Aaliya — Malam hari …
Nada indah mengalun, tercipta dari petikan Gambus yang dimainkan oleh seorang lelaki dengan penuh penghayatan. Pun kecapi dan seruling mendayu indah sekaligus menyayat hati seperti seorang insan yang mendamba dan mengemis cinta pada seseorang yang mengabaikan dirinya.
Para pemain musik di panggung— di depan sana begitu piawai membawa para pelanggan rumah bordil ini larut dalam suasana malam panjang dan dingin ini menjadi b*******h.
Gadis muda lagi cantik menari di atas panggung—indah, juga erotis. Puluhan koin-koin yang terpasang pada ikat pinggangnya bergerincing mengikuti pergerakan pinggulnya. Mata besar nan indah di bingkai celak hitam, menghipnotis siapa pun yang memandangnya. Tatapan penari itu tak mampu beralih dari lelaki tampan yang duduk tak jauh darinya.
Lelaki tampan itu adalah lelaki yang menolong Adara tadi siang. Dia tersenyum manis sembari mengangguk pelan menanggapi kerlingan nakal sang penari.
Sekelebat, membayang di matanya perempuan yang ditolongnya siang tadi.
“Ayas—” suara lirih keterkejutan dan juga sorot mata rumit tidak bisa diartikan olehnya apa maknanya.
Terbayang di pelupuk matanya ketika cadar gadis itu dibuka. Jantungnya seakan dicabut dari tempatnya, saking terkejutnya ia melihat rupa si Gadis yang begitu menawan.
Dia membuka tasnya dan mengambil buku Adara yang secara tidak sadar dibawanya. Diletakkannya buku itu ke atas meja lalu dipandanginya buku itu lekat-lekat, “Apakah kau sedang kasmaran? Hingga kau mencari tahu tentang cinta. Siapa lelaki beruntung yang mendapatkan cintamu, Wahai Gadis?” gumam lelaki itu di dalam hati.
“Buku siapa?” tanya Eliyas — teman — si Penolong Adara.
“Perempuan yang kutolong siang tadi,” jawabnya dengan santainya.
“Apa yang akan kau lakukan dengan buku itu?” Emran juga ikut menimpali.
Si Penolong Adara mencebikkan bibir, “Entahlah — mungkin akan kukembalikan, tapi aku tidak tahu dia siapa, dan aku tidak tau ke mana harus mengembalikannya. Bahkan aku juga tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini. Semoga dia baik-baik saja,” ucapnya penuh harap.
“Apakah kalian sudah mendapatkan informasi tentang orang-orang yang mencari Ayas?” tanya Si Penolong Adara kepada kedua temannya.
“Sayangnya belum. Jika kau mau kita bisa mencari informasi itu secepatnya, tapi mungkin akan membuat kecurigaan jika kita melakukannya dengan terburu-buru,” terang Eliyas.
“Iya. Santai saja. Cepat atau lambat kita pasti menemukan titik terang jika mereka masih melakukan upaya pencarian itu,” ucap si Penolong–Adara.
“Kapan kau akan menemui Perdana Menteri Bayezid?” tanya Emran sambil mereguk minumannya.
“Nanti saja jika waktunya sudah tiba. Kita perlu mempelajari situasi di sini. Setelah itu barulah aku akan mengirimkan utusan untuk membuat janji pertemuan dengan Perdana Menteri Bayezid. Lagi pula, tentu perlu cara khusus agar dia mau menemuiku. Bagaimana mungkin dia mau bertemu orang asing sepertiku? Paling-paling aku hanya bisa bertemu dengan pelayannya. Kecuali aku bisa berbuat sesuatu yang menarik perhatiannya,” terang si Penolong–Adara.
“Iya, kau benar sekali. Aku setuju denganmu,” Eliyas menimpali.
Mereka pun larut dalam pembicaraan serius dengan nada bicara yang pelan sekali. Hanya bisa didengar oleh mereka bertiga saja.
Lalu … pembicaraan mereka harus terhenti karena sang Penari mendekati meja mereka.
Penari itu bergerak dengan erotis di depan si Penolong–Adara. Lalu, dengan berani memeluknya dari belakang. Meraba d**a bidang lelaki itu, berbisik di telinganya “Habibie, aku milikmu malam ini.”
Lelaki si Penolong–Adara menoleh, menatap dalam pada sepasang mata amber milik sang Penari sembari mengusap lembut tangan yang kini tengah merengkuhnya, “Betapa beruntungnya aku bisa memandang perempuan secantik dirimu.”
Penari itu pun tersenyum senang mendapatkan pujian dari lelaki yang disukainya.
Lelaki itu menyentuh dagu sang Penari menggunakan ujung jemari, “Jangankan untuk menghabiskan malam denganmu, bahkan bermimpi duduk berdampingan denganmu pun aku tidak berani. Kini kau di sini menawariku malam yang indah? Mimpi apa aku semalam. Bagaimana aku bisa menolak keberuntungan ini?”
“Habibie … rupanya bukan hanya wajahmu yang rupawan. Bahkan kata-katamu pun mengalahkan manisnya madu.” Penari itu semakin tersipu. Wajahnya semakin merona karena bahagia.
“Bahkan seseorang yang Pahit Lidah-pun akan menjadi pujangga dalam semalam saat melihatmu.” Dia kembali memuji penari itu.
“Habibie …” kata-kata penari itu tercekat beberapa saat, “Tolong bawa aku bersamamu. Meski hanya semalam saja sudah cukup kiranya menjadi penawar hati yang gelisah karena terpikat olehmu.”
“Semalam bersamamu tentu akan jadi malam terindah di sepanjang hidupku. Sayangnya karena perjalanan jauh aku sangat kelelahan,” tolak si Penolong Adara dengan halus.
“Aku bisa memijatmu jika kau mau,” tawar Penari itu lagi.
“Bagaimana aku bisa menolak keberuntungan seperti ini?” akhirnya si Penolong Adara menyerah. Emran dan Eliyas pun tersenyum sambil menggeleng pelan melihat tuannya.
“Sepertinya kami harus kembali ke penginapan tanpamu malam ini,” ucap Emran.
“Kalian duluan saja kembali ke penginapan. Jangan menungguku. Aku akan menghabiskan malam panjang ini dengan wanita cantik ini,” titah Si Penolong–Adara sembari memasukkan buku milik Adara yang tergeletak di atas meja ke dalam tasnya.
***
Paviliun Khusus Pelayan di Kediaman Adara …
“Nona … berikan obatmu, aku akan menyiapkannya untukmu.” Dameshia menadahkan tangan.
Adara memberikan obatnya kepada Dameshia tanpa berkata sepatah kata pun. Dia masih sangat kesal dan marah kepada pelayan setianya itu karena sudah mengusir lelaki yang mungkin saja adalah Ayas.
“Nona … kau masih marah kepadaku?” tanya Dameshia dengan raut wajah sedih.
“Mana pakaianku?” Adara balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Dameshia sebelumnya.
“Nona__” lirih pelayan itu dengan wajah dan suara yang memelas.
“Siapkan pakaianku segera, Dameshia! Aku mau kembali ke kamarku,” titah Adara dengan tegas.
“Baik, Nona.” Dameshia pun meletakkan tangan kanannya ke d**a, sedikit menunduk lalu pergi untuk mengambil pakaian Adara yang tadi disembunyikan.
Selang beberapa saat, Dameshia kembali dengan sepatu dan pakaian Adara, “Mari Nona__”
Adara mengenakan pakaiannya dibantu Dameshia, tetapi dia tetap diam seribu bahasa.
“Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa dia orang yang selama ini ada di dalam mimpimu?” tanya Dameshia berusaha mencairkan suasana sembari membantu Nona-nya berpakaian.
“Mungkin … aku juga tidak tahu, tapi—” Kata-kata Adara terpotong.
“Tapi?”
“Tapi matanya, perawakannya. Suaranya …. Suaranya sangat mirip dengan Ayas—lelaki yang ada di dalam mimpiku.” Adara menghela napas panjang, “karena itu aku marah kepadamu! Kau sudah begitu lancang menyuruhnya pergi,” ungkapnya sambil merengut.
“Nona … saat itu Tabib Razi mau memeriksamu. Dia sudah melihat wajahmu, lalu apakah aku harus diam saja dia melihat bagian tubuhmu yang terbuka ketika kau diperiksa? Kakimu akan tersingkap, begitu juga dadamu. Apakah aku bersalah karena menjagamu?” Dameshia menyatakan argumennya.
“Setidaknya kau bisa memintanya menungguku sadar. Mungkin hanya untuk sekedar untuk mengucapkan terima kasih kepadanya secara langsung.”
“Nona … dia sedang terburu-buru. Aku tidak bisa menahannya,” alasan Dameshia agar dirinya tidak lagi terus menerus ditohok oleh Nona-nya, “apakah kau yakin dia adalah orang yang kau cari?”
“Entahlah … tapi semuanya sama.”
“Nona, suara banyak yang terdengar mirip.”
“Suaranya tertanam jelas dalam mimpi maupun sadarku. Bahkan jika dia berbicara di tengah ramainya ocehan sekerumunan manusia sekalipun, aku tetap bisa membedakan antara suaranya dan suara orang lain.
Setiap debaran jantungku memanggil namanya. Aku menginginkannya seperti seseorang yang tersesat di gurun pasir, sekarat mendambakan air. Aku mencintainya seperti jasad yang mencintai ruh,” Adara terisak, disapunya air mata yang membasahi kedua pipinya.
“Tuan Putri!” Dameshia memeluk Adara yang terlihat begitu rapuh, “aku akan menemukan dia untukmu, sebelum pernikahanmu. Jika benar lelaki yang kau temui itu adalah Ayas, kau akan segera bertemu dengannya.”
Adara tersenyum getir, “Kau yakin sekali. Bagaimana bisa kau menemukan seseorang yang bahkan kau tidak pernah melihat wajahnya,” tawa kecil nan hambar tercipta dari bibirnya.
“Aku melihatnya. Dia membuka penutup wajahnya tadi sesaat sebelum dia pergi,” ungkap Dameshia.
“Benarkah?!” Adara terpekik dengan mata membulat besar, “katakan bagaimana wajahnya?”
“Dia — dia sangat tampan, Tuan Putri. Kening, hidung dan rahangnya memiliki garis yang tegas. Wajahnya putih kemerahan, sepertinya merah itu karena cuaca panas saat di gurun. Dan __ dialek! Saat dia berbicara dialeknya terdengar sedikit berbeda dengan kita.”
“Itu dia, Dameshia! Itu Ayas!”
“Tapi __ bagaimana jika ternyata bukan dia?” tanya Dameshia.
“Tidak masalah. Meski aku berharap itu dia,” kata Adara sambil tersenyum dipaksakan.
“Baiklah. Aku akan menemukannya untukmu. Tapi kau harus sehat. Pangeran Zayan akan datang dalam tiga hari lagi. Kau harus minum obatmu sehingga kau bisa tidur dan makan dengan baik.”
“Baiklah.” Adara mengangguk senang, “temukan dia sebelum pangeran Zayan datang,” pinta Adara meremas kedua tangan Dameshia.
“Aku tidak bisa berjanji. Apa yang mau kau lakukan jika sudah bertemu dengannya? Apakah kau merencanakan sesuatu untuk membuat pernikahanmu batal?” Dameshia memicing, menatap curiga kepada Nona-nya.
“Tidak. Aku tidak ada rencana seperti itu. Hanya saja, jika aku bertemu dengannya setelah pangeran Zayan datang dan ternyata dia setuju menikah denganku, maka ayahku pasti akan memperketat penjagaannya kepadaku. Aku juga takut akan menjadi masalah jika Putra Mahkota sampai tau aku bertemu dengan lelaki lain padahal hari pernikahan sudah disepakati.”
“Syukurlah … untunglah tidak ada yang mengenalimu di tengah pasar hari ini. Kalau tidak, kita pasti dalam masalah.”
***
Di dalam kamar rumah bordil …
“Siapa namamu?” tanya lelaki si Penolong–Adara sembari menatap dalam wajah cantik si Penari yang kini tengah duduk di depannya, menuangkan minuman ke dalam gelas.
“Feruza,” ucapnya sambil menyurungkan gelas berisi minuman kepada si Penolong–Adara.
“Feruza … cantik sekali. Nama itu memang cocok untukmu,” pujinya sembari meletakkan gelas ke meja saji yang berada di depan mereka. Lalu, si Penolong Adara menuangkan minuman ke dalam gelas untuk Feruza.
“Kau cantik sekali, Feruza.” Lelaki itu memandangi wanita depannya lekat sembari meletakkan telapak tangan kirinya di pipi Feruza.
Jarak mereka begitu dekat, hingga keduanya bisa sama-sama menghirup aroma anggur yang difermentasi dari hembusan napas lawan bicaranya.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Feruza, sambil memberikan tatapan dalam, si Penolong–Adara menjentikkan ujung ibu jarinya pada cincin yang tersemat di jari telunjuknya. Cincin itu terbuka, kemudian ia menuangkan bubuk putih yang ada di dalam cincin itu ke dalam gelas Feruza.
“Kau pun tampan sekali. Ya Habibie … siapa namamu?” tanya
“El Yardan. Kau bisa memanggilku dengan nama Yardan,” ucapnya sembari memutar posisi tubuh mereka. Kini, Feruza tengah membelakangi gelas anggur yang tadi telah dimasukkan sesuatu.
“Nama yang indah … El Yardan — berarti Raja,” tutur Feruza sambil tersenyum. Apakah kau seorang Raja?
“Andai benar begitu, kupastikan kau berada di istana haremku.” Yardan merapatkan tubuhnya kepada Feruza lalu berbisik, “Sehingga kau hanya milikku. Hanya untukku,” tambahnya seraya diam-diam menjangkau gelas anggur Feruza. Dengan gerakan cepat memasukkan telunjuknya ke dalam gelas itu lalu mengaduknya.
Sedangkan Feruza tersenyum bahagia mendengar kata-kata manis Yardan, “Jadikan aku milikmu. Keluarkan aku dari sini Yardan,” pintanya penuh harap.
Yardan memberikan gelas anggur kepada Feruza, “Sayangnya aku bukan Raja dan aku tidak punya uang sebanyak itu untuk menebusmu dari sini. Wanita secantik dirimu … tidak mungkin tuanmu rela menjualmu dengan harga murah.”
Feruza tertunduk sedih mendengar kata-kata Yardan.
“Sudahlah … jangan dipikirkan. Jika nanti aku punya uang aku akan mengeluarkanmu dari sini. Sekarang minum dulu,” bujuk Yardan sambil tersenyum manis.
“Kau janji?” Feruza memastikan.
“Ya … aku berjanji kepadamu,” ucap Yardan sambil mengambil gelasnya sendiri, “mari kita minum,” bujuknya dengan senyuman penuh arti.