Minerva larut dalam pikirannya, ia merasa sangat aneh dan gelisah. Ia juga masih ingat jelas dengan serigala yang sangat besar yang ia temui di air terjun. Minerva mungkin tidak akan setakut sebelumnya jika ukuran serigala yang sebelumnya ia temui berukuran normal. Mau dipikirkan bagaimanapun, Minerva merasa hal itu sangat tidak masuk akal. Serigala apa yang besarnya sebesar 3 kali pria dewasa?
Tubuhnya bergetar ketakutan hanya karena mengingat kejadian itu. Minerva memeluk dirinya sendiri dengan cemas, "MINERVA!!!"
Suara yang familiar memanggilnya, suara itu berasal dari bawah rumah pohon dengan dan nada suaranya sangat keras bahkan menggema di dalam hutan. Dengan hati-hati, Minerva melihat kebawahnya, mata Minerva melebar dengan antusias, disana 3 temannya berada sedang mendongak melihat kearah nya.
"Sejak tadi kami mencari mu, rupanya kamu di atas. Kami akan naik!"
Kepala Minerva menggeleng cukup keras, "Tidak, tidak, jangan! Aku akan turun." Cegah Minerva, ia tidak ingin teman-temannya bingung dengan keadaan rumah pohon yang berbeda dari yang terakhir kali mereka ingat. Minerva berjalan kearah tangga, tangga kayu yang lembab karena diguyur hujan tadi malam dan suhu di hutan yang selalu dingin.
Minerva menuruni satu persatu anak tangga tanpa melihat kebawah, jujur saja, tangga ini sangat berbahaya karena tidak memiliki pengaman, jika tergelincir sedikit saja maka akan langsung jatuh dan pohon ini cukup tinggi, mungkin kaki atau tangan akan patah jika hal itu sampai terjadi. Minerva menelan ludahnya susah.
Begitu turun, Rein menarik Minerva. Membawa Minerva mendekat, "Kami sejak tadi mencarimu, aku tidak menyangka jika kamu berada di rumah pohon."
Minerva terdiam sejenak, memikirkan apa yang akan ia katakan pada Rein dan kedua teman lainnya. Sementara Rein dan yang lainnya masih menunggu Minerva.
"Aku menunggu kalian, lalu tertidur di rumah pohon. Jika kalian berteriak-teriak memanggil ku." Jawab Minerva. Minerva memutuskan untuk tidak mengatakan apapun pada Rein dan kedua temannya, mereka bisa saja berpikir jika dirinya membuat kebohongan lagi, lagi pula siapa yang akan percaya jika dia berkata melihat sosok serigala yang memiliki tubuh sebesar 3 orang dewasa?
"Omong-omong kami mencarimu kesini karena kami melihat foto yang kamu kirimkan. Kami membatalkan perjalanan kami." Kata salah satu teman Minerva.
"Foto? Foto apa?" tanya Minerva bingung.
Rein menunjukkan sebuah foto yang berada di ponselnya, benar, foto itu berasal dari dirinya. yang dia ingat, dia memang mengirimkan foto itu namun saat itu ia tidak mendapatkan sinyal sama sekali, jadi ia pikir foto itu tidak akan terkirim.
"Dimana ponsel ku?" Minerva meraba-raba tubuhnya, mencari ponsel yang ia ingat ia gantung di leher. "sepertinya aku kehilangan ponsel ku."
"Bagaimana bisa? apa kita perlu membantu mencarinya?"
Minerva menggeleng, "Tidak perlu, sepertinya aku menjatuhkan nya di suatu tempat saat berlari di hutan." Menemukan ponsel di dalam hutan memang sulit dan merepotkan. Entah dimana ia menjatuhkan nya, mungkin saja ponsel nya sudah rusak karena terjatuh keras, ia ingat dirinya berlari sangat kencang tadi.
"Mungkin saja ponsel ku sudah rusak karena terjatuh keras, banyak batu di hutan."
"Oh, kamu mungkin benar. Pantas saja, sejak tadi aku menghubungi mu tapi nomor mu berada diluar jangkauan."
Di luar jangkauan? Itu berarti ponselnya masih hidup bukan? Pikir Minerva. Jika ponselnya memang masih menyala, Minerva sama sekali tidak ingin kembali, bertemu dengan sosok karnivora yang hampir saja memakannya membuat Minerva trauma. Mungkin saja kali ini ia selamat, tapi jika dirinya bertemu serigala itu lagi, entah dia akan se-beruntung ini atau tidak.
"Kalau begitu, apa kamu ingin mengantar kami ke air terjun yang ada di dalam foto ini?"
"Apa?"
"Yah, air terjun yang ada di foto bersama denganmu sangat indah, jadi..."
"Tidak!" Minerva memotong ucapan Rein sebelum Rein menyelesaikan ucapannya.
"Aku tidak akan kembali ke air terjun itu," Minerva berkata dengan mantap, matanya menatap Rein dengan wajah yang tegas.
Kening Rein mengernyit dalam, untuk sesaat mereka hanya saling menatap dan tenggelam dalam kesunyian, entah apa yang ada di pikiran Rein dan kedua temannya tentang dirinya saat ini, sekarang Minerva sudah tidak peduli.
Setelah keheningan yang lama, suara tawa Rein yang terdengar mengejek terdengar. "Oh ayolah, kenapa kamu berubah menjadi menyebalkan seperti ini, Minerva?"
"Jangan membuatku membencimu dengan bersikap menyedihkan. Kenapa kamu tidak ingin membawa kami ke air terjun yang ada di foto mu? Setidaknya berikan alasan yang membuat kami paham."
Tangan Minerva terkepal, bibirnya mengatup rapat, suasana menjadi sangat menegangkan. Rein menatap Minerva lurus dengan matanya yang berapi-api. Sejak awal Rein sangat menyukai Minerva, dia sangat ingin berteman dengan Minerva. Ia pikir akan menyenangkan menjadikan Minerva sebagai sahabat. Tapi saat Minerva terus mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Tentu saja dirinya berpikir jika Minerva bukanlah gadis sebaik yang ia kira, Rein berpikir jika Minerva hanyalah seorang gadis cantik yang suka berkata bohong untuk menarik perhatian.
"Apa kamu berbohong? Apa foto ini juga palsu? kenapa kamu melakukannya?"
Mata Minerva membelalak, ia tidak menyangka akan mendengar Rein berkata seperti itu padanya. Ucapan Rein bukanlah sebuah pertanyaan di telinga Minerva. Dengan tangan yang mengepal erat, meremas ujung jumpsuitnya. Minerva menatap lurus kearah Rein, menatap mata Rein yang penuh tuduhan padanya. "Terserah kamu ingin mengatakan apa tentang ku, aku tidak akan kembali ke tempat itu! Aku tidak akan mengantar mu kesana."
"Apa?! itu bukan alasan."
Minerva melengos lalu berjalan melewati Rein dan kedua temannya begitu saja, mengabaikan keberadaan mereka, "Hei Minerva!!" Minerva mengabaikan teriakan Rein yang terdengar sangat kesal memanggilnya dari belakang.
Kepala Minerva menunduk dalam selama perjalanan, tangannya yang sejak tadi terkepal di samping mulai memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, rasa menusuk dan tidak nyaman merambat di dalam dadanya. Minerva tida pernah ingin memutuskan persahabatan mereka yang baru saja dibangun bahkan belum genap sehari hancur seperti ini. Dia ingin menjelaskan pada mereka apa yang baru saja ia alami, tapi tidak semudah itu, rasanya bibirnya kelu, sementara itu dia juga khawatir jika mereka tidak akan mempercayai ceritanya dan justru mencapnya sebagai pembohong yang lebih buruk dari pada ini. Jika mereka ingin bukti, Minerva juga tidak sanggup memberikan bukti, bertemu dengan sosok serigala itu membuat Minerva trauma dan takut, bahkan hanya dengan membayangkannya saja tubuhnya kembali gemetar.
Perlahan air mata Minerva turun membasahi pipinya, Minerva menghapus air mata yang jatuh di pipinya dengan cepat namun air mata dari matanya yang lain kembali turun dan terus berulang.
Rein tidak mempercayainya, begitu dengan kedua teman lainnya. Minerva sangat sedih dengan kenyataan itu, sahabatnya tidak mempercayainya. Memang mereka baru saja menjadi sahabat namun sebelumnya mereka berteman. Apa dirinya terlihat seperti seorang yang suka berbohong seperti yang dipikirkan Rein tentangnya, Minerva terus bertanya dalam hatinya.
Di dalam hutan yang sunyi, suara isakan tangis Minerva terdengar begitu nyaring meski Minerva sudah mencoba untuk menahannya. Selama perjalanan, Minerva tidak bisa berhenti memikirkan ucapan Rein dan terbayang ekspresi wajah gadis itu, dia terlihat begitu kecewa padanya. Minerva tidak tahu harus bagaimana jika bertemu dengan mereka lagi di sekolah.
Karena terus memikirkan sahabat-sahabatnya, Minerva tidak sadar jika dia sudah sampai di depan rumahnya, rumah besar yang selalu terlihat sepi. Awalnya Minerva pikir menjadi anak tunggal sangat menyenangkan, mendapatkan semua perhatian kedua orangtuanya, selalu mendapatkan apapun yang ia minta dan dimanja, tapi sekarang Minerva pikir lebih baik jika dia memiliki saudara yang bisa mendengar ceritanya, menemaninya bermain bersama dan bertengkar. Menjadi anak tunggal ternyata tidak sebaik yang ia kira sebelumnya.
Minerva menatap pintu rumahnya dengan mata semababnya, perlahan tangannya meraih kenop pintu dan memutarnya, pintupun terbuka, suara gesekan pintu mendominasi ruangan yang sepi. Mata Minerva langsung melihat ayahnya yang sedang meminum segelas kopi sambil membaca koran di meja makan sedangkan ibunya sedang berdiri di belakang kursi ayahnya. Aroma roti dan kopi memenuhi penciumannya, mata Minerva beralih pada jam besar yang tergantung tepat di belakang dinding dimana ibunya berdiri saat ini. Jam menunjukkan pukul 11 pagi. Minerva tidak menyangka akan pergi begitu lama.
Begitu mereka menyadari keberadaan Minerva, mereka menoleh bersamaan, Minerva langsung menundukan wajahnya, menyembunyikan mata sembab dan wajahnya yang bisa ia pastikan sangat buruk karena terlalu banyak menangis dan sempat tertidur sebelumnya.
Bersamaan dengan matanya yang melihat keberadaan Minerva, Soora-ibu Minerva- menghampiri Minerva dengan senyuman lembut di bibirnya. Di luar pakaiannya, Soora mengenakan celemek berwarna hijau kotak-kotak yang Minerva pernah berikan sebagai hadiah ulang tahun Soora dan rasa berterimakasihnya karena telah membuatkannya cookies paling enak yang pernah ia makan, Minerva ingat itu sekitar 3 tahun yang lalu.
Saat tangan Soora melayang hendak menyentuh wajah Minervab yang terus menunduk sejak masuk kedalam rumah, Minerva mencegahnya, "Aku lelah setelah bermain, aku akan beristirahat sejenak. " putus Minerva.
Soora menghela napasnya, "Baiklah, setelah bangun dan mandi, kembalilah kebawah untuk makan siang. Aku juga membuat Cookies untukmu, pastikan kamu mencobanya!" Soora mengedipkan satu matanya pada Minerva yang justru memaku meliat wajah Soora.
"Ba-baik." Minerva tidak tahu mengapa dia terdengar gugup.
Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, Minerva menaiki tangga dan pergi kembali ke kamarnya.
To Be Continue