9. NAME

2011 Kata
Setelah jam istirahat telah usai, kegiatan belajar kembali dimulai. Masih terdapat 3 jam lagi sebelum sekolah di bubarkan, dan 3 jam itu tanpa terasa berlalu dengan cepat. Minerva menoleh kearah luar jendela, melihat matahari yang mulai terbenam dan langit di penuhi oleh awan berwarna oranye, merah muda dan ungu. Saat itu langit benar-benar indah, pohon-pohon yang lebat di luar jendela kelas dan angin yang menghembus lembut membuat pemandangan begitu rindang.  Bel sudah berbunyi 2 kali sejak tadi, guru pun sudah pamit undur diri dari dalam kelas, tersisa anak-anak kelas yang sedang merapikan barang-barang mereka kedalam tas dan beberapa dari mereka telah meninggalkan kelas. Kelas yang tadinya ramai dengan suara anak-anak yang sedang berbincang semakin lama semakin sepi.  Ruang kelas terlihat lebih gelap daripada saat jam belajar dan lebih menyeramkan. Minerva dapat melihat lorong-lorong yang gelap di luar kelas dari pintu kelas yang terbuka lebar. Minerva menghela napasnya pelan setelah selesai merapikan barang-barangnya. Saat itu di dalam kelas sudah benar-benar sepi, hanya tersisa satu dua orang yang belum selesai dengan barang mereka sambil saling mengobrol.  Minerva berbalik hendak berjalan menuju pintu, tapi kemudian, "Astaga!!" ia terpekik sambil terlonjak kaget. Napasnya terengah dengan detak jantung yang memburu, Minerva menunduk sambil memegang dadanya. Mencoba untuk menetralkan detak jantungnya. "Ma-maaf, aku tidak tahu jika kamu akan sangat terkejut seperti ini." Cassa di berjongkok di hadapan Minerva dengan raut wajah bersalahnya. kedua tangannya terulur menyentuh pundak Minerva seraya mengelusnya dengan sangat pelan.  Minerva benar-benar terkejut karena mendapati sosok Cassa yang tiba-tiba berada di belakangnya begitu dirinya berbalik. Sepertinya kejadian di hutan masih sangat amat membekas. Padahal awalnya Minerva bukan tipe orang yang mudah terkejut hanya karena kejutan sepele. dia benar-benar muak karena terus mengingat kejadian itu.  "Apa kamu baik-baik saja?" Cassa bertanya karena Minerva tidak mengatakan apapun namun masih dalam posisi yang sama untuk waktu cukup lama. Bahkan saat ini kelas telah benar-benar kosong hanya tersisa mereka berdua. Minerva dan Cassa.  Setelah napasnya kembali beraturan dan ringan, detak jantungnya kembali normal. Minerva menyentuh salah satu tangan Cassa yang masih berada di pundaknya, "Ya, aku baik-baik saja." kata Minerva, kemudian dia berdiri dan Cassa mengikutinya.  "Aku sangat takut, aku tidak tahu kalau kamu akan sangat terkejut seperti ini. Aku benar-benar minta maaf, Minerva." Cassa mengambil kedua tangan Minerva dengan menggenggamnya cukup erat, "Aku tidak bermaksud untuk menakuti dirimu."  "Ya aku tahu, tidak masalah." jawab Minerva seraya menggendong tas ranselnya.  Minerva pun berjalan keluar kelas dengan Cassa yang terus menempel di sampingnya, Mereka berjalan di lorong kelas yang begitu sepi dan gelap, terlihat seperti bangunan tidak berpenghuni. Hanya ada satu dua lampu kecil berwarna kuning yang di nyalakan di setiap 3 kelas yang jaraknya kurang lebih 24 meter. Cahaya lampu itu sama sekali tidak membantu mereka.  "Kenapa kamu masih disini?"  "Aku.... hm.... bagaimana denganmu? kenapa kamu masih disini?"  "Aku baru saja selesai membereskan barang-barangku, anak-anak terlalu cepat meninggalkan kelas." Minerva melirik kearah Cassa yang terlihat sedikit gelisah, Minerva menyadari kebiasaan wanita itu jika dia sedang gugup, Cassa akan memainkan jemarinya terutama ibu jari.  "Aku menunggu dirimu," jawab Cassa. Minerva terkejut dengan jawaban Cassa, dia sama sekali tidak menduga jika wanita itu menunggu dirinya. Dia pikir mereka baru saja berkenalan dan belum sedekat itu untuk saling menunggu dan pulang bersama.  Setelah dipikir-pikir lagi, Minerva baru ingat sesuatu, "Lalu bagaimana dengan teman-teman dan pacar mu?"  Cassa menunduk, menunjukkan ekspresi murung di wajahnya, "Mereka pergi."  "Meninggalkan mu sendirian?"  "Ya, aku pikir begitu."  "Tapi kenapa? bagaimana dengan Noah? dia pacarmu."  "Noah juga." Setelah itu suasana kembali hening dan itu sedikit canggung bagi Minerva setelah mendengar ucapan Cassa. "Tapi tidak masalah, karena sekarang aku bersama Minerva. Aku tidak sendirian." Cassa berbicara dengan riang kembali. Minerva mendengus, menurutnya Cassa adalah gadis yang aneh, dia bisa sangat cepat merubah suasana hatinya seperti membalikkan tangan seakan sebelumnya bukan apa-apa. Tapi bagaimanapun juga Minerva senang karena Cassa adalah tipe gadis periang.  "Noah juga tidak pernah membiarkanku sendirian, biasanya Lyra tidak pergi dan menemaniku, tapi mereka tiba-tiba memiliki urusan penting yang mengharuskan mereka semua untuk pergi. Aku mungkin sedikit tidak tahu malu, tapi aku senang karena kebetulan aku memiliki Minerva." Cassa menoleh kearah Minerva dan menatapnya lekat, jujur saja Minerva sedikit tidak nyaman dengan tatapan Cassa yang seolah-olah sangat mengangguminya tanpa alasan. "Apa?" "Minerva, apa kamu tahu? Vampir dan manusia serigala itu nyata."  Minerva mengernyit bingung, ia tidak tahu apa yang sebenarnya Cassa ingin katakan padanya. Tapi terdengar dari suara Cassa, perempuan itu terdengar begitu yakin, jadi Minerva bertanya, "Kenapa kamu begitu yakin? Itu hanya sebuah mitos dan cerita karangan, mereka tidak benar-benar nyata."  "Kamu pikir begitu?"  "Ya, aku rasa begitu." jawab Minerva terdengar sedikit ragu, tiba-tiba ingatannya kembali mengingat sosok serigala besar di dalam hutan yang ia temui. Entah kenapa Minerva menjadi semakin ragu dengan ucapannya yang sebelumnya.  Dalam sisa perjalanan, Minerva terus memikirkan ucapan Cassa soal vampir dan manusia serigala. seperti, 'bagaimana jika mereka benar-benar ada? dan mungkin serigala yang ditemuinya di dalam hutan adalah salah satunya.' Minerva sangat ingat ukuran tidak normal serigala itu. Minerva terus sibuk dengan pikirannya sampai tidak sadar jika dia sudah melamun cukup lama, "Cassa." Panggil Minerva. "Hm?" gumam Cassa menanggapi panggilan Minerva, Cassa kembali menoleh.  "Sebenarnya beberapa hari----"  "Cassa!"  Sebuah suara familier yang memanggil nama Cassa terdengar cukup keras memotong kalimat Minerva. Keduanya menoleh dan mendapati, Noah, Benjamin, Emma dan Lyra sedang berjalan kearah mereka.  Minerva melirik Cassa yang terlihat begitu senang melihat Noah disana, wajahnya penuh dengan binar-binar kebahagiaan. Tanpa sadar Minerva menghela napasnya. Ia tidak berhasil menceritakan apa yang ia lihat di dalam hutan hari itu dan sepertinya dia tidak akan memiliki keberanian lagi untuk menceritakannya di lain waktu.  Begitu mereka telah dekat, Cassa langsung melompat memeluk Noah dengan sangat erat, Minerva terkekeh, Mereka terlihat seperti pasangan yang telah berpisah selama berhari-hari.  "Apa urusanmu sudah selesai?"  "Ya," jawab Noah seraya menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Cassa sementara mereka masih berpelukan.  Minerva dan yang lainnya hanya diam menunggu Noah dan Cassa selesai dengan kegiatan mesra mereka. Menurut Minerva, Cassa dan Noah sedikit berlebihan untuk pasangan yang baru saja berpisah kurang dari 2 jam. Setelah beberapa saat akhirnya pelukan mereka merenggang, namun kemudian Noah kembali merangkul pinggang Cassa terlihat sangat posesif.  "Aku akan mengantar Cassa pulang," kata Noah.  "Ya tentu saja." balas Benjamin terdengar mengejek.  "Aku akan ikut menemani kalian," kata Emma. "Bagaimana denganmu, Minerva?" tanya Benjamin  "Aku akan pulang." jawab Minerva. "Hmm.. bagaimana jika aku dan Benjamin mengantarmu pulang? Langit sudah gelap kami khawatir jika kamu pulang sendirian." kata Lyra. Minerva berpikir sejenak. Yang dikatakan Lyra memang benar, hari sudah gelap dan dia seorang anak perempuan yang berjalan sendirian di jalan yang sepi. Apalagi Minerva mengingat sosok serigala dan perbincangannya dengan Cassa terakhir kali. "Terima kasih, aku senang jika kalian ingin menemaniku pulang," jawab Minerva. Tentu saja menerima tawaran Lyra adalah pilihan terbaik.  "Kalau begitu kita berpisah disini," kata Emma. "Yah, sampai jumpa."  Mereka pun berpisah, Noah dan Emma mengantar Cassa sedangkan Lyra dan Benjamin mengantar Minerva.  Jalanan sangat sepi, suara binatang-binatang malam mulai terdengar. Mereka telah memasuki perkarangan rumah-rumah warga tapi masih cukup jauh untuk sampai rumah Minerva, mungkin sekitar 700 meter dari tempat mereka berjalan saat ini.  Lyra berjalan di samping Minerva sedangkan Benjamin dibelakang mereka berdua. Di tengah perjalanan yang hening, Minerva terus melirik kearah Lyra. Seorang perempuan yang sangat membuat dirinya penasaran. Terutama mata perempuan itu. Tanpa Minerva sadari matanya terus memindai Lyra, dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.  Minerva mengernyit saat menangkap sesuatu yang mengejutkannya, yaitu tangan Lyra. Secara refleks Minerva menarik tangan Lyra cukup cepat. "Astaga! Ada apa dengan tanganmu?!" tanya Minerva panik. Entahlah, apa dia benar-benar panik karena peduli atau hanya karena dia penasaran. Terkadang Minerva tidak bisa membedakan perasaannya.  Hanya saja tangan Lyra yang terlihat mungil itu terlihat begitu rapuh dengan banyaknya bekas luka seperti bekas cambukan, dan Minerva baru menyadarinya sekarang. Mungkin karena saat disekolah perempuan itu selalu memakai sarung tangan meskipun sedang makan sekalipun, awalnya ia pikir Lyra memiliki mysophobia. Tapi melihat Lyra tidak mengenakan sarung tangannya saat ini, sepertinya Lyra tidak memiliki penyakit itu. Lyra mencoba menarik tangannya yang yang berada di genggaman Minerva, namun Minerva menahannya. "Hei! lepaskan tangannya!" seru benjamin yang sejak tadi diam di belakang mereka. Benjamin menarik tangan Minerva lalu menghempaskannya dengan cukup kasar sehingga membekas kemerahan.  Minerva meringis, saat dirinya hendak marah pada Benjamin karena sikapnya yang kasar, ia mengurungkan niatnya begitu melihat wajah Lyra yang muram. Minerva benar-benar terdiam, "Ah.." gumamnya tersadar.  Sedangkan Benjamin masih melihatnya dengan pelototan tajam, "Maafkan aku, apa aku menyakitimu?" Benjamin menggeram marah, Minerva yang mendengar suara geraman yang keluar dari mulut Benjamin terkejut. Geraman Benjamin terdengar seperti seekor anjing dan Minerva sangat ketakutan sekarang. Matanya menatap Benjamin dengan horor, tangannyapun gemetar.  "KAMU--!!" Maki Benjamin, namun belum sempat benjamin mengucapkan kalimatnya, Lyra menengahi mereka. Lyra menyentuh pundak Benjamin dan menenangkannya.  Sampai beberapa saat akhirnya Benjamin kembali tenang, "Aku baik-baik saja, kamu tidak menyakiti ku. Aku hanya terkejut karena kamu menarik tangan ku secara tiba-tiba." kata Lyra.  Minerva masih takut, bibirnya gemetar, meskipun Benjamin sudah lebih tenang, Minerva tidak bisa berhenti was-was. Minerva terus melirik Benjamin untuk melihat reaksinya dan suaranya tercekat di kerongkongannya. Meskipun sudah jauh lebih tenang, Benjamin masih menatapnya dengan pandangan tidak bersahabat yang membuat MInerva merasa tidak nyaman.  "Aww!!" ringisan keluar dari mulut Benjamin saat Lyra menyikut pinggang pria itu cukup kuat.  Mata Lyra menatap Benjamin tajam lalu melirik kearah Minerva seakan menginteruksikan sesuatu, "Ya, ya, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menakutimu. aku hanya berada di luar kendali. karena sesuatu di dalam diriku sangat sensitif."  Suasana kembali hening setelah permintaan maaf Benjamin, "Tidak masalah, aku juga salah. Aku minta maaf, Lyra."  Lyra tersenyum lembut, lalu tangannya terlur menepuk puncak kepala Minerva yang lebih tinggi darinya. Tubuh Lyra tidak tinggi dan tidak juga pendek, dan Minerva memiliki tubuh tinggi dan proporsi seperti seorang model. "Hei, aku sudah memaafkanmu, berapa kali kamu ingin minta maaf padaku?" Lyra tertawa.  Melihat tawa Lyra, perasaan Minerva menjadi lebih ringan. Namun meski begitu, Minerva tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melihat kearah tangan Lyra. "Ini." Lyra yang menyadari tatapan Minerva yang tidak lepas dari punggung tangannya menunjukkan tangannya pada Minerva.  "Apa itu sakit?" Tanya Minerva meringis pelan membayangkan bagaimana bentuk luka itu sebelum akhirnya menjadi bekas luka yang terlihat begitu menyakitkan.  "Tentu saja sakit, tapi sekarang tidak sakit lagi." Lyra melirik wajah Minerva yang sedang menatap tangannya dengan ekspresi wajah yang antusias dan ketakutan di waktu yang sama, menurut Lyra wajah Minerva saat mengeluarkan ekspresi itu terlihat menggemaskan. Minerva memang perempuan yang cantik tidak peduli bagaimana keadaan wajahnya, hal itu juga yang membuat Lyra tidak tersinggung dengan kelakuan Minerva yang terkadang memang seenaknya dan sangat ingin tahu.  "Aku mendapatkan luka ini dari tuan lama ku, tapi sekarang orang itu sudah tidak ada. Dan kini aku mendapatkan tuan yang baik, bersyukurnya aku, bahkan tuan baru ku mengiznkan ku untuk bersekolah." Jelas Lyra, dia tahu Minerva sangat penasaran dengan itu, semua terlihat di wajah perempuan itu.  "Tuan?" Tanya Minerva dan Lyra mengangguk. "Apa dia orang yang sangat kaya? Aku tidak tahu ada orang yang sangat kaya di kota ini."  "Dia adalah seorang bangsawan."  "Astaga! Wah! Benarkah?" Lyra mengangguk, "Siapa nama tuanmu?" tanya Minerva lagi. Benjamin kembali menggeram, "Astaga selain wajahmu, kamu benar-benar menyebalkan. Hentikan sekarang. Dan kembali jalan!"  Minerva mendengus, "Hei, walaupun aku menyebalkan. Ingat kamu sempat menyukaiku!"  "Itu sebelum aku tahu jika kamu benar-benar cerewet!" Sergah Benjamin.  Lyra terkekeh pelan, "Aku tidak bisa menyebut namanya, Minerva. Nama tuanku tidak bisa kusebut begitu saja dari mulutku, aku tidak berani."  Minerva memelas, "Ayolah... aku sangat penasaran! Apa dia tampan? Apa dia masih muda?"  "Untuk apa kamu ingin tahu? dia tidak akan menyukaimu! bangun dari tidurmu!" Ejek Benjamin. Minerva mengabaikan ucapan Benjamin, "Bagaimana jika kamu menulisnya di tanganku, kamu jadi tidak perlu menyebut namanya. Bagaimana?" Kata Minerva memohon. Lyra melirik kearah Benjamin dan seakan mengerti, Benjamin menganggukkan kepalanya samar. Lyra tersenyum, "Baiklah." katanya setuju.  Minerva terpekik senang, ia menyerahkan telapak tangannya pada Lyra dengan antusias. Lyra mengambil tangan Minerva, lalu jari telunjuknya mulai bergerak menuliskan sebuah nama di telapak tangan Minerva.  "L" "U" "C" "I" "E" "N" Jari telunjuk Lyra berhenti bergerak, Minerva menatap Lyra yang kini telah kembali mendongak dan melepaskan tangannya, "Lucien?" tanya Minerva memastikan dan Lyra mengangguk pelan. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN