“Intan, jangan nangis lagi. Kakak Hilya baik-baik aja kok...” bujuk Haikal, menghapus air mata yang terus jatuh di pipi cabi Intan. “Iya, Dek, kakak baik-baik aja, kok. Kamu jangan nangis lagi ya. Kasihan kak Haikal, bingung mau ngapain biar kamu gak nangis,” tambah Hilya, yang meski umurnya baru tujuh tahun, tapi bocah itu sudah mampu berpikir dewasa untuk menenangkan dan menyakinkan adiknya, bahwa dia baik-baik saja. Terkadang luka memang seperti dua sisi koin, terkadang menjadi musuh, terkadang menjadi guru yang handal. Terkadang terasa sangat pahit, dan terkadang terasa sangat berarti. Hilya adalah anak yang dipaksa dewasa karena keadaan yang terus mendesaknya tumbuh melebihi umurnya sendiri. “Tapi, tangan kak Hilya masih merah. Kata papa kalo tangan merah itu artinya sakit,” jaw

