Aku belum memiliki bukti yang kuat untuk mengetahui rahasia apa yang Kak Sari pegang. Ia menghindariku, bahkan ia tak mengizinkanku untuk kembali masuk ke kamarnya. Kecurigaan bertambah, rumah tanggaku di pertaruhkan. Kak Sari juga menjaga jarak dari Bang Arfan, berbeda sekali di saat-saat awal kehamilannya yang ingin selalu lengket dengan Bang Arfan. “Al, kamu do’ain Kakak dalam sholatmu ya?” ucapnya mengejutkanku ketika aku baru saja menyelesaikan sholat Isa. “Ada yang salah? Dan kenapa Kakak tak mengetuk kamarku?” tanyaku dengan ketus. Ia duduk di ranjangku dan meremas-remas tangannya sendiri dengan gelisah. Kenapa kamu do’ain Kakak?” “Bukankah kita juga harus mendo’akan sesama kita? Apalagi Kakak adalah Kakak kandungku terlepas dari semua yang Kakak lakukan,” ucapku lembut tanp

