Erat kupeluk tubuh kurus itu, rasanya berat sekali meninggalkannya sendiri. Sedari kecil aku memang tidak pernah jauh dari Ibu, ini pertama kali aku pergi jauh darinya demi sebuah tujuan mulia. Meraih cita-cita. "Do'a-in Rayisa terus ya, Bu." Pintaku seraya mencium punggung tangannya, kami berdiri tepat di sebelah bis besar yang siap membawaku pergi dari kota tempatku dibesarkan memulai mengarungi samudra kehidupan yang aku sadar akan penuh tantangan. "Iya, nduk. Ibu pasti akan selalu do'a-in kamu. Kamu baik-baik ya ... Salam buat nak Aldo dan Mas Wahyu." Jawab Ibu lembut seraya mengelus kepalaku yang berbalut pasmina berwarna kuning gading. "Iya, Bu. Nanti Rayisa sampein." Jawabku. "Ayo, Mbak. Udah mau berangkat." Seru kondektur bis memanggilku. "Assalammualaikum, Bu.

