Pagi hari yang cerah, Nida dan kawan-kawan sedang sibuk-sibuknya mengurus sesuatu, yaitu acara ulang tahun St. Mary.
Sang kepala sekolah, Maria mengadakan pentas drama untuk acara ultah tersebut. Dan ia memilih kelas 10-A dan 10-B untuk memerankan pentas drama.
Mereka memutuskan memerankan dongeng Cinderella.
Nida bertugas membuat naskah drama, itu karena dia yang paling kurang kerjaan. Semua orang membujuk Maria untuk ikut memerankan drama. Maria pun setuju.
Di lain pihak, Nida entah kenapa terlihat canggung ketika berhadapan dengan Maria. Ia selalu menghindar dan tak fokus, persis seperti anak kecil yang menyembunyikan sesuatu. Apa pun itu, ada hal misterius yang terjadi di antara keduanya.
Namun Maria di lain pihak, malah santai seolah tak tahu menahu.
Siswa siswi yang terpilih mengadakan pengundian untuk pembagian peran. Dan didapatlah hasil pengundian sebagai berikut :
Cinderella = Orchid
Pangeran Muda = Nida
Ibu tiri = Celine
Kakak tiri = Maria
Peri = Yuki
Raja = Adiw
Sisanya memerankan putri-putri dari kerajaan lain, pohon, dll.
…………
Setelah beberapa jam latihan....
Maria sepertinya kesulitan memerankan kakak tiri yang jahat. Walaupun begitu ia tetap berusaha. Wajahnya menunjukkan ekspresi marah, “Cinderella! Sapu lantainya lebih bersih dong! Dasar... dasar... hik... uuuu…” Maria tersedu, matanya berkaca-kaca, “A...aku gak tega..."
Orchid mengelus kepala Maria, “Tidak apa-apa kakak, sudah-sudah, jangan nangis, nyahahahahaha!"
Nida menghela napas, “Woi, dialognya bukan begitu!"
Di lain pihak, Yuki dan Adiw sedang ng’teh di sudut ruangan. Adiw menyeruput tehnya menonton teman-temannya latihan, “Yuki, kau tidak latihan?"
“Aku hanya perlu 20 detik untuk menghafal dialognya sebelum pentas,” Ia kembali membaca buku sains di tangan. “Kau sendiri?”
“Aku sedang libur. Maria mengajakku mengikuti acara ini.” Adiw lantas bertopang dagu memandang Maria, “Dia itu cocoknya jadi Cinderella..."
Sementara itu di depan kelas, para fans Yuki berteriak memanggil mereka. Ruangan itu sengaja dikunci dari dalam.
Celine berlatih dengan serius, sedangkan beberapa murid perempuan lain berlatih cara membungkukkan badan pada pangeran. Mereka berperan sebagai putri dari kerajaan lain
Orchid memandangi para pemeran drama yang sedang berlatih. Mulutnya menggumam pelan dengan wajah suntuk, “Gak asyik ah, ceritanya mending aku ubah,” gumamnya dengan senyum jahil di wajah. Ia sontak menoleh ke arah Nida, “Hey Nida!" serunya melambaikan tangan.
Nida yang sedang menghafal dialog pun menoleh, “Ya?"
“Kemarikan naskah dialognya!”
“Untuk?" tanya Nida keheranan, ia memberikannya tanpa sedikit pun rasa curiga.
Orchid menyilangkan lengan dan menyeringai, niat jahat memasuki pikirannya, “Semuanya akan kuubah, lihat saja! Di pentas nanti segala sesuatunya akan berubah Nyahahaha!" Ucapnya diselingi tawa menyeramkan.
Gadis berpakaian serba hitam itu mengacak-acak isi cerita pentas drama. Ia menulis dalam kecepatan super hingga bolpoinnya kebakaran.
...
Acara ulang tahun St. Mary pun dilaksanakan. Maria mengundang beberapa kepala sekolah lain untuk menonton pentas drama.
St. Mary terlihat sangat ramai. Tak lama setelah pembukaan, ruang pentas sudah dipenuhi banyak orang. Banyak juga yang berdiri karena tidak mendapat tempat.
Penonton terbanyak di sana adalah anggota fans club Yuki. Mereka bersorak-sorak meneriakkan nama idola mereka. Beberapa bahkan berkeliling di sekitar ruangan untuk menjual merchandise, berupa; T-Shirt, buku tulis, pin, dan tas bergambar Yuki.
Harus diakui itu lebay sekali.
Para pemeran drama bersiap-siap di belakang panggung. Beberapa saat kemudian lampu di ruangan itu dimatikan.
Ruang pentas menjadi gelap, tanda pentas telah di mulai.
Sang narator mulai berbicara, “Pada zaman dahulu, di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang gadis cantik bernama Cinderella. Karena ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan seorang perawan ting-ting, kenalan dari pusat kebugaran. Namun perawan itu selingkuh dengan orang lain dan akhirnya dibunuh oleh ayah Cinderella— Ayah Cinderella masuk penjara dan bertemu dengan perempuan lain, ia menyogok sipir penjara agar bisa keluar. Sosok perempuan baru itu adalah ibu dari kakak tiri salah satu teman di sekolah.”
“Oi... Settingan na ribet bener..” protes seseorang.
“Ahem..” sang narator membalik halaman narasinya, ”..akhirnya ayah Cinderella menikahi janda dengan dua anak perempuan. Tapi entah kenapa, ayah Cinderella pun meninggal..”
“Gak tanggung jawab banget, tahu-tahu sudah mati!” protes orang itu kembali.
Pletak!
Sesuatu menghantam kepala orang, membuatnya jatuh tersungkur. Lemparan Headshoot tepat mengenainya hingga pingsan. Petugas paramedis langsung memeriksa, mereka mendapati serpihan kapur terukir di bagian kening.
Penonton kembali mengalihkan perhatian pada panggung. Sementara sang Narator memasukkan sisa kapur tulis ke dalam saku. Ia kemudian lanjut membaca, “Sejak saat itu, ibu tiri dan kakak-kakak tiri Cinderella selalu memperlakukan Cinderella layaknya seorang pembantu.”
Plooshh!
Lampu sorot menyala dan menerangi ibu tiri yang diperankan Celine. Sementara itu kakak tiri jahat diperankan oleh Maria.
Mereka memakai gaun yang indah. Sang ibu tiri yang diperankan Celine berjalan sambil memegangi roknya yang panjang, ia berseru dengan nada marah,
“Cinderella! Di mana kamu?!"
Hening— tak ada jawaban selama beberapa saat.
“NYAAHAHAHAHAHAHAHAHAHA....!" suara tawa keras melengking dari balik panggung. Sontak saja mengagetkan semua orang.
Ibu tiri tersentak kaget (sungguhan), “Suara apa itu?!"
Lampu sorot kedua menyala di tengah-tengah panggung.
“Aku di sini ibunda, nyahahahaha...!"
Cinderella diperankan Orchid, ia memakai kostum maid compang-camping yang serba hitam, kuku-kukunya juga dicat berwarna hitam. Ia sedang duduk santai sambil nge’teh.
Ibu tiri berkacak pinggang, “Kenapa kamu malah duduk nyantai sambil ngeteh?! Cepat bersihkan ruang tamu! Sebentar lagi utusan kerajaan akan datang!"
“Nyahahahaha~ Nanti saja ibunda, aku sedang sibuk. Ayo, kakak, ikut ng’teh,"
Cinderella mengajak kakak tirinya untuk ng’teh bersama.
Para penonton menganga, sesuatu tersirat di pikiran mereka, “Hebat benar Cinderella satu ini..."
Maria duduk di samping Orchid untuk ng’teh.
Bel rumah pun berbunyi. Cinderella segera berjalan ke pintu masuk. Gadis itu mendapati kemunculan utusan kerajaan.
“Saya utusan kerajaan, datang untuk mengumumkan undangan pesta dansa."
Cinderella mendecapkan lidah, “Maaf, nanti saja kamu kembali, kami sedang sibuk. "
Bletakk
Cinderella dijitak ibu tiri hingga pingsan. Ia pun terburu-buru mempersilakan utusan kerajaan masuk.
Utusan kerajaan pun membacakan pengumuman yang dibuat atasannya, “Sang raja mengundang seluruh rakyat untuk datang ke pesta dansa malam ini pada pukul 8. Pesta dansa tersebut bertujuan untuk mencari gadis yang akan dinikahi oleh Pangeran. Beliau akan menikahi gadis yang ia pilih untuk diajak berdansa."
Setelah utusan kerajaan pergi, ibu tiri terburu-buru mempersiapkan segala sesuatu. Ia ingin meyakinkan anaknya siap untuk pesta dansa nanti malam.
“Cinderella! Cepat bantu kakakmu ini dandan!"
Cinderella baru sadar dari pingsannya, ia menggaruk-garuk kepala lalu menaikkan satu alisnya, “Hah? Untuk apa?"
“Ya tentu saja untuk membawa kakakmu ke pesta dansa nanti malam. Maria harus berpenampilan cantik dan anggun, agar Pangeran muda memilih dia mereka untuk diajak berdansa!"
Kakak tiri Cinderella terbelalak, “APAAA??!! Menikah dengan pangeran?! Hwaaaa! Gak mau!" Maria langsung memeluk Cinderella seraya berlinang air mata, “Aku gak mau berpisah dari Cinderella, aku sayang sama Cinderella."
Cinderella menepuk-nepuk pelan punggung kakak tirinya. Ia lalu memandang sang ibu dengan tatapan tak sedap, “Kalo ibunda mau pergi, pergi aja sendiri! Jangan ajak kakak!"
“A-a-apaan sih?! Kalo menikah dengan pangeran, kita akan kaya raya!"
Sang ibu tiri lalu menyeret anaknya pergi.
“Tidakkk! Cinderellaaaaa....!"
“Kakaaaaak..!"