~Negara Aaliya. Mediterania Timur pada abad pertengahan~
Adara mengambil gelas yang disurungkan Dameshia, lalu mereguk habis isinya, kemudian memberikan kembali gelas kosong itu kepada pelayanannya.
Anak perempuan sang Perdana Menteri itu pun menyingkap tirai kelambunya, kemudian turun dari kasur. Ia berjalan di keremangan kamarnya yang hanya diterangi satu lentara yang tertempel di dinding serta sebuah pelita di atas meja, di tengah ruangan.
Lampu pelita itu terbuat dari kuningan berbahan bakar minyak ikan paus, apinya meliuk tersapu angin yang berasal dari pergerakan tubuh Adara.
Gadis cantik itu meremas lengan sofa sambil melihat ke atas meja nakas, meja berbahan kayu oak terbaik dengan ukiran khas indah di atasnya, ukiran khusus untuk para bangsawan, guna menunjukkan status sosial mereka.
Bukan meja itu yang menarik perhatian Adara, tetapi jam pasir yang terletak di sana menunjukkan waktu jam 3 malam.
Adara menghela napas panjang dan berat sambil duduk di sofa empuk. Bantalannya terbuat dari tali temali yang dijalin dari bulu domba terbaik. Kulit luar sofa itu ditutup dengan kain beludru merah dari sutra. Pada sandarannya terdapat sulaman benang emas bermotif daun dan bunga.
Melintas di pelupuk mata Adara seorang lelaki yang tadi dilihatnya di dalam mimpi. Wajah tampan dengan sinar kelembutan, indah bak rembulan. Matanya cokelat keemasan, hangat dan terang menunjukkan ketulusan dan perlindungan.
Rambut lelaki itu hitam kecokelatan, sedikit bergelombang, dan panjanganya menyentuh tengkuk. Terkadang rambut itu terlihat agak kekuningan saat terbias matahari.
Tubuhnya gagah dan tegap, dan lengannya sangat kokoh. Terlihat dari ayunan pedangnya yang sangat kuat. Sekali tebas, kepala lelaki b***t di dalam mimpi Adara putus dan terguling hina di pasir.
Suara lelaki itu terdengar lembut hangat saat bicara kepada dirinya, tetapi garang dan menggetarkan nyali ketika dia meneriaki kedua lelaki yang berusaha melecehkannya di dalam mimpi.
Mimpi yang sama. Selalu sama meski tidak setiap malam. Terkadang Adara mendapatkan mimpi berbeda jalan cerita, tetapi tetap dengan akhir yang sama, lelaki itu menyelamatkan dirinya dari para b a j i n g a n pengganggu.
Adara menyentuh dadanya yang berdebar cepat. Tulang rusuknya seakan-akan saling menyusup lalu saling bertaut, hingga dadanya terasa sangat sesak.
Air mata rindu perlahan mengaliri kedua pipi Adara, "Siapa kau, Tuan?" gumamnya lirih dalam kepedihan.
Ada perasaan yang membuncah hebat di dalam d**a Adara. Memaksa sudut matanya mengeluarkan riak kesedihan yang menggenang di sana. Lelaki itu, sejak kedatangannya ke dalam mimpi-mimpi gadis itu membuat hari-harinya terasa suram.
Tidak ada lagi keindahan selain wajah sang lelaki impian. Tidak ada lagi syair dan musik merdu, selain suaranya yang begitu lembut bersemayam dalam kisi-kisi hati Adara.
Tidak ada lagi warna di dunia ini, selain warna matanya saja. Adara seakan-akan menjadi buta warna. Ia hanya tertarik pada warna yang sewarna dengan mata lelaki itu. Hingga ia memelihara kupu-kupu bersayap cokelat keemasan di dalam sebuah toples kaca.
Adara menangis tersedu-sedu. Hatinya begitu sakit terkepung rindu. Terpenjara pesona lelaki bahkan yang belum pernah dilihatnya.
"Siapa kau?" bisik Adara pelan sambil terisak menyentuh dadanya yang terasa sakit, begitu menderita dalam kerinduan dan ketidaktahuan siapa gerangan lelaki pengganggu malam-malamnya.
"Tuan Putri Adara, kau tidak papa?" tanya Dameshia khawatir melihat Nona-nya. Anak kesayangan-Perdana Menteri-Bayezid itu terlihat selalu murung dan tidak bersemangat akhir-akhir ini.
"Aku tidak papa. Pergilah!" Adara mengibaskan tangan, "lain kali kau jangan masuk lagi ke kamarku kecuali aku mengizinkanmu!" perintah gadis itu tanpa melihat ke wajah Dameshia.
"Baiklah. Maafkan kelancangan hamba." Dameshia membungkukkan tubuhnya sedikit lalu masuk ke dalam kamarnya di sudut ruangan.
Kamar Demeshia masih satu tempat dengan ruangan Adara, ada pintu di sudut ruangan. Sehingga saat Nona-nya itu membutuhkan dirinya, cukup memanggilnya saja, dia akan segera menjumpai Adara.
Adara menyandarkan punggung di sandaran kursi. Pikirannya menjelajahi malam-malamnya beberapa bulan terakhir. Mimpinya tentang lelaki penyelamatnya selalu saja datang mengganggu. Sayangnya ia selalu terbangun, bahkan sebelum lelaki itu menyebutkan namanya.
Gelang kaki Adara bergemerincing pelan saat telapak kakinya yang halus menapaki karpet tebal dan lembut hasil tenunan mahakarya pengrajin karpet Konstantinopel.
Ia membuka jendela, angin deras dari arah gurun pasir menerpa wajahnya. Bintang-bintang bertebaran indah memenuhi langit kota Aaliya, ibukota negara Amiera.
Cahaya obor di tembok benteng kota, juga kerlipan lentera di depan rumah-rumah penduduk tak kalah indah dari gemerlap langit, seakan-akan pemandangan kota Aaliya adalah pantulan keindahan langit malam.
Sesekali suara serigala di pegunungan gurun melolong panjang, menciutkan nyali.
Adara melihat bagunan tertinggi di tengah-tengah kota dengan kubah besar, tempat itu adalah istana. Tempat Raja Emier Fadheel tinggal.
Gadis itu tersenyum hambar saat melihat istana, kata Perdana Menteri Bayezid-Ayah Adara, tempat itu akan menjadi tempat tinggalnya tidak lama lagi. Sementara lelaki asing yang selalu datang di dalam mimpinya telah memeluk erat hatinya. Membuatnya melihat dunia dengan cara berbeda.
Adara melihat bulan purnama di langit. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Ayah, aku bermimpi memeluk bulan." Kenang Adara menceritakan mimpinya. Kala itu usianya 9 tahun.
Bayezid tersenyum mendengarnya, "Itu artinya kau akan menikahi seorang Raja, anakku." Ia menyentuh kepala Adara kecil.
"Tapi bulan itu berwarna merah, semerah darah. Apakah pangeran Zayan berwarna merah?" Adara tertawa senang.
Bayezid tersenyum mendengar celotehan putrinya, "Kau akan menjadi Ratu, Adara. Semoga aku masih hidup untuk melihat hal itu terjadi."
Adara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Senyuman tersimpul tipis di bibirnya.
"Adara, jika aku nanti menjadi Raja, kau yang menjadi permaisuriku." Pangeran Zayan kecil tersenyum. Ia baru berusia 9 tahun.
Adara tertawa gelak. Teman sepermainannya yang berusia 9 tahun melamar dirinya yang juga baru berusia 9 tahun. Mata zamrudnya memandangi Pangeran Zayan lekat-lekat.
Adara kecil tidak tahu kenapa ia sangat suka memandangi Pangeran Zayan. Jika Pangeran Zayan terseyum, setika membuat Adara juga ikut tersenyum. Lesung pipit di kedua pipi Pangeran Zayan membuat Adara betah berlama-lama menatapnya.
Sepasang manik Pangeran Zayan yang berwarna campuran abu-abu dan biru itu, terlihat sangat indah saat calon Raja itu sedang senang.
"Aku tidak mau." Adara menggeleng dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Pangeran Zayan-kecil heran.
"Aku pernah bermimpi memeluk bulan berwarna merah. Kata ayahku itu artinya aku akan menikahi seorang Raja. Aku tidak mau nanti kau berubah menjadi merah."
Pangeran Zayan tertawa sangat keras. Pun Adara juga ikut tertawa bersamanya.
Adara tersenyum mengingat kejadian itu. Sudah lama sekali ia tidak pernah lagi bertemu pangeran Zayan. Hari itu adalah pertemuan terakhir mereka.
Beberapa bulan setelah pertemuan terakhir mereka, Adara mendapatkan haid pertamanya. Bayezid-sang Ayah, melarang putrinya berinteraksi dengan teman bermainnya yang laki-laki, meski itu putra mahkota sekalipun. Adara selalu menutupi wajahnya dengan cadar saat ia keluar rumah.
Namun, sesekali Adara melihat Pangeran Zayan dari kejauhan saat ada acara negara di istana.
Kecantikan Adara dari hari ke hari semakin terlihat. Kabar kecantikan dirinya menyebar dari para pelayan dan teman-teman perempuannya, para anak-anak menteri. Sebab mereka bersekolah di istana, khusus sekolah para anak-anak bangsawan.
Namun, seberapa pun kabar itu berhembus kencang, tidak ada seorang lelaki pun yang pernah melihat wajah Adara secara langsung.
Salah seorang teman Adara melukiskan dirinya. Kecantikannya akan membuat alam semesta merasa iri. Lukisan itu membuat gempar penduduk negeri. Para pelukis mematri wajah Adara dalam ingatan mereka. Melukis ulang, lalu menjualnya.
Bayezid-ayah Adara berang, ia membeli lukisan wajah putrinya agar tidak tersebar, tetapi tentu saja tidak bisa semuanya karena banyak yang sudah menyebar hingga ke negara tetangga.
Lukisan wajah Adara dihargai sangat mahal. Dialah sosok perwujudan nyata sebuah keindahan. Sang Pencipta memberikan pendar cahaya di wajahnya. Siapa pun yang melihatnya akan lupa di mana dirinya berada. Lupa segalanya.
Adara kembali merebahkan diri di kasur. Mencoba memejamkan mata. Mencoba untuk tidur meski ia tahu itu tidak akan mungkin.
***
Dameshia terdiam di tempatnya saat melihat Adara termenung. Tatapan matanya kosong melihat dalam ke langit-langit. Rambutnya yang hitam kecoklatan dan sedikit bergelombang kusut masai.
"Tuan Putri Adara," sapa Dameshia lembut.
"Hmmm," jawab Adara dengan malas tanpa menolehkan wajah.
"Perdana Menteri Bayezid memanggilmu untuk makan malam bersama."
"Baiklah." Adara mengangguk lemah.
Dameshia mengangguk dan pergi dari kamar Adara.
Ia merapikan diri sekedarnya kemudian berjalan keluar dari paviliunya menuju ruang makan.
Adara melihat Ayah dan Ibunya duduk di meja makan. Tidak ada Kamayel-kakak lelakinya. Ia sangat merindukannya. Sang kakak sudah pergi selama sebulan.
Sang jenderal tertinggi kerajaan Amiera itu kini sedang pergi ke perbatasan bersama pasukannya untuk menyelesaikan misi, menghabisi para pemberontak yang membuat kekacauan.
"Ayah, Ibu," sapa Adara lembut menundukkan kepala seraya meletakkan telapak tangan ke dadanya yang sebelah kiri.
"Putriku," Bayezid tersenyum.
Adara menarik kursi lalu duduk dengan anggun.
"Adara, gurumu berkata, kau tidak fokus belajar akhir-akhir ini, dan sudah beberapa hari ini kau melewatkan jam belajarmu." Bayezid memperhatikan Adara. Wajah putrinya tampak pucat, "kau sakit?"
Adara mengangguk lemah, "Akhir-akhir ini aku sulit tidur, Ayah. Tubuhku terasa lemah," ia menyuap makanan dengan malas.
"Apa kau mencemaskan sesuatu?" Bayezid khawatir tentang keadaan putrinya.
"Tidak, Ayah." Adara menggeleng lemah sambil tersenyum hambar.
"Mungkin kau terlalu mencemaskan kedatangan pangeran Zayan?" Aylee tersenyum melihat ke arah suaminya, ia menggoda putrinya.
Adara tersenyum hambar, "Tidak, Ibu. Mengenai hal itu, apakah aku harus menikah secepatnya? Aku masih belum siap."
Aylee dan Bayezid saling melempar pandangan. Kebingungan terasa memukul-mukul keras kepala mereka. Pangeran Zayan adalah lelaki yang paling diimpi-impikan semua para gadis mana pun di negeri ini. Bagaimana bisa putri mereka justru terlihat enggan?
"Ada apa Adara? Kau punya pilihan lain? Apakah ada lelaki lain yang kau inginkan? Apakah ada lelaki yang lebih baik dari Pangeran Zayan?" tanya Bayezid seraya menatap dalam putrinya. Nada bicaranya sedikit tidak enak di dengar.
Adara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Wajah lelaki itu membayang di matanya.
Ia ingin bertemu dengannya. Adara ingin mengenalnya, tapi bagaimana bisa jika dirinya hanya bertemu di dalam mimpi saja? Sangat tidak masuk akal jika ia menolak perjodohan hanya karena seseorang di yang hadir di dalam mimpi.
"Tidak, Ayah. Aku hanya belum siap." Adara menelan ludah.
"Adara, putriku. Pernikahan ini harus secepatnya dilaksanakan. Para menteri dan pejabat istana banyak yang memeluk keyakinan baru. Sekte sesat itu cepat sekali menyebar,” tekan Bayezid.
“Keyakinan sesat itu sama berbahayanya seperti pandemi. Pelan-pelan akan mematikan bangsa ini. Pernikahan dirimu dan pangeran Zayan akan memperkuat posisi Raja Emier dan keluarga kita juga tentunya. Raja membutuhkan dukungan kita dan juga kakakmu. Para tentara setia juga pasti akan memihak Raja jika kau dan pangeran Zayan menikah. Degan begitu, pertahanan negara akan semakin kuat. Para pejabat korup tidak akan berani macam-macam,” terang sang Perdana Menteri kepada putrinya.
“Aku khawatir jika pangeran Zayan menjadikan wanita lain sebagai permaisurinya, pelan-pelan para pejabat penganut ajaran sesat itu akan mempengaruhinya, merubahnya sehingga menghancurkan negeri,” ungkap Bayezid.
“Bagaimana mana bisa ajaran sesat kaum pemuja api itu memasuki negara kita,” gerutu ayah Adara itu sambil menggeleng kesal.
"Dari mana sebenarnya ajaran sesat itu berasal, suamiku?" tanya Aylee meminta penjelasan rinci kepada suaminya.
"Muncul tokoh baru di dalam Penganut Majusi. Dia mengajarkan kebebasan dan kedzaliman. " Bayezid berdecak kesal.
"Tidak ada larangan dalam hal bersenang-senang. Penganut ajaran itu bebas menginginkan wanita manapun untuk tidur bersama mereka. Bahkan Ratu mereka sendiri. Mereka memiliki assasin yang membunuh para penentangnya."
"Astagaaaa!" Aylee terpekik.
Bayezid memandangi istrinya, "Karena itu negeri ini harus diselamatkan. Ajaran sesat itu menggiurkan orang-orang untuk bergabung. Bahkan para pejabat juga sudah ada yang bergabung. Bagaimana nasib negara ini jika penyakit kesesatan itu sudah menyebar.”
"Adara …." Bayezid melihat putri dalam-dalam.
"Aku mengerti, Ayah. Kau telah mengajariku ilmu politik dengan sangat baik. Aku sangat paham Raja Emier dan Pangeran Zayan membutuhkan dukungan dari Kamayel kakakku dan tentu saja, dirimu juga. Aku sangat paham bahwa pernikahanku bukan pernikahan biasa,” ucap Adara dengan nada lembut kepada sang ayah.
“Lakukan saja yang terbaik, Ayah. Kapan rencana pernikahan itu akan dilangsungkan?" tanya Adara pasrah.
"Seminggu lagi pangeran Zayan akan datang melihatmu. Jika dia dia menyukaimu, pernikahan akan dilangsungkan secepatnya."
"Iya, Ayah." Adara mengangguk lemah.