Ancaman

942 Kata
"Jadi ini yang kamu lakukan, kamu sengaja mengirim semua ini kepada Julia agar kami bertengkar iya." Sevan memotong ucapan mantan istrinya, seketika Nagita bungkam. *** Nagita menaruh kopi tersebut di atas meja lalu merebut ponselnya. "Memangnya kenapa, aku ingin kamu bercerai dengan wanita itu. Tidak rela aku melihatmu bahagia dengannya." Sevan mengusap wajahnya. "Aku tidak akan pernah melepaskan Julia, apa kamu lupa. Aku bisa seperti ini berkat Julia, dan apa kamu lupa. Dulu saat aku bangkrut kamu minggat entah ke mana, tapi setelah aku sukses kamu datang lagi. Aku benar-benar menyesal sudah .... " "Penyesalanmu sudah tidak ada gunanya lagi, Mas. Karena semuanya sudah terjadi," potong Nagita dengan cepat. "Kamu memang licik." Sevan menatap tajam mantan istrinya itu. Jika tidak ada Sera, sudah dipastikan keduanya akan bertengkar. Sevan benar-benar menyesal telah menghianati Julia, tidak seharusnya ia kembali menikmati madu dari wanita yang sudah jelas-jelas bukan istrinya. Namun semua itu terjadi karena ulah Nagita, wanita itu yang sudah menjebak Sevan. "Sudahlah, Mas. Untuk apa kamu mikirin dia, biarkan saja pergi. Lebih baik sekarang kita fokus untuk .... " "Itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan melepaskan Julia." Sevan memotong ucapan mantan istrinya itu. Nagita benar-benar sudah menguji kesabarannya. "Sera, papa pulang sekarang ya." Sevan mendekati putrinya yang tengah asyik bermain boneka. Seketika Sera menoleh ke arah ayahnya. "Kok pulang, Pa. Katanya mau nemenin Sera beli peralatan sekolah," ujarnya. Sevan terdiam sejenak mendengar permintaan putrinya itu. "Sekarang papa belum bisa, besok saja ya. Papa janji, besok papa jemput Sera ke seni." Sevan mencium kening putrinya, dengan raut wajah kecewa Sera mengijinkan ayahnya pulang. Setelah itu Sevan bangkit dan beranjak keluar dari rumah mantan istrinya. Lelaki itu segera masuk ke dalam mobilnya, lalu menyalakan mesinnya. Perlahan mobil melaju meninggalkan halaman rumah Nagita. Dalam perjalanan Sevan terus kepikiran atas ulah Nagita. Jika saja mantan istrinya tidak berbuat ulah seperti itu, mungkin saat ini Julia masih berada di sampingnya. Tiba-tiba saja Sevan teringat jika seminggu lagi Julia mengadakan acara empat bulanan. "Julia, kamu di mana." Sevan bergumam. Sevan hampir saja kehabisan akal untuk mencari keberadaan istrinya itu. Sebelum pulang ke rumah ibunya, Sevan sempatkan diri untuk mencari keberadaan istrinya. Lelaki itu mulai mendatangi beberapa tempat yang sering Julia kunjungi. Namun usahanya tidak membuahkan hasil, istrinya pergi dan hilang bak ditelan bumi. "Sudah jam tujuh, lebih baik aku pulang sekarang saja." Sevan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Sevan memutuskan untuk pulang, karena hari semakin gelap. Untuk usahanya mencari istrinya, bisa Sevan lanjutkan besok. Namun Sevan sudah berjanji untuk menemani putrinya pergi. *** Hari telah berganti, pagi ini Julia bangun lebih awal. Ia baru teringat jika hari ini adalah jadwalnya untuk ke dokter. Sekarang Julia harus datang sendiri, sudah dua kali ia pergi ke dokter sendirian tanpa ditemani oleh suaminya. Karena setiap kali Julia meminta suaminya untuk menemaninya, Sevan selalu beralasan akan pergi dengan Sera. Agar tidak terjadi perdebatan, Julia memilih untuk mengalah, karena ia tidak ingin bertengkar. "Tiga kali ini aku pergi ke dokter tanpa ditemani oleh suami. Dan mungkin untuk seterusnya, sampai anak yang aku kandung lahir." Julia mengusap perutnya yang mulai terasa membuncit. "Sabar ya, Nak. Kita pasti bisa melewati semua ini," gumamnya. Setelah itu Julia memutuskan untuk membuat sarapan terlebih dahulu, sebelum ia pergi ke rumah sakit. Di lain tempat, Sevan baru saja selesai mandi, lelaki itu langsung memakai pakaiannya. Tiba-tiba Sevan teringat untuk mencari istrinya di rumah lama mereka sebelum pindah. Sevan percaya jika istrinya pasti ada di sana. Selesai berpakaian, Sevan bergegas turun ke bawah untuk sarapan terlebih dahulu. Terlihat jika ibunya tengah menyiapkan makanan, Sevan berjalan menuju meja makan, lalu menarik kursi untuk duduk. Jujur, Sevan sangat rindu dengan masakan istrinya. "Sevan, bukankah seminggu lagi acara empat bulanan Julia ya." Nita buka suara, seketika Sevan menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengambil nasi. "Iya, Ma. Itu sebabnya sebelum acara itu, Sevan harus bisa menemukan Julia," sahut Sevan. Lalu ia kembali melanjutkan untuk mengambil nasi. Kini mereka tengah menyantap sarapan bersama, namun tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi. Dengan terpaksa Nita bangkit dan beranjak menuju ruang tamu. Setibanya di sana, Nita segera membukakan pintu. "Mbak Sinta." Nita cukup terkejut ketika melihat besannya sudah berdiri di depan pintu. "Maaf mengganggu, apa Sevan ada di sini?" tanya Sinta. Nita kembali terkejut mendengar pertanyaan dari besannya itu. Namun tidak mungkin ia berbohong. "Ada, mari silahkan masuk. Sebentar ya, saya panggilkan dulu." Nita beranjak masuk ke dalam untuk memanggil putranya. Sedangkan Sinta memilih untuk menunggu di ruang tamu. Sepuluh menit kemudian Sevan keluar, awalnya ia tidak mau. Namun ibunya terus memaksa, kedatangan ibu mertuanya pasti ada sangkut pautnya dengan Julia. Pikiran Sevan benar-benar sudah kacau, otaknya terasa berhenti, tanpa bisa memikirkan sebuah rencana. "Pagi, Ma." Sevan berjalan menghampiri ibu mertuanya, tak lupa ia juga mencium punggung tangannya. Sinta tersenyum, lalu menyuruh menantunya untuk duduk. "Sevan, kedatangan mama ke sini untuk menanyakan Julia. Ada dia bersamamu, soalnya mama ke rumah tidak ada, malah rumahnya sudah dijual. Bukankah itu rumah impian kalian, kenapa sampai dijual, apa kalian bertengkar." Lidah Sevan terasa kelu saat mendengar penuturan ibu mertuanya itu. Sevan benar-benar bingung harus menjawab apa, haruskan ia jujur. Namun jika itu sampai terjadi, ia tidak tahu apakah ibu mertuanya akan memaafkan kesalahannya atau tidak. "Sevan, kenapa diam." Sinta menatap netra hitam milik menantunya itu. "Julia, sebenarnya kamu pergi ke mana. Jika kamu pergi hanya untuk menghindariku, seharusnya Mama tahu keberadaan kamu. Tapi ini ... mama sampai datang ke sini untuk mencarimu." Sevan membatin. Antara jujur atau tetap berbohong. "Ingat, jika sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadap Julia. Saya tidak segan-segan untuk menjebloskan kamu ke dalam penjara, mengerti." Ancaman yang Sinta berikan cukup membuat Sevan mati berdiri. Bukan hanya Sevan, tetapi juga dengan Nita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN