-----
Hari ini gue lagi nyari-nyari Jaemin soalnya gue penasaran banget kemarin Jaemin mau ngapain nge chat gue. Udah setengah jam gue nyari dia tapi ga ketemu-temu serasa lagi main petak umpet sama hantu ya gabakal keliatan mau dicari sampai ujung Antartika juga.
"Heh lo nyari siapa sih?"tanya Joy penasaran.
"Nyari jodoh ga ketemu-temu,"jawab gue sembari membuka tutup tong sampah lalu menutupnya kembali.
"Iyalah pe'a ngapain nyari jodoh ditempat sampah,"ucap Joy sambil memutar matanya karena bingung dengan kelakuan temannya itu.
"Ya siapa tau ada."
"Nih ya Ra lo tau gue punya temen cuman waktu dia masih dibentuk eh isi otaknya malah dibanyakin kebodohan makannya tuh anak nyari orang sampai tempat sampah pun di geledahin."
"Sialan lo udah ah gue mau pergi,"sebelum melangkahkan kaki, gue berbalik dan menjitak kepala Joy lalu ia pun meringis dan gue pun segera pergi meninggalkan Joy yang lagi mengusap kepalanya.
Sesampainya di kantin gue ngeliat Jisung, Chenle, Renjun lagi pada ngobrol sambil makan kupat tahu, dan mereka juga kebetulan ngeliat gue. "Woy Ra,"panggil Jisung dan gue langsung noleh ke arah mereka.
"Apaan?"
"Lagi ngapain dah?"
"Mending sini Ra makan bareng kita,"ajak Chenle.
"Gue lagi sibuk ma-"belum sempet gue ngelanjutin perkataan gue eh Renjun udah narik tangan gue aja dan gue disuruh duduk sama mereka bertiga. Gue duduk di samping Renjun sementara Chenle dan Jisung duduk di berhadapan dengan gue dan Renjun.
"Udah makan dulu,"kata Jisung.
"Iya bener ntar lo kelaperan lagi,"tambah Chenle.
"Sayang makan ya, apa mau gue suapin,"kata Jisung.
"Ehh gapapa ih ga usah udah kalian aja yang makan, gue haus hehe minta minum dong boleh ga?"tanya gue lalu Renjun langsung memberikan gelasnya pada gue dan gue segera meneguk air jeruk dari gelas itu. Setelah selesai seketika gue terdiam, tunggu gue minum di gelas yang Renjun pake itu artinya secara ga langsung terjadi indirect kiss antara gue sama Renjun?
"Loh kenapa Ra?"tanya Jisung.
"Mau gue beliin jus jeruk lagi?"tambah Chenle.
"Ah ngga kok bukan gitu tap-"
"Karna gelas itu bekas gue ya? hahaha,"tawa Renjun.
"Ehh itu kan artinya lo ciuman ga langsung sama Ara, dasar ya lo mengambil kesempatan,"ucap Chenle.
"Ishh kalian kenapa sih eum gue mau pergi dulu ya please ini mah penting bye,"gue kembali melanjutkan perjalanan gue untuk mencari Jaemin.
Ada satu tempat yang belum gue cari ke sana apalagi kalau bukan atap sekolah dan gue pun pergi menuju lantai teratas sekolah ini dan kebetulan pintunya sedang tidak di kunci karna biasanya pintu menuju atap sekolah selalu dikunci oleh penjaga sekolah. Gue pun langsung membuka pintu itu dan segera masuk menuju atap sekolah sesekali gue menghirup udara yang terasa sangat segar, dan berjalan mendekat menuju pagar pembatas yang tak terlalu tinggi ya cukup untuk pijakan tangan.
"Jaem lo di mana?"tanya gue sembari menatap ke langit-langit yang kebetulan bewarna biru cerah dihiasi oleh gumpalan awan bewarna putih dan sesekali terlihat beberapa burung yang beterbangan, tidak lama gue mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah gue.
Dan gue pun menoleh ke belakang, dan bener aja langkah kaki itu milik seseorang yang sedari tadi gue cari. Gue sedikit terkejut karena melihat Jaemin yang tiba-tiba datang kemari apakah ini kebetulan atau ia memang sengaja datang? Gue pun berbalik mensejajarkan tubuh gue dengan Jaemin kita berdua saling memandang satu sama lain dan debaran itu mulai terjadi lagi pada jantung gue. Melihat wajah Jaemin sedekat ini, gue baru menyadari jika Jaemin sudah tumbuh lebih dewasa garis rahangnya terlihat tegas, kedua bola mata yang bewarna cokelat kehitaman serta rambut hitam yang kini sudah sedikit panjang disisir ke arah samping memperlihatkan jidatnya yang membuat dia terlihat seperti sosok ice prince yang sebenarnya.
"..."
"Oh iya kemaren lo nge chat gue ya? kira-kira ada perlu apa Jaem?"tanya gue membuka percakapan di antara kita berdua sambil membuang pandangan ke arah lain tanpa menatap wajahnya.
"Ah iya pasti kepencet doang kan? ga mungkin lo tiba-tiba nge chat gue haha,"lanjut gue setelah jeda beberapa saat karena Jaemin sama sekali tidak bicara.
"..."
"Tau gak Jaem? sebenernya banyak hal yang selalu membuat gue penasaran tentang lo dan sampai di akhir semester aja lo belum pernah bicara sama gue bahkan sama murid lain pun terkecuali temen deket lo."
"Apa alasan lo kaya gitu Jaem? Tapi di saat lo lagi bareng temen-temen lo, malah lo biasa aja bicara dan tertawa dengan mereka. Apa menurut lo gue aneh karena gue juga ingin bisa bicara dan tertawa bareng lo?"
"...."
"Eh maaf gue jadi ngaco gini ngomong nya haha ya udah lupain aja ya pokoknya emm kalau ga ada yang mau lo omongin lebih baik gue pergi aja kalau gitu ya Jaem,"pamit gue baru aja gue mau pergi ninggalin tempat ini, gue merasa ada sebuah tangan yang menahan lengan kanan gue. Gue pun menatap wajah Jaemin bingung.
Dan jantung gue seperti biasa setiap di dekat Jaemin selalu berdetak tak karuan. "Ke-kenapa Jaem?"tanya gue gugup. Dan lagi-lagi Jaemin cuman natap gue doang. "Jaem kalau ga ada hal penting mending gue balik ke kelas."
"Gu-"belum sempet Jaemin ngelanjutin kata-kata nya eh udah dipotong gitu aja oleh seseorang.
"ARA!"panggil Mark dari kejauhan.
Yang tadinya Jaemin nahan lengan gue, dia lepas gitu aja begitu Mark tiba-tiba manggil gue dari pintu, Mark nyamperin gue dan langsung narik lengan gue dan membawa gue pergi dari sini. Sementara Jaemin hanya terdiam menatap kedua murid itu pergi.
"Eh Ma-mark tunggu dulu."
"Ra ini darurat Ra,"kata Mark.
Mark membawa gue masuk ke dalam kelas, gue sih jadi kesel aja padahal tadi Jaemin baru mau bilang sesuatu ke gue eh belum dilanjutin perkataanya Mark tiba-tiba manggil gue dan ngebawa gue pergi gitu aja.
"Ada apa sih Mark?"
"Euh an-anu tad-tadi-"
"Mark?!"
"Emm gapapa sih gue cuman pengen ketemu lo doang,"jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang membuat gue merasa kesal dengan alasan yang omong kosong itu.
"Apa?! kenapa sih? lo nyebelin,"karna gue merasa kesal pada Mark alhasil gue pun pergi meninggalkannya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
"Tapi gue beneran penasaran sama Jaemin, dia mau bilang apa sih tadi? Plis jangan buat gue penasaran dong, apa gue chat aja ya? eh tapi kalau gue chat pasti ga akan dibales sih, ya udah deh gue tanyain aja besok langsung ke dia."
-----
Keesokan harinya kebetulan kelas masih sepi dan gue hanya melihat Jaemin yang sedang duduk dibangkunya sambil membawa sebuah buku yang tak lain adalah buku fisika untuk pelajaran pagi ini. Gue pun duduk di bangku depan mejanya dan berbalik menatap Jaemin sambil memperhatikan pemuda itu yang tampak serius.
"Pagi Jaem?"sapa gue tetapi Jaemin tidak memperhatikan gue sama sekali ia masih sibuk dengan buku bacaanya.
"Jaemin, gak baik loh ada orang lagi ngajak ngobrol tapi malah dicuekin,"lanjut gue dan tiba-tiba saja gue mendengar suara bel masuk dan begitu bel berbunyi banyak murid yang masuk ke dalam kelas alhasil gue harus kembali ke tempat duduk gue karena sedari tadi Jaemin pun mengabaikan kehadiran gue.
Dan tidak lama Pak Abdul masuk ke dalam kelas. "Kumpulkan tugas yang saya tugasin minggu kemarin." gue sempet mikir sebentar. Emang ada tugas ya?
"Jen,"gue manggil Jeno yang duduk di depan gue.
"Hmm?"dehem Jeno sambil menoleh ke arah gue.
"Emang ada tugas ya?"tanya gue bingung dan Jeno pun terlihat terkejut. "Hah?! lo gatau emang Ra?"
"Jadi beneran ada tugas?"
"Ada Ra jangan bilang lo lupa."
"Heheh lupa gue Jen."
"Kenapa ga nanya ke gue Ra? atau ke yang lain kan gue bisa kasih liat jawabnya ke lo."
"Gue kan gatau Jen."
"Cepat kumpulkan sekarang juga kalau tidak ada yang mengumpulkan berdiri di luar kelas sampai jam pelajaran saya selesai,"kata Pak Abdul dengan tegas.
"Ahh Jen gimana dong mana tugasnya fisika lagi haduh,"ucap gue panik. Ngeliat gue yang panik sambil megangin tangan Jeno, Renjun yang duduk di samping Jeno noleh ke arah gue.
"Kenapa Ra? lo belum ngerjain?"tanya Renjun.
"Lupa katanya, terus gimana?"
"Ahh gue takut, mana gue sendiri lagi."
"Kalau ngerjain sekarang ga akan sempet karena lo tau sendiri jawabannya panjang-panjang, gue temenin mau? Atau gue bantu cari alasan lain?"tanya Renjun.
"Eung ga usah kok Ren gapapa."
"Cepat kumpulkan!!"
"Ya udah gue ga akan ngumpulin, mau nemenin lo aja,"kata Jeno.
"Eh udah gapapa Jen gak usah, lagian kan ini salah gue hehe. Udah sana kumpulin aja tugas nya buruan."
"Ra-"
"Gapapa kok beneran."
Gue ga enak dong kalau misalnya Jeno ikut ga ngumpulin padahal kan dia ngerjain, ini sih emang salah gue yang ga inget sama tugas nya Pak Abdul. Gue terlalu mikirin Jaemin kemarin malem. "Yang tidak mengumpulkan cepat berdiri di luar kelas!" Gue pun beranjak dari bangku dan segera pergi keluar kelas.
"Loh kok Ara keluar?"tanya Jisung. "Lah iya kenapa?"tambah Chenle. "Belum ngerjain?"tanya Mark.
"Iya dia lupa belum ngerjain tugas."jelas Renjun.
"Yah Ara tau gitu gue mending ikut nemenin deh,"kata Jisung. Gue pun keluar dari kelas dan ternyata cuman gue doang yang belum ngerjain tugas.
Setelah keluar dari kelas gue berdiri di koridor, tidak lama pintu kelas terbuka. Gue terkejut saat melihat Jaemin yang keluar dari kelas terus dia ikut berdiri di samping gue. Loh kok tumben banget ini Jaemin ga ngerjain tugas? padahal kan dia rajin mana tadi kan sempet buka buku fisika.
"Lo belum ngerjain tugas Jaem? tapi ga mungkin deh kalau belum soalnya kan lo rajin banget,"kata gue tapi Jaemin cuman diem dan ga ngejawab apa-apa.
Sebenarnya saat Ara berjalan keluar kelas, Jaemin sempat melirik ke arah Ara lalu ia pun menaruh buku tugas yang ia pegang tadi di laci bawah meja lalu pergi menyusul Ara diam-diam. Ntah apa yang ada di dalam pikirannya padahal ia sudah mengerjakan tugasnya tapi lebih memilih untuk menemani gadis itu dihukum.
-----