Aku tak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan, rupanya menaiki motor sambil berpelukan berangkat ke sekolah seperti ini sangat romantic sekali. Billy sesekali menggenggam tanganku yang melingkar di perutnya, ia juga mengusapi pahaku, dan membenarkan rokku yang memang sedikit terangkat karena tertiup angin begitu aku dengannya harus terhenti saat melewati lampu merah. “sayang...” Begitu turun dari motornya, Billy langsung membuatku mendekat padanya untuk membuka tali pengait helm di kepalaku. Sambil sedikit menunduk dan memiringkah kepalanya, kini ia jadi sedang amat dekatku, membuatku jadi bisa mempehatikan garis wajah tampannya itu. Sepertinya aku benar-benar sedang sangat fall in love padanya. “udah...” Ucapnya, aku pikir di bukakan helm olehnya adalah satu momen kecil yang

