Pov Alya Aku tak menyangka mendengar ucapan dari pria yang kucintai. Trauma ini? Kenapa ia harus muncul kembali? Aku jijik menatap wajahnya, wajah yang biasanya selalu damba tapi kini aku merasa hina. Entah kenapa begitu mudahnya aku mencintainya. Apapun alasan ketika ia menjamahku, tak ada simpati yang kurasakan. Karena walaupun aku tak mengingat semua tetapi aku mengingat dengan jelas bagaiman ia menamparku, menjambakku dan membanting tubuh mungilku. Sebuah tamparan keras kulayangkan pada wajah yang selalu kupuja-puja. Tanganku gemetar, karena aku sendiri tak menyangka bahwa aku sanggup melakukan hal itu pada imamku. Ya Tuhan, Maafkan aku. Yang kupikirkan saat ini adalah pulang, pulang ke Tembilahan. Aku ingin bertanya pada Mamak dan Abak, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka se

