Bab 5 || Pelukannya membuatku terasa nyaman ||

1092 Kata
  ----- Gue heran sama Jaemin, semenjak waktu itu kita latihan adegan drama kemarin, besoknya di sekolah malah biasa aja malah ga ngerasain apa-sementara gue masih deg-deg'an sampe sekarang: ') gatau ga ilang-ilang. "Eh Ra liat pr matematika dong," kata Jeno. "Tapi lo harus traktir gue seblak kang Maman ya." "Si anjir ada maunya, suka rela harusnya." "Ya udah sih ya, ntar kalau terapkan bodo amat ah gue mah." "Eh iya-iya ntar gue traktir ya sekalian sama kang Maman nya gue borong sekalian biar lo kenyang," ucap Jeno lalu gue pun memberikan buku matematika gue ke Jeno. Karna gue termasuk anak pinter dan rajin jadi pr gue kerjain sebelum gurunya nugasin, keren kan gue? saking pinternya eum nggak gue bercanda oke cuma bercanda haha. Jeno pun selesai menyalin pr gue namun guru matematika nya ga masuk. Anjir tau gitu gue ga usah nyalin pr, gerutu Jeno kesal sambil membanting buku tulisnya tersebut. "Makannya kaya gue dong punya buku tulisnya aja ngga," ucap Jisung dengan santai. "Terus ntar lo belajar gimana Maemunah?" Tanya Chenle. "Ya tinggal buka mata batin buat ngeliat jawaban Ara sama Renjun haha," tawanya. "Wah Ra minta dijual nih kayaknya." "Yuk dah jual terus kita kasih si Jisung buat dijadiin makanan ikan hiu." Bercanda elah Ra, Ren. "Tau ah bodo amat Jisung." "Mampus hahaha," tawa Haechan. "Udah ah gue mau keliling sekolah lagian gurunya ga masuk kan," ucap gue lalu pergi ninggalin mereka berlima. "Ehh Ra sendiri aja?" Tanya Renjun. "Ditemenin ga?" Tanya Haechan. "Iya mending bareng kita aja sini Ra," tambah Chenle. "Gak ah gue mau jalan sendiri," balas gue lalu gue pun pergi meninggalkan kelas. Kalau nanya Jaemin kemana, dia lagi ke perpus biasalah sukanya ngabisin waktu sendiri di perpus, tau tuh ngapain palingan juga baca buku atau ga belajar. Dan karna gurunya ga masuk jadi gue gabut dan gue memutuskan untuk berkeliling sambil berburu para cogan di sekolah ini kan lumaya ehe. Tujuan pertama gue yaitu ke lapangan basket, dan kebetulan di sana lagi ada tanding basket gatau deh siapa siapa. Gue pun memutuskan untuk duduk di bangku sambil ngeliatin yang lagi tanding basket. "Ehh kek nya kenal gue sama mukanya," ucap gue sembari memperhatikan satu pemain yang lagi megangin bola. "Huanjirr itu kan si mas-mas yang waktu itu, MAS EH KAK JEFFREY," panggil gue sambil melambaikan tangan. Kak Jeffrey ngeliat ke arah gue sambil ikut melambaikan tangan juga. Ganteng amat dah kak Jaehyun duh ga kuat gue. Pertandingan basket dimulai pandangan gue terfokus ke satu orang aja, yap yaitu kak Jeffrey ntah kenapa pandangan gue susah untuk berpindah pandangan. Pertandingan permainan selesai dan kak Jeffrey langsung nyamperin gue yang lagi duduk di kursi. "Kakak keren banget tadi bisa masukin banyak bola ke ring," kata gue sambil bertepuk tangan. "Ahaha udah biasa itu mah, btw lo sekolah di sini ternyata Ra?" Tanya Jeffrey. "Iya nih kak hehe tapi kok kakak bisa di sini?" "Gue emang ikut eskul basket terus kampus gue di suruh tanding ngelawan sekolah lo jadi ya gue tanding di sini." "Ini kak minum pasti kakak capek," sambil memberikan satu buah botol minuman di tangan gue yang baru gue beli tadi di kantin. "Makasih ya, selain cantik lo juga ternyata." "Bisa aja lo kak haha," tawa gue. Setelah selesai meneguk airnya Jeffrey pun menoleh kea rah gue dan gue sedikit terkejut melihat wajahnya sedari dekat, "Sabtu depan lo sibuk ga?" Tanyanya. "Ngga sih kak, emang kenapa?" "Besok mau jalan sama gue? Kebetulan gue lagi ga ada kegiatan besok," ajaknya. "Wah serius nih kak?" "Iya gimana?" "Emmm .. boleh boleh kak." "Ya udah besok gue jemput ya, sana belajar yang bener," ucapnya sambil mengacak-ngacak rambut gue, karna gue malu ditambah jantung gue yang detaknya udah ga karuan jadi gue langsung buru-buru pergi ke kelas. Besok ya jangan lupa, teriak Jaehyun sambil melambaikan ke gue. ----- Baru aja gue nyampe di rumah dan lagi asik rebahan tiba-tiba ada panggilan masuk dari Jeno. "Lah tumben nelfon gue mau ngapain?" Tanya gue begitu melihat panggilan masuk dari Jeno. "Lah tumben amat si Jenong nelfon gue?" Tanya gue begitu melihat panggilan masuk dari Jeno. --------------------------- Brahamana Jeno Ardonio is calling Reject || Accept 'Apaan?' 'Halo Ra!' 'Apaan sih Jen? Mau traktir seblak? ' 'Makan mulu lo pikirannya' 'Habis?' 'Itu hp Jaemin ada di tas lo' 'Hah ?! kok bisa? ' 'Iya gue lupa tadi nyembunyiin di tas lo ' 'Ishh dasar lo mah terus gimana? ' 'Tenang Jaemin lagi ke rumah lo' 'Emangnya dia tau?' 'Udah gue kasih tau haha' 'Ishh Jeno nyebelin lo' 'Haha ya kan gue lupa Ra kalau gitu dah gue matiin telfonnya ' --------------------------- "Hah? kok bisa ada di tas gue? "gue pun langsung memastikan pesan dari Jeno barusan dan benar saja ponselnya Jaemin ada di dalam tas gue. Tidak lama kemudian gue mendengar kakak gue yang teriak "Adek woy adek," panggilnya. "Apaan sih kak?" "Tuh ada cowok nyariin lo di bawah. Buruan kesini OIII OIII JKT EMPAT DELAPAN." Biasalah punya kakak fanboy ya gini. Gue pun keluar dari kamar lalu turun ke lantai bawah. Gue ngelirik ke kamar kak Yuta yang pintunya kebuka. Ternyata kak Yuta lagi nyanyi lagu diva kayangan, sambil megang botol minum yang dijadiin mic . Kini abang telah pergi Tinggalkanku sendiri  Aku tak dicocol lagi "Haduh kenapa kelakuan kakak gue kaya gini?" Lalu gue pun pergi menuju pintu depan. Gue pun membuka pintu depan dan melihat Jaemin lagi berdiri tepat di depan pintu rumah gue. Ternyata bener dong dia kesini, ish Jeno nyebelin emang. "Jae-jaemin? "Jaemin menatap ke arah gue sebentar, dan melangkahkan kakinya untuk mendekat. "Ah iya kata Jeno hp lo ada di tas gue ya? Haha si Jeno mah emang tampang-tampang minta digaplok (dipukul), nih hp lo," gue langsung ngasihin hp nya yang udah gue pegang. Lalu Jaemin pun mengambilnya dari tangan gue, tiba-tiba aja gue keinget kejadian waktu itu di mana Jaemin nyium gue, seketika kedua pipi gue menghangat. Jaemin semakin mendekat ke arah gue yang lalu ditempelkankan untuk menempatkan ke dahi gue, anjir ga baik untuk jantung gue. Dan ga ada api ga ada udara tiba-tiba kakak keluar gitu aja dengan terburu-buru dan tidak sengaja nabrak badan gue alhasil badan gue terdorong dan jatuh kepelukan Jaemin untuk beberapa detik, rasanya kenapa nyaman banget ya ada di pelukannya? Lalu Jaemin pun melepas pelukannya, ia menatap gue sewaktu-waktu dan pergi begitu saja tanpa ucapan sepatah katapun. "Lah ngambek dia? Kan gue ga sengaja tadi ishh kak Yuta sih nyebelin." "Tapi dia emang gamau ngomong sama gue gitu? Atau sekedar bilang terimakasih kek." ----- Udah Bab 5 dan belum ada percakapan antara Ara dan Jaemin, Ara mah sabar aja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN