Ia," jawabnya singkat.
" Mau makan di mana?" tanyaku.
"Di hotel kan ada," jawabnya sambil memainkan gawainya.
"Oooo, ya udah kita makan di hotel," ajakku sambil menatap matanya berharap ia juga menatapku.
"Tapi saya malas," jawabnya ketika hanya menatapku sekilas.
"Trus, mau makan di mana?" tanyaku ketika pintu lift terbuka. "Hm, bagaimana kalo sarapan ala daerah sini?" ajakku.
" Maksudnya?" tanyanya sambil mengernyitkan keningnya sebelah.
"Yang Alya dengar Om dari sekolah dasar sudah di Padang, jadi gak kan tau sarapan ala daerah Tembilahan ini," ujarku.
"Hubungannya?" tanyanya, kali ini terlihat ia antusias menatap kedua netra mataku.
"Hm, di sini tu ada lontong sup, ada nasi uduk, ada pulut serundeng dan sebagainya," jelasku semangat karena ia yang mulai ada respon dengan ucapanku.
"Lontong sup? Pulut serundeng?" tanyanya kebingungan.
"Ia om, biasanya kan lontong pake kuahnya gulai. Nah, kalo disini pake kuah sup. Seger deh," jelasku sambil menahan air liurku.
"Trus pulut pake srundeng tu apa?" kembali ia bertanya.
"Pulut biasa sih om tapi cabenya ada sambal teri pedas manis campur kelapa sangrai, atau udang goreng cabe pedas manis pake kelapa sangrai tu Om," jelasku.
" Lah, bukannya keripik ubi yang diiris tipis dan memanjang yang namanya serundeng?" sanggahnya.
" Bukan Om, di sini yang parutan kelapa itu lho Om, itu yang namanya serundeng. Emang di tempat Om kripik ubi yang di potong memanjang dan tipis-tipis itu serundeng ya?" tanyaku
"Ia," jawabnya sambil berjalan mendahuluiku
Ini yang terkadang membingungkan kan ku, terkadang sifatnya hanya acuh tak acuh tapi tentu saja tidak menyakiti hatiku. Terkadang ucapannya seperti seperti pedang yang langsung menusuk jantungku. Semoga kedepannya ia lebih bisa bersikap baik terhadap ku
*****