Dipo Kembali

1053 Kata
POV Mayra Sudah setengah jam perjalanan, tapi Om Fandi masih saja diam. Tak berbicara apapun. Mungkinkah Om Fandi keberatan dengan permintaan bapak? Aku merasa tak tahu diri. Sudah diselamatkan oleh Om Fandi, tapi bapak malah membuat permintaan yang berat padanya. Aku tau, Om Fandi sedang mengusahakan hal terbaik untukku, untuknya dan untuk Dipo tanpa ada yang terlukai. Tapi mustahil. Situasi sulit ini benar-benar menjadikan aku dengan om Fandi seperti boneka mainannya Dipo. Awas saja. Kalau Dipo kembali, akan aku buat perhitungan padanya. "Om," panggilanku membuatnya menoleh. "Ada apa, May?" "Om marah sama Mayra?" Om Fandi malah tertawa lepas. "Kenapa bilang begitu?" "Dari tadi diam saja. Apa Om Fandi keberatan dengan permintaan bapak?" "Om nggak bisa nyetir sambil ngobrol, May. Takut nggak bisa fokus, nanti bikin kita celaka." "Oh!" Aku jadi sedikit lega mendengar jawabannya. "Masalah perbincangan dengan bapak tadi pagi, kita bicarakan di rumah saja." Om Fandi tiba-tiba berucap. "Iya, Om." Kami kembali terdiam. Om Fandi memang terlihat fokus ke arah jalan. Perasaanku lebih lega sekarang. Diam-diam, aku memperhatikan lelaki yang kini menyandang status sebagai suamiku. Tangannya terlihat kokoh mencengkeram stir kemudi. d**a bidang, rahang kokoh, pipinputih bersih, tak ada satupun jerawat yang bertengger di sana. Menduda selama sepuluh tahun, aku jadi penasaran sosok wanita yang membuat om Fandi patah hati hingga harus selama itu betah menyendiri. Pernah mendengar cerita dari ibu, kalau Om Fandi di jodohkan dengan seorang wanita kaya. Anak dari sahabat papanya Om Fandi. Pernikahan mereka berjalan selama empat tahun. Kabarnya, mereka berpisah karena wanita itu tidak bisa mencintai Om Fandi. Mereka memutuskan berpisah secara baik-baik. Dengar-dengar juga, Om Fandi menjadi trauma pasca perceraian itu, karena sudah terlanjur mencintai mantan istrinya. Kasihan Om Fandi. Pria setampan dan sekaya ini di masih belum bisa move on juga. "Sudah sampai, May." Ucapan Om Fandi membuatku terkejut. Tiba-tiba mobil yang kami kendarai sudah berhenti di depan rumah mewah, rumah Om Fandi. Aku pernah datang ke sini, empat tahun lalu bersama bapak. "Pakaiannya biar dibawakan sama pembantu saja," titah Om Fandi. Aku menurut saja, menuruni mobil dan mengikuti langkah Om Fandi memasuki rumah. Di depan pintu, seorang pembantu menyambut kami. "Pak Fandi sudah pulang? Ada Aden di dalam," pembantu itu memberi tahu. "Aden?" Om Fandi juga terkejut. Aden? Siapa yang di maksud pembantu itu? Om Fandi menoleh ke belakang, ke arahku. Kemudian meraih jemariku untuk digenggamnya. Om Fandi menarikku masuk ke dalam rumah. Tepat di ruang tamu, Om Fandi menghentikan langkahnya. Aku terperanjat melihat seorang lelaki yang duduk di sofa ruang tamu. Dipo? "Berani pulang kamu rupanya!" Om Fandi terlihat sangat marah. "Om, Mayra!" Dipo tak kalah terkejut melihat kedatanganku bersama Om Fandi. "A-aku bisa jelaskan, Om!" Dipo berdiri dari posisi duduknya, kemudian berusaha mendekati om Fandi. "Bre****k!!" Terlambat. Om Fandi melepaskan tanganku dan bergerak lebih cepat mendekat Dipo dan .... Bukk! Sebuah pukulan mendarat sempurna di pipi kiri keponakannya. Dipo terhuyung dan jatuh ke sofa di belakang. Aku memekik melihat kejadian ini. Darah segar keluar dari sudut bibir Dipo. Ia berusaha bangkit, tetapi Om Fandi segera meraih kerah baju milik Dipo. Tangannya mengepal dan siap melayang ke arah Dipo. "Jangan, Om!" Aku berteriak sambil memegangi tangan yang siap mendarat itu. "Sudah, Om." Aku menarik lengan Om Fandi. "Kamu membelanya, May?" ucap Om Fandi. Aku terkejut mendengarnya. "Nggak, Om. Untuk apa membela lelaki pengecut." Mataku nyalang menatap Dipo yang masih sibuk memegangi pipi dan membersihkan darah di bibirnya. "May, aku bisa menjelaskan." Dipo berusaha duduk dengan benar. "Apa yang ingin kamu jelaskan padaku? Semuanya sudah terlambat, Dipo." "May, setidaknya dengarkan penjelasanku." "Jelaskan sekarang! Dan jangan berbelit-belit." Om Fandi hendak mendekati Dipo tapi kucegah dengan menarik tangannya. Aku takut jika om Fandi kembali memukul Dipo. "Om," aku hendak protes, karena percuma mendengar penjelasan Dipo. Terlambat bagiku. "Biarkan dia berbicara Setelah itu, biar dia pergi." Aku mengangguk paham. Mendorong pelan tubuh om Fandi agar bersama-sama duduk mendengarkan menjelaskan Dipo. Om Fandi menurut, dan akupun duduk di sisinya. "May, maafkan aku. Sebenarnya aku belum siap. Aku takut tidak bisa menghidupimu. Aku lari bukan berarti membencimu. Aku mencintaimu, May." Penuturan Dipo terasa panas di telingaku. Dadaku seperti mendidih. Tanpa sadar, pipiku sudah basah. "Cinta katamu? Kalau cinta, kamu tak akan mungkin membuat malu keluargaku, Dipo. Kamu sudah keterlaluan!" Aku berteriak dengan emosi. Om Fandi mengelus punggungku. "Aku akan menemui bapak." "Untuk apa? Untuk membuat rasa kecewanya semakin dalam, iya? Hah?" "Aku akan menikahimu, May. Aku baru sadar kalau aku benar-benar mencintaimu." "Terlambat, Dipo!" "Aku akan datang ke sana, May. Om, tolong antarkan aku menemui bapak." Dipo bangun, mendekati om Fandi. Aku masih tercekat mendengar ucapan Dipo. Om Fandi pun tidak bisa berbicara apa-apa lagi. "Om, tolong-" "Cukup, Dipo. Jangan memelas. Kamu laki-laki, seharusnya kamu katakan sebelumnya jika kamu belum siap. Bukan malah melarikan diri lalu meninggalkan Mayra sendirian menanggung malu." "Aku akan menebus kesalahanku, Om. Aku akan menikahinya." "Tidak bisa." "Kenapa, Om? Om Fandi mendekap pundakku. Dipo memperhatikan dengan tatapan curiga. "Kalian?" "Om, yang menggantikan posisimu. Jadi, pergilah dari sini. Mayra sudah menjadi Tante kamu sekarang." Om Fandi menjelaskan dengan gamblang. Tapi Dipo seperti tidak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak mungkin!" "Kenapa nggak mungkin. Lihat ini!" Om Dipo menunjukkan cincin di jari manisnya. "Ini cincin kamu yang membeli. Sekarang ada di jari Om." "Nggak mungkin. Ngomong, May!" Aku tak kuat lagi menahan sakit yang semakin menghimpit. Aku berlari ke belakang. Entah ke arah mana, sebelumnya aku tidak pernah masuk sampai bagian dalam rumah Om Fandi. Langkahku terhenti, kakiku terasa lemas. Aku berjalan gontai menuju sofa. Sepertinya ini di ruang tengah. Tubuhku semakin lemas, kuhempaskan pada sofa. Kepalaku terasa sakit, kehadiran Dipo dan pengakuannya baru saja membuat hatiku seperti di sayat-sayat. "Kenapa nasibku seburuk ini, Bu? Aku tak pernah menyakiti laki-laki, kenapa aku mendapat perlakuan seperti ini dari lelaki yang aku cintai." Aku tersedu. Menyandarkan kepala pada pinggiran sofa yang makin terasa berat. "May," suara Om Fandi mengagetkanku. Om Fandi berdiri di belakangku, tatapannya menyorot rasa khawatir. Aku bergerak bangkit dan menghambur ke pelukannya. Om Fandi membalas pelukanku. Tangannya membelai rambutnya dengan lembut. "Ada Om di sini. Kamu tak perlu menangis lelaki seperti dia." Om Fandi berusaha menenangkan aku. "Aku sakit, Om." "Om, paham. Biarkan Om mengobatinya." Aku mendongakkan kepala, mencoba mencari tau maksud dari ucapannya. Om Fandi tak juga berbicara, tangannya malah mengelus pipiku yang basah. Tatapannya lekat, seperti ingin menegaskan sesuatu. "Om akan menjagamu dan menjadikan kamu sebenar-benarnya istri." "Maksud Om Fandi?" "Om menyetujui permintaan bapak." Next
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN