Fatiah menghentak-hentak kakinya, sebagai pelampiasan atas rasa kesalnya yang menumpuk penuh di kepalanya. Bagaimana tidak, kehadiran Arlan benar-benar membuatnya dirundung masalah, sifat nyebelin Arlan belum juga selesai ia atasi, ditambah lagi, pertanyaan Billa, Lingsi, Rani, yang mendesaknya untuk mengatakan alasan kenapa Arlan bisa memfollow i********:-nya. Semua itu sukses membuat Fatiah dongkol, uring-uringan sepanjang hari. Fatiah tidak tahu ke mana langkah kakinya akan berhenti, dia hanya ingin menjauh sesaat dari asrama. Tanpa pikir panjang, Fatiah naik angkot dan sekarang berjalan gontai menyusuri aspal yang berdebu. “Huft...Arlan, nyebelin banget sih tuh anak!” geram Fatiah tertahan, tidak mungkin dia berteriak di pinggir jalan tiba-tiba, yang ada dia dikir orang gila dan di

