Sua tersentak bangun dari tidurnya pagi itu, sebelah tangannya terjulur seolah ingin meraih sesuatu. Napasnya memburu. Butuh waktu beberapa saat untuk menyeret kesadarannya kembali. Masih dengan napas terengah ia menurunkan tangannya yang terjulur. Seluruh tubuhnya terasa lengket karena keringat. Ia mengusap kening perlahan. Panas bercampur keringat dingin. Ia menarik diri untuk bangun, tetapi seketika itu kepalanya terasa sakit berdenyut-denyut. Sua mengeluh tertahan. Memejamkan mata dan menahan keningnya yang serasa mau meledak. Mendadak pintu kamarnya menjeblak terbuka diikuti suara langkah berisik Mom. "Ada apa, Sua?" "Tidak ada apa-apa, Mom," sahutnya masih memegangi kening dengan mata terpejam. "Mom mendengarmu berteriak-teriak. Kau yakin?" Mom beranjak ke ranjang Sua. Menyingkir

